Fikrah

Budaya Memanusiakan Manusia Mbah Hamid di Tengah Musim Bidah

...
Suasana peziarah di Makam KH Abdul Hamid Pasuruan (santrinews.com/ist)

Oleh: Ahmad Dahri

SEKALI lagi pagi ini menyuguhkan rahasianya. Pagi-pagi buta HP sudah berdering tak karuan, rupanya nada WhatsApp, dan ketika saya lihat ternyata sudah 50-an lebih untuk waktu yang menurut saya terlalu pagi untuk sekadar menyapa melalui sosial media.

Ubed, salah satu santri Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi Malang penuh semangat mengajak ziarah ke makam Mbah Hamid (KH Abdul Hamid) Pasuruan. Tidak mengiyakan tetapi sekadar memberi tanda bahwa saya insyaAllah bisa. Entah sejak kapan ia suka berziarah, padahal hari ini sedang musim bid’ah mengudara di seantero dunia maya. Dari yang suka ninju-ninju udara sampai yang suka tunjuk-tunjuk muka kemudian teriak-teriak di alun-alun atau di depan kantor fasilitas publik milik negara.

Pastinya tidak asing ketika mendengar nama Mbah Hamid Pasuruan, rasanya memang makam berada di seberang alun-alun dan tepat di belakang masjid besar itu tidak pernah sepi. Selalu ramai peziarah. Tentunya dengan niat yang beragam pula. Bahkan sampai rela antri hanya untuk berdoa di dekat makam beliau.

Mengapa seramai itu? Memangnya harus ya berdoa di makam? Tidakkah Tuhan Maha Mendengar? Sampai harus jauh-jauh dari daerah lain menuju makam ulama kemudian berdoa di sana.

Hal ini wilayahnya adalah penghormatan, hormat terhadap ilmunya, hormat terhadap perjuangannya, dan hormat terhadap kesungguhan beliau para ulama dalam mengabdi kepada Tuhan, begitu juga Mbah Hamid.

Pertanyaannya apakah menghormati itu tidak masuk dalam syariat agama? Kemudian dibid’ahkan segala rupa. Sampai neraka menjadi terminal terakhir sangkaan dan justifikasinya.

Agaknya semua agama baik yang berlabel atau yang kata kebanyakan orang adalah kepercayaan perihal penghormatan kepada sesama manusia adalah kewajiban. Wajib menghargai sesama manusia, meminjam istilah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) maka wajib memanusiakan manusia. Pengetahuan inilah yang kemudian wajib bagi setiap manusia untuk menyadarinya.

Dengan begitu baik dalam konteks ubudiah atau konteks komunikasi sosial maka akan terjaga hubungan yang baik antar sesama manusia. Masalahnya adalah tidak sedikit yang merasa menjadi manusia paling benar, apalagi sangkut pautnya adalah agama. Bukan menjadi ruang privat lagi, tetapi sudah menjadi suguhan publik.

Simbolik? Iya. Kan memang begitu seharusnya, agar setiap orang beragama tidak tertipu dengan yang agamanya berbeda. Pentingnya apa? Apakah lantas kalau mereka berbeda agama dengan yang lain akan berdosa ketika ngopi bareng, diskusi, atau bersama-sama memikirkan kesejahteraan bangsa?

Dan sekali lagi yang menentukan dosa atau tidaknya seseorang itu bukan manusia. Tetapi Tuhan. Dan kalau manusia memaksakan untuk menghukumi maka secara tidak langsung mengambil alih tugas Tuhan. Dan kalau mengambil alih tugas Tuhan maka secara tidak langsung Tuhan dianggap tidak ada, dan akhirnya…. Simpulkan sendiri.

Oleh karenanya mengapa banyak sekali yang berziarah ke Makam Mbah Hamid, salah satunya adalah menziarahi dan menghormati semua pengabdian beliau kepada Tuhan dan Negara. Kepada Tuhan salah satunya adalah mengajarkan kesabaran kepada khalayak umum, mengajarkan kegigihan dalam beribadah kepada Tuhan, dan yang paling penting adalah mengajarkan kebaikan untuk saling mengasihi sesama manusia tanpa melihat pangkat atau status sosialnya.

Dengan kata lain apa yang beliau lakukan semasa hidupnya menjadi referensi bagi anak cucu penerus kehidupan selanjutnya.

Sehingga ziarah tidak hanya proses mengunjungi makam atau situs-situs warisan budaya lama, kemudian berdoa di sana, tetapi ada refleksi terhadap diri sendiri untuk berkembang menjadi lebih baik.

Walaupun ada sebagian peziarah dengan tujuan yang lain, mendapat keberkahan bagi usahanya, atau kelancaran setiap permasalahan yang dihadapinya. Dan hal ini wajar. Lho kok wajar? Kan tidak boleh minta-minta di makam. Ya kalau minta ke makamnya tidak boleh, kalau minta kepada Tuhan kan boleh bahkan wajib. Cuma, memintanya di dekat makam orang yang dekat dengan Tuhan, ulama dan auliya’ salah satunya.

Bahwasanya ulama auliya’ dan para Nabi atau kekasih Tuhan, sejatinya tidak meninggal, mereka cuma berpindah ke dimensi yang lain, di mana manusia yang masih hidup di dunia ini tidak mampu untuk menjangkaunya. Apalagi mereka masih diberi hak oleh Tuhan untuk mendoakan yang masih hidup.

Lantas di mana letak kesalahannya? Apa karena di zaman Rasulullah tidak ada? Rasulullah kala itu masih Gesang, Sugeng, masih hidup dan setiap doanya didengar dan diijabahi langsung oleh Tuhan. Dalam artian pada masa itu masih bersanding dengan orang yang dekat dengan Tuhan. Isra-Mi’raj salah satu buktinya. Walaupun hari ini masih banyak yang menanyakan bentuk logisnya. Bukti kongkritnya.

Bagaiman dengan hari ini apakah tidak ada orang dekat dengan Tuhan? Banyak. Tetapi sulit kita menemukannya. Man arafa nafsahu arafa rabbahu, siapapun yang paham dan mengerti dengan dirinya sendiri maka ia akan tahu kepada Tuahnnya.

Pemahaman tentang hal ini bisa bermacam prespektif. Tetapi yang merasa dirinya hamba dengan tugas mengabdi kepada Tuhan sepenuhnya, kemudian menjaga hubungan baik sesama manusia dan semua ciptaan Tuhan lebih sedikit ketimbang yang merasa berhak dan memiliki integritas mengambil alih porsi Tuhan. Apa buktinya? Suka membid’ahkan, suka mengkafirkan, suka memandang orang lain lebih rendah, dengan kata lain semua yang dilakukan tidak ada benarnya sebelum menjadi seperti mereka.

Siapa itu? Kalau anda suka nonton youtube dan televisi atau media sosial maka akan ada banyak tontonan seperti diskripsi di atas. Oleh karenanya mari ngopi, sebelum kopinya keburu dingin. Jangan lupa rokoknya disulut. Dan semoga kita kecipratan barokah doa dan cinta dari Mbah Hamid Pasuruan. (*)

Pojok Rumah, 2019

Ahmad Dahri, santri di Pesantren Luhur Bait Al Hikmah Kepanjen, dan Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Beberapa buku karyanya sudah diterbitkan. Diantaranya “Multikulturalisme Kontekstual Gus Dur”, “Dialektika Pesantren”, “Kumpus Orang-Orang Pagi”, dan “Monolog Hitamkah Putih Itu”.

____________
Bagi sahabat-sahabat penulis yang ingin berkontribusi karya tulis baik berupa opini, esai, resensi buku, puisi, cerpen, serta profil tokoh, lembaga pesantren dan madrasah, dapat dikirim langsung via email ke: redaksi@santrinews.com. Terima kasih.