Nasional

Sikapi Bonus Demografi, Santri Dituntut Tingkatkan Kualitas Kesehatan

...
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – Menteri Kesehatan Nila Djuwita Farid Moeloek mengingatkan agar para santri meningkat kualitas kesehatannya guna memastikan menjadi bagian dari sumber daya manusia Indonesia berkualitas pada masa bonus demografi.

Menurut dia, bonus demografi di Indonesia diperkirakan terjadi pada 2030. Hal ini harus disikapi mulai sekarang, di mana penduduk usia produktif akan lebih besar dibandingkan penduduk lanjut.

“Penduduk usia produktif yang seharusnya dapat menanggung penduduk lansia jangan sampai justru menjadi beban,” kata Nila Moeloek, dalam Seminar Nasional “Peran Pesantren dalam Pembangunan Kesehatan” di Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu, 9 Maret 2019.

Baca juga: Meski Fisik Lemah, Kesehatan Jiwa Santri Lebih Unggul

Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, Nila mengatakan upaya kesehatan diselenggarakan secara terpadu dan komprehensif dalam bentuk upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.

Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu faktor lingkungan yang mencakup fisik, kimia, biologi dan sosio-budaya (40 persen), faktor perilaku (30 persen), faktor pelayanan kesehatan (20 persen) dan faktor genetika (10 persen).

Hal ini menunjukkan bahwa faktor pelayanan kesehatan hanya memiliki kontribusi sebesar 20 persen, sedangkan 80 persen lainnya disebabkan oleh faktor di luar pelayanan kesehatan.

Untuk itu, kata Nila, faktor di luar pelayanan kesehatan yang harus menjadi perhatian seperti gizi, pola hidup bersih dan sehat, akses air bersih dan sanitasi, serta akses terhadap pangan yang bergizi dan aman perlu menjadi perhatian bersama.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas kesehatan, Nila mengingatkan para santri untuk melakukan gerakan hidup bersih dan sehat (Germas).

“Germas bertujuan agar kesehatan kita terjaga, lingkungan bersih, kita menjadi lebih produktif, dan biaya berobat berkurang,” ujarnya.

Baca juga: Penerapan Pola Hidup Sehat di Pesantren Masih Minim

Germas diwujudkan melalui kegiatan peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan, pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, dan peningkatan edukasi hidup sehat. (malik/ant)