Akhbar

Sang Pendobrak, Sejarah dan Kontribusinya

Selasa, 06 Februari 2018 10:53 wib

Oleh: Wasid Mansyur

Tulisan ini, sekedar pengingat kita untuk belajar dari tokoh-tokoh besar dunia. Ini terinspirasi dari tiga replika tokoh dunia yang ada di pinggir Pantai Losari Makasar Sulawesi Selatan.

Tiga replika ini, bukan sekedar patung biasa, tapi sekaligus ajakan agar kita belajar dan meneladani perjuangannya; untuk bangsa dan kemanusiaan.

Tiga replika -dari kiri Nelson Mandela, Syaikh Yusuf Tajul al-Khalwati al-Makasari dan Mahatma Ghandi— adalah simbol dari tokoh yang telah mewariskan peradaban kemanusiaan dan perdamaian sesuai dengan bidang dan zamannya.

Karenanya, sungguh kurang tepat bila replika-replika tokoh ini dianggap hanya sekedar pajangan atau sekedar untuk keindahan kota dan pantai, termasuk replika-replika di daerah lain. Yang terkadang, untuk membuatnya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Untuk itu, kenali sejarah melalui replika yang ada di kota-kota besar, khususnya di Makasar, agar kita semakin dekat dengan beliau-beliau. Mengenalnya akan mendekatkan diri untuk sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya. Kita hidup di era serba nyaman, era smart phone yang memberikan kemudahan di mana-mana.

Tapi, sejauh mana kita sudah berkontribusi untuk bangsa, untuk kedamaian dan kemanusiaan. Atau kita sudah larut dalam individualisme yang serba instan hingga lupa hidup untuk ibadah dan amal sholeh kepada orang lain.

Maka, sekali lagi, kenali tokoh-tokoh inspiratif dan pendobrak perubahan agar semua bisa belajar dan  bisa dengan kesadaran dan TaufiqNya melanjutkan perjuangannya. Mengutip Syair Arab “Tirulah Tokoh-tokoh terdahulu, sekalipun tidak menyamai. Pasalnya, hal ini yang akan mengantarkan anda berhasil”. Jejak-jejak tiga tokoh ini sebagai berikut:

1.  SYAIKH YUSUF TAJUL KHALWATI ALMAKASARY

Menyebutkan nama beliau, maka kita akan diajak menyelami bagaimana Islam Nusantara itu berproses, terkhusus berproses dalam menancapkan bentangan spirit dakwah Islam di satu sisi dan spirit meneguhkan semