Sosok

Kiai Kuswaidi Syafi’ie dan Kitab Fushus al-Hikam

...
KH Kuswaidi Syafi'ie saat mengisi pengajian (santrinews.com/istimewa)

Saya, kagum kepada Kiai Kuswaidi Syafi’ie. Kekaguman ini, bukan semata-mata karena “kekiaiannya” —meski oleh teman-teman yang mengenal langsung, ia sebenarnya lebih akrab dipanggil Cak Kus— tapi soal komitmen dan kemampuannya mendaras kitab Fushus al-Hikam, karya Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi, yang belakangan juga dikaji online lewat laman Facebook pribadinya edisi Ramadhan.

Apa yang istimewa? Mengaji Fushus al-Hikam dibanding karya-karya lain syeikh al-akbar, tidaklah mudah. Bahasa Arab yang digunakan oleh syekh al-akbar rumit, apalagi mencernanya ke dalam sebuah pemahaman holistik.

Kiai Kuswaidi, tidak hanya fasih dan lancar jaya membaca teks Arab Fushus al-Hikam, namun juga bisa memahami, dan sekaligus mampu menyampaikan kepada publik. Ini bukan perkara sepele.

Saya mau cerita agak detail-singkat pengalaman beberapa orang terpandang tentang interaksi mereka dengan Fushus al-Hikam, berdasarkan pengetahuan saya yang dangkal, pada suatu masa pernah membenamkan diri ke dalam samudera pemikiran tasawuf Ibn ‘Arabi.

Itulah sebabnya, saya terus menikmati dan menyimak ngaji online kitab sufi pada umumnya yang diselenggarakan oleh banyak orang, selain Kiai Kuswaidi, tentu juga ada Gus-Kiai Ulil Abshar Abdalla.

Pengalaman orang terpandang, yang saya maksud itu, di antaranya Abu al-‘Ala al-Afifi, seorang komentator ulung pemikiran-pemikiran tasawuf Ibn ‘Arabi. Dialah yang men-syarh dan sekaligus bertindak sebagai editor Fushus al-Hikam, terbit tahun 1946 oleh Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah di Kairo.

Afifi, ketika memulai garap disertasinya tentang filsafat mistik Ibn ‘Arabi, pada 1927 (diterbitkan tahun 1939, berjudul The Mystical Philosophy of Muhyiddin Ibn al-‘Arabi), di bawah bimbingan R.A. Nicholson di Cambridge University sempat mengeluh. Afifi menilai gaya bahasa Ibn ‘Arabi semraut (desultory), elektis, dan sering mendua (ambiguous).

“Aku membaca karya-karya Ibn ‘Arabi dan memulai dengan kitabnya Fushuh al-Hikam, yang aku baca bersama komentar al-Qasyani berkali-kali, tetapi Allah belum membuka hatiku untuk bisa mencernanya. Setiap kata dapat kupahami pengertiannya, tetapi setelah kata-kata itu menyatu dalam satu kalimat atau dalam beberapa kalimat segera ia menjadi teka-teki dan menyulitkan. Komentar yang mendampingiku hanyalah menambah rumit dan samarnya pemahaman”.

Mendengar keluh Afifi tersebut, Nicholson konon menyarankan agar membaca karya-karya Ibn ’Arabi yang lain terlebih dahulu. Dan Afifi mengikuti sarannya dengan membaca al-Futuhat al-Makkiyah, yang secara kuantitas jauh lebih tebal dibanding Fushus al-Hikam.

Syahdan, cara yang dilakukan Afifi berhasil. Ia mengaku mulai benar-benar paham maksud perkataan Ibn ‘Arabi di Fushus al-Hikam. “Setelah itu, apa yang kurasakan telah tertutup mati selama ini sekarang terbuka terang dan apa yang kurasakan sukar sekarang terasa mudah,” tulis Afifi.

Ada pula pengalaman sarjana dan akademisi Indonesia. Yunasril Ali, yang meraih doktor bidang tasawuf di IAIN (UIN) Syarif Hidayatulla Jakarta tahun 1996, tentang Insan Kamil Al-Jilli, mengaku butuh waktu puluhan tahun untuk bisa memahami Fushus al-Hikam secara baik.

