Fikrah

Ta’liful Qulub untuk Wihdatul Ummah

...

Oleh: Imam Shamsi Ali

Walau Islam terus mengalami perkembangan, berkibar dan tegap tinggi, di sisi lain tak disangkal umat Islam sedang hidup dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Di negara-negara mayoritas Muslim, umat ini sedang teruji dan tercabik-cabik. Di Timur Tengah misalnya, negara-negara yang dahulu masuk dalam kategori makmur, jaya dan damai kini hidup dalam “neraka kecil” (thoomah shugra). Perang Irak, Suriah, Libya, bahkan sekarang ini krisis Yaman menjadi krisis terparah masa kini.

Bahkan dari dulu hingga kini ada upaya-upaya untuk memperluas “pengrusakan” jantung dunia Islam itu dengan cara cerdik dan halus. Manipulasi sumber daya alam dan kekuatan perekonomian dunia Islam. Intervensi politik hingga ke ragam upaya pendegradasian moral menjadi senjata licik dalam memporak porandakan dunia Islam itu.

Selain negara-negara Arab Muslim di Timur Tengah, ada dua negara Muslim non Arab Timur Tengah yang berpengaruh lainnya. Yaitu Iran dan Turki.

Iran sejak lama sudah dilakukan ragam upaya untuk “menjahannamkannya” dengan berbagai sanksi ekonomi dengan tuduhan pembangunan senjata nuklir. Iran dibombardir tuduhan sebagai negara teroris dan melindungi teroris.

Sejak terjadinya pergantian sistem di Turki sistem sekuler ala Attaturk ke sistem yang lebih Islami, Turki mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sejak itu pula Turki berusaha diobok-obok dengan ragam tuduhan, termasuk melindungi ISIS di bagian perbatasannya dengan Suriah.

Yang berbahaya saat ini adalah Turki dibujuk mengambil dua kota Suriah, kota Halab dan Idlib, dengan bayaran bertanggung jawab melawan ISIS. Tentu agar Amerika Serikat memilki justifikasi untuk keluar dari Suriah.

Ironisnya, yang akan dihadapi oleh Turki bukan ISIS. Tapi Suriah yang sepenuhnya didukung oleh Rusia. Ujung-ujungnya Turki dipaksa berhadapan dengan salah satu kekuatan militer dunia. Tujuannya? Pelemahan Turki yang jelas menjadi satu-satunya kekuatan ekonomi, anggota NATO, kekuatan militer terkuat kelima dunia saat ini.

Di Asia jelas ada Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dunia. Dengan kekayaan alam dan kebenaran wilayah dan SDM Indonesia berpotensi menjadi kekuatan dunia Islam alternatif.

Masalahnya Indonesia sedang dalam keadaan gamang. Indonesia pada galibnya hanya mampu mengikut kepada arah tiupan angin kekuatan luar. Indonesia belum menampakkan posisi jelas dalam konstalasi dunia global.

Dalam negeri masih penuh dengan intrik-intrik dan permainan (game) yang kerap memalukan. Dalam politik masih terjadi politik mainan kepentingan mereka yang punya modal. Dalam ekonomi di sana sini diberitakan kebangkitan perekonomian ke tingkat signifikan. Tapi rakyat juga semakin meradang dengan daya beli yang semakin menurun.

Yang paling parah, hukum masih berada dalam genggaman kepentingan. Hukum belum mampu menegakkan prilaku. Tapi hukum ditegakkan untuk membenarkan prilaku dan kepentingan yang melawan hukum.

Amoralitas meningkat atas nama kebebasan. Ancaman ideologi juga semakin nyata. Dan yang paling parah ancaman itu kerap mendapat dukungan sistem dan otoritas.

Karenanya untuk sementara ini Indonesia akan tetap menjadi negara Muslim terbesar dalam bilangan. Tapi akan tetap menjadi mayoritas yang tidak bergigi baik dalam negeri maupun luar negeri.

Muslim Minoritas
Sementara itu dengan meningkatkan sentimen “national conservatism” yang ditandai dengan menguatkan “White supremacy” di dunia Barat, minoritas Muslim juga semakin tertantang. Hal ini membawa kepada situasi politik yang aneh, termasuk terpilihnya seorang presiden seperti Donald Trump di Amerika Serikat.

Di berbagai negara kekerasan terjadi di mana-mana, menjadikan kehidupan komunitas Muslim di negara-negara mayoritas non Muslim juga menjadi “minor hell”. Baik serangan fisik maupun non fisik.

Minoritas Muslim di berbagai negara non Barat pun semakin memprihatinkan. Kita mengenal penderitaan Saudara-Saudara kita Di Palestina yang belum nampak berujung. Di negara Burma Saudara-Saudara kita Rohyngya mengalami modern human tragedy yang luar biasa. Di bawah pemerintahan Komunisme China Saudara-Saudara kita komunitas Uighur mengalami penyiksaan yang di luar prikemanusiaan.

Mestinya melakukan apa?
Selama ini nyanyian lama pasti adalah karena Amerika dan sekutunya, Barat, yang menjadikan dunia Islam demikian. Atau karena Yahudi dan Nashora yang berkolaborasi dalam upaya menghangcurkan Islam dan umatnya. Dan oleh karenanya dengan terorika tinggi dikumandangkan perang melawan mereka.

Tapi benarkah demikian? Benarkah bahwa orang lain selalu ditempatkan pada posisi “tertuduh” di saat kita menghadapi permasalahan-permasalahan itu?

Jawabannya bisa benar, tapi bisa juga salah. Atau juga bisa dua-duanya. Artinya bisa benar jika Amerika dan sekutunya menjadi biang keladi jahannam kecil itu. Tapi juga bisa salah karena Amerika belum tentu “penyebab awal” dari semua itu. Amerika kemungkinan hanya mendapatkan “kesempatan atau peluang” untuk melakukan itu.

Artinya ada faktor utama dan pertama dari keterlibatan orang lain sehingga terjadi berbagai “jahannam kecil” di dunia Islam itu.

Kalau saja umat ini jujur maka akan diakui bahwa sesungguhnya penyebab utama dan pertama dari setiap tragedi yang terjadi dalam tubuh umat ini adalah karena: “Lima taquuluuna maa Laa taf’alun”? Dan “ata’murunan naasa bil birri wa tansawna anfusakum”?

Intinya adalah karena slogan-slogan keagamaan kita selama ini “remain slogans”. Slogan iman, slogan ibadah, slogan akhlak, slogan ukhuwah dan wihdatul ummah, dan seterusnya masih tergantung dengan indah di atas langit. Belum turun (tanziil) ke atas bumi menjadi realita kehidupan manusia.

Salah satu slogan besar umat ini adalah “ukhuwah Islamiyah” (innamal mukminuna ikhwah) dan “ummah wahidah” (Qul inna hadzihi ummatukum ummatan wahidah).

Kenyataannya umat ini adalah umat yang paling terbagi ketika sudah memasuki dunia realita. Dalam realita ekonomi, politik, dan lain-lain umat ini paling terkotak-kota, bahkan dikotak-kotakkan oleh kepentingan orang lain.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan?
Hanya satu jawabannya. Yaitu kembali kepada ukhuwah dan wihdatul ummah. Menyadari kembali akan persaudaraan yang sejatinya lebih kokoh dibandingkan persaudaraan seibu dan seayah. Persaudaraan yang menjadi pengikat dunia akhirat yang tidak akan terputus oleh kiamat sekalipun.

Menyadari kembali jika umat ini dengan segala ragam latar belakang dan kecenderungannya adalah satu (ummah wahidah). Dan karenanya harus ditumbuhkan kesadaran “jasad wahid” (satu tubuh) yang saling terikat, walau melakukan fungsinya masing-masing secara ragam.

Dari semua itu satu hal yang mutlak disadari adalah bahwa yang dituntut pertama kali dalam upaya “iikhaa” dan “wihdah” itu adalah “ta’liful quluub”. Menjinakkan “hati-hati” kita sehingga tidak liar dan buas terhadap sesama.

Jika hati telah terjinakkan (muallafah) maka akan terjalin “kasih sayang” (ruhamaa bainahum) di antara sesama. Dan kalau ini terjadi maka perbedaan apapun yang ada akan dilalui (overlooked) bahkan dianggap “rahmah” atau jalan kebaikan yang Allah berikan kepada umat ini dalam menjalankan misi besarnya.

Tantangan terbesar untuk menjinakkan hati-hati (quluub) ini adalah kecenderungan membangun prilaku “diktatorship” dalam kehidupan kita. Termasuk di dalamnya kediktatoran berpikir dan opini.

Akibatnya otak dipertajam untuk mengalahkan mereka yang dianggap lawan (beda pendapat). Dan dalam prosesnya hati mengalami kebekuan. Bahkan yang tragis hati boleh saja teracuni oleh “keangkuhan”. Termasuk di dalamnya keangkuhan “perasaan” paling beragama.

Karenanya, masanya umat ini menyadari urgensi “ta’liful quluub” di atas kemenangan “pemikiran dan penafsiran” (opini). Hanya dengan itu “ukhuwah wa wihdatul ummah” akan tetap terjaga. Be smart!. (*)

Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation di Amerika Serikat.

Saudaraku, jadilah bagian dari perjalanan sejarah dakwah di Amerika. Donasi terbaik untuk pembangunna pesantren pertama di Amerika.
Rekening Indonesia:
Rek rupiah : 1240000018185
An. Inka Nusantara Madani
Bank Mandiri.