Fikrah

Pil(pres) dan Kebosanan

...

Oleh: Ahmad Dahri

Hiruk pikuk pilpres dan pemilu serentak begitu menyita perhatian khalayak luas, berbagai berita dan peristiwa menghiasi layar kaca dan HP pintar para gadgedholic, bermacam argumen tentang capres dan caleg tertebar dari sudut-sudut gang kecil sampai pasar, dari kedai-kedai kopi sampai mall bergengsi ternyata satu pembahasannya.

Kabar baiknya adalah masyarakat benar-benar memiliki peran aktif dalam menemukan pilihannya, perihal hasilnya masyarakat ditutup telinga dan matanya. Dan kabar buruknya adalah masyarakat atau bahasa para caleg dan capres “rakyat” dibutuhkan lima tahun sekali.

Menariknya manuver-manuver “politik praktis” di segala bidang mulai dikampanyekan. Kalau perihal jualan agama saya tidak berani menyinggungnya. Yang jelas dari setiap calon memiliki visi dan misi yang dikampanyekan. Perihal terwujud atau tidak permasalahnnya adalah lima tahun ke depan.

Namun begitu masyarakat memiliki sudut pandang tersendiri dalam memandang pesta politik. Tidak masalah siapapun yang jadi, karena masyarakat memiliki prinsip bahwa selagi mau berusaha terkait sandang, pangan dan papan urusannya adalah dengan usahanya sendiri bukan dengan siapa yang jadi pejabat. Apakah hal ini dianggap kedewasaan berpikir? Atau akan menjadi satu pemahaman yang salah?

Baca juga: Filosofi Duren Mbah Liem

Jika kembali kepada konsep maqashid as-syariah maka akan terpusat pada personal masyarakat itu sendiri. Pengelolaan? Perizinan? Atau ada yang lain? Hanya lingkup administrasi. Perihal pemetaan masyarakat borjuis dan proletar agaknya memang tidak terlepas dari kasta-kasta dalam kehidupan. Dan secara tidak langsung memberi efek perpecahan. Dan kebanyakan etika politik praktis memiliki sikap pemetaan, dan disadari atau tidak perpecahan adalah akibat dari sikap tersebut. Akankah terjadi sampai 2023?.

Karl Marx (1818-1883) menegaskan bahwa konflik atau perpecahan diawali dengan munculnya kelas sosial dan kekuasaan. Untuk mencapai tujuan suatu kelompok akan mengorbankan kelompok yang lain, sehingga barang pasti jika konflik selalu muncul. Salah satu ungkapan tokoh Khaulder si pemburu penyihir dalam film besutan Breck Eisner “The Last Witch Hunter” Tahun 2015 menyebutkan bahwa “Every Generation tries to seize the opportunity to destroy the world,” Setiap generasi berusaha meraih kesempatan untuk menghancurkan dunia. Apakah ungkapan ini mewakili perkembangan kehidupan saat ini?.

Baca juga: Raja Salman, Islam Nusantara, dan Pancasila

Perubahan sosial memiliki pengaruh terhadap situasi masyarakat. Pola pikirnya, pola sikap dan kesadarannya. Terhadap apapun. Karena setiap perubahan dihasrati oleh peritiwa sebelumnya atau yang sedang mengiringinya. Sehingga bukan pada capres atau calegnya, tetapi akal budhi dari setiap personal memiliki pengaruh atas penentuan sikap.

Dan akhirnya, sebagai masyarakat maka berhak untuk menciptakan kedamaain atas konflik yang menjadi buntut dari perpecahan atau perbedaan hak pilih. Karena pada dasarnya setiap hal yang diwarnai oleh kompetisi akan menyediakan ruang tersendiri bagi pemenang dan yang kalah. Oleh karenanya apakah kehidupan anda hanya berisi menang kalah?

Mari ngopi!

Malang, April 2019

Ahmad Dahri, santri di Pesantren Luhur Bait Al Hikmah Kepanjen, dan Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Beberapa buku karyanya sudah diterbitkan. Diantaranya “Multikulturalisme Kontekstual Gus Dur”, “Dialektika Pesantren”, “Kumpus Orang-Orang Pagi”, dan “Monolog Hitamkah Putih Itu”.

__________
Bagi sahabat-sahabat penulis yang ingin berkontribusi karya tulis baik berupa opini, esai, resensi buku, puisi, cerpen, serta profil tokoh, lembaga pesantren dan madrasah, dapat dikirim langsung via email ke: redaksi@santrinews.com. Terima kasih.