Fikrah

Mental Versus Moral, Revolusi atau Rekonstruksi?

...

Oleh: Ahmad Dahri

Kalaupun revolusi mental harus memiliki lawan konsepsi yang berupa revolusi moral, maka yang pertama kali dipahami adalah, apa yang dimaksudkan revolusi dalam hal ini? karena pada dasanya revolusi memiliki pendekatan sikap membangun kembali, membentuk kembali, atau memperbaiki. Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat.

Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Sedangkan dalam KBBI dijelaskan bahwa revolusi adalah perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang.

Dengan kata lain ada sikap untuk merubah suatu kondisi. Baik secara personal maupun komunal. Perubahan ini bisa dilakukan dengan bentuk pemaksaan atau sebaliknya. Kalau saja memang yang menjadi garis bawah perubahannya, maka sikap apapun yang diambil adalah proses revolusi. Akan tetapi bagaimana dengan mental dan moral? Kondisi sosial menjadi bagian dari proses kehidupan sosial pula. Dipengaruhi oleh gaya hidup dan perkembangan jaman pastinya.

Mental dan moral adalah dua hal yang didapat dari proses pendidikan. Baik pendidikan formal dan non formal (pesantren, vihara, gereja dll) atau lingkungan dan keluarga. Terutama proses-proses pengembangan diri dari setiap personalnya. Di mana akan menjadi latar belakang dari apa yang dikatakan sebagai moral dan mental. Bisa jadi mental adalah kognifikasi dari perkembangan diri seseorang. Sedangkan moral adalah perkembangan afeksi dari sikap personal.

Jika demikian, maka moral dan mental adalah satu bagian dari sebuah perkembangan dalam pendidikan. Ruang yang sangat luas dari keduanya, setidaknya membentuk —menyempurnakan watak. Namun bagaimana jika mental dan moral adalah sesuatu yang fitrah? Pendidikan hanya sebagai jembatan untuk menggali seberapa dalam jangkauan antara moral dan mental.

Pendidikan memiliki makna yang sangat luas, memiliki pemahaman dengan ruang yang sangat lebar. Sehingga pendidikan adalah ruh dalam proses pengembangan diri. Pendidikan adalah wadah untuk menumbuhkan kesadaran-kesadaran kolektif terkait pola pikir dan sikap pikir.

Pendidikan bukan wadah pemantik untuk menumbuhkan jiwa pekerja, hal itu terjadi hari ini, peserta didik lebih memilih untuk berkompetisi dari pada mengembangkan kompetensi diri. Pendidikan yang pada dasarnya memiliki ruh wiyata wicaksan waskita, kini bergulir pada penyempitan makna, indikasinya adalah sastra jendra hayuning tiyu lan laku kini menjadi sastra jendra hayuning pangan.

Meminjam istilah dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus), bahwa tarbiyah dan ta’limiyah itu berbeda fokusnya. Dan sayangnya, secara praktik tidak jarang salah tindih —kaprah. Pastinya kita tahu alasannya mengapa? Setiap pekerjaan pasti dan harus memiliki hasil, upah, untung dan penghargaan. Dengan begitu, permasalahannya bukan pada personal atau pelaku pendidikan, tetapi pada mainset yang tertanam dalam diri para pelaku pendidikan. Dengan kata lain mainset-mainset tersebut adalah hasil buah tanam yang sejak lama ditanam. Objeknya jelas manusia.

Agaknya, memang harus memahami terlebih dahulu ta’limiyah dan tarbiyah, sebelum memasuki ejawantah dari pendidikan yang berupa moral dan mental. Itupun jika disepakati bahwa moral dan mental adalah produk pendidikan. Karena bagaimanapun pendidikan saat ini terbagi kepada tiga penilaian, seperti yang kita ketahui. Afektif, psikomotorik dan kognitif.

Ta’lim, adalah wujud dari proses pembelajaran terhadap fokus ilmu tertentu, tujuannya adalah mengetahui dan memahaminya. Sedangkan Tarbiyah adalah model pendampingan dan bimbingan terhadap anak, atau peserta didik. Jika pola keduanya adalah pemahaman dan pendampingan, maka secara tidak langsung ada satu titik pengetahuan dasar yang menjadi pola pengembangannya, yaitu kesadaran – membangunnya.

Dengan kata lain ada pondasi atau niat dan tujuan pendidikan yang masih terlalu gelap untuk melakukan perabaan-perabaan.

Orientasi atau tujuannya adalah memberi pemahaman dan pendampingan. Pemahaman yang dimaksud memang masih sangat global, setidaknya ketika masuk pada ranah lembaga maka akan menemukan fokus pemahamannya, (seharusnya).

Begitupun pendampingan, pertanyaannya adalah pendampingan yang seperti apa? Minimal pendampingan terhadap tiga hal, tangan, mulut, dan hati. Tiga bagian ini adalah ruang kosong yang – jika terisi oleh pengetahuan, maka mampu menentukan kemana arah pengetahuan tersebut berlaku. Lantas di mana posisi mental dan moral? Mereka adalah efek, hasil akhir, atau akibat dari pengetahuan, ejawantah dari proses-proses didikan.

Sehingga yang memiliki peran pendidik dan pengajar memiliki tanggung jawab yang besar atas tiga ruang di atas. Tangan akan menjadi penggerak atas setiap apa yang menjadi bahan pembicaraan, pemikiran dan perenungan. Mulut akan mengejawantahkan dalam berbagai justifikasi setiap pemikiran dan perenungannya.

Sedangkan hati, adalah peredam gerak dari setiap apapun yang menjadi lawan atau kawan perenungannya. Jika wilayah tangan dan mulut adalah wilayah moral maka hati mejadi ruang yang sangat besar termasuk mental di dalamnya.

Dan, untuk saat ini yang terpenting adalah tidak berhenti membaca teks dan konteks kemudian merenungkannya, Karena kesadaran tidak akan lahir tanpa adanya pembacaan-pembacaan. Begitu juga orientasi pendidikan. Karena sampai kapanpun, jika pembahasannya adalah hasil maka tidak akan mengenal proses, sebaliknya jika memahami gerak proses secara mendalam, maka hasil tidak akan menyelingkuhinya. Sedangkan moral dan mental adalah hasil, prosesnya adalah pembacaan-pembacaan dan perenungan. Wallahu A’lam. (*)

Ahmad Dahri, santri di Pesantren Luhur Bait Al Hikmah Kepanjen, dan Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Beberapa buku karyanya sudah diterbitkan. Diantaranya “Multikulturalisme Kontekstual Gus Dur”, “Dialektika Pesantren”, “Kumpus Orang-Orang Pagi”, dan “Monolog Hitamkah Putih Itu”.

____________
Bagi sahabat-sahabat penulis yang ingin berkontribusi karya tulis baik berupa opini, esai, resensi buku, puisi, cerpen, serta profil tokoh, lembaga pesantren dan madrasah, dapat dikirim langsung via email ke: redaksi@santrinews.com. Terima kasih.