Menurut Yunasril Ali, kesukaran memahami gaya bahasa Ibn ‘Arabi, bukan secara sengaja dilakukan oleh Ibn ‘Arabi untuk menyembunyikan maksudnya dengan berlindung di balik kata-kata, tetapi karena kesulitan mengungkapkan pengalaman mistik kaum sufi pada umumnya.

Bagaimana dengan pengalaman Kiai Kuswaidi? Sedekat ini, ia belum pernah menceritakan secara langsung, apalagi untuk konsumsi publik, atau mungkin saya yang tidak tahu. Dan karena alasan itulah, suatu waktu, saya akan sowan dan menanyakan langsung kepadanya. Siapkan kopi, Cak, hehe…

Satu lagi. Kiai Kuswaidi ini tipe kiai kampung, meski tinggal di kota Jogjakarta. Penampilannya terlalu sederhana, padahal dalam pengajian online-nya, ia sadar disorot kamera. Saat live, terlihat kopiahnya khas entah dari mana; kancing bajunya yang paling atas kadang lupa atau sengaja tidak dipasang karena mungkin cuaca panas; kadang juga mengenakan kaos oblong.

Backgroud pengajiannya terlihat menggunakan seng atap rumah, bukan dinding megah serta kayu ukir; dan yang paling saya suka, intonasi-aksentuasi bahasa lisannya saat prolog sebelum ngaji (baca washilah dan kirim fatihah), menunjukkan identitas yang asli (pake shad) sebagai orang Madura, dzauq-nya terasa, ada taste.

***
Tentang Fushus al-Hikam (Cincin Pengikat Hikmah/Untaian Mutiara kebijaksanaan), oleh Ibn ‘Arabi ditulis pada 627 H/1229 M, sepuluh tahun sebelum ia wafat.

Menurut Ibn ‘Arabi, kandungan dalam karya ini sepenuhnya didasarkan pada ilham pengetahuan spiritualnya dari Nabi Muhammad Saw. yang memegang sebuah kitab di tangannya dan beliau memerintahkan untuk mengambil dan membawanya ke dunia sehingga orang-orang bisa mengambil manfaat darinya.

“Aku melihat Rasulullah dalam suatu kunjungan kepadaku pada akhir Muharam 627 H, di kota Damaskus. Dia memegang sebuah kitab dan berkata kepadaku: “Ini adalah kitab Fushus al-Hikam, ambil dan sampaikan kepada manusia agar mereka bisa mengambil manfaat darinya”. Aku menjawab: “Segenap ketundukan selayaknya dipersembahkan ke hadirat Allah dan Rasul-Nya, ketundukan ini seharusnya dilaksanakan sebagaimana kita perintahkan”. Oleh karena itu, aku melaksanakan keinginanku, memurnikan niat, dan mencurahkan maksudku untuk menulis (menerbitkan) kitab ini, seperti diperintahkan sang rasul, tidak ada tambahan ataupun pengurangan di dalamnya.

… Aku berharap bahwa realitas, mendengar permohonanku, akan memperhatikan panggilanku. Sebab aku tidak mengemukakan sesuatu pun di sini, kecuali apa yang telah ditetapkan kepadaku. Aku tidak menulis buku ini melainkan ia disampaikan langsung kepadaku. Aku bukan seorang Nabi atau rasul, tetapi semata-mata seorang pewaris yang bersiap-siap menghadapi akhirat” (Fushus al-Hikam, 1980: 47).

Setiap bab memakai nama seorang nabi yang dijadikan judulnya. Pemakaian nama nabi sebagai judul setiap bab sesuai dengan bentuk kebijaksanaan (hikmah) yang dijelaskan dalam setiap bab itu. Setiap nabi yang disimbolkan dengan fass (pengikat permata pada cincin), mewakili suatu aspek tertentu dari kebijaksanaan Ilahi yang terjelma pada setiap nabi itu, dan menjadi lokus penampakan diri (majla) Tuhan.

Sesuai dengan judulnya, karya itu bertujuan untuk menjelaskan aspek-aspek tertentu kebijaksanaan Ilahi dalam konteks kehidupan dan person para nabi, dari Adam hingga Muhammad SAW. Artinya, secara metaforik, setiap mutiara adalah sifat dasar manusiawi dan jati diri spiritual seorang nabi hadir sebagai media bagi bagian tertentu dari kebijaksanaan Ilahi yang diwahyukan kepada nabi tersebut. (*)