Nasional

Remehkan Banser NU, Ansor Tuntut Panglima TNI Minta Maaf

...
Panglima TNI Jenderal Moeldoko (santrinews.com/liputan6)

Jakarta – Mantan Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Periode 2005-2010, H Khatibul Umam Wiranu menuntut Panglima TNI Jenderal Moeldoko meminta maaf atas pernyataannya yang dinilai menyakitkan bagi keluarga besar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama.

Saat melakukan inspeksi mendadak dan memberikan pengarahan kepada prajurit TNI 752/Vira Yudha Sakti, Sorong, Papua Barat, Senin 29 Desember 2014 lalu, Jenderal Moeldoko mengeluarkan pernyataan bahwa kalau prajurit TNI tidak disiplin maka sama saja dengan Banser, bahkan sangat membahayakan karena prajurit TNI dilengkapi senjata.

“Kalau prajurit TNI sudah tidak memiliki disiplin maka kamu sama saja dengan Banser, hal itu akan sangat membahayakan karena prajurit TNI dilengkapi senjata”, tegas Jenderal Moeldoko, dihadapan 252 prajurit 752/Vira Yudha Sakti, kala itu.

Pertnayataan tersebut, kata Khatibul Umam, tidak etis muncul dari seorang Panglima TNI. “Pernyataan yang tak patut muncul dari Panglima TNI. Itu sama saja, Banser sama dengan organisasi yang tidak disiplin. Sangat disayangkan pernyataan tak terpuji itu muncul dari Panglima TNI,” kata Khatibul Umam, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 31 Desember 2014.

Menurut dia, pernyataan itu menunjukkan kedangkalan pemahaman Panglima TNI Moeldoko atas sejarah pergerakan masa kemerdekaan Indonesia. Padahal sumbangsih Ansor atau yang dulu di era kemerdekaan dikenal dengan Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO) tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Bahkan, sambung Khatibul, Ansor atau Banser selalu bersinergi dengan TNI dalam masa-masa penting sejarah republik Indonesia. Sumbangsih Ansor/Banser tidaklah kecil dalam mengawal NKRI. Karena itu, Moeldoko tidak etis menghina Banser yang telah pernah berjuang memanggul senjata melawan penjajah.

“Banser ikut berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang, sementara apakah Moeldoko yang menghina Banser itu pernah berjuang memanggul senjata melawan penjajah?” tegasnya mempertanyakan.

Panglima TNI, kata Khatibul, semestinya menampilkan diri sebagai sosok panglima tentara rakyat dengan membangun sinergi dengan berbagai elemen bangsa. Namun pernyataan Panglima TNI tersebut justru menunjukkan tentara yang elitis yang menjauh dari rakyat.

“Kami meminta Panglima TNI untuk mengklarifikasi, mencabut pernyataan dan meminta maaf secara terbuka terkait pernyataannya yang menyakitkan keluarga besar Ansor/Banser itu,” tandas politisi Partai Demokrat itu. (us/ahay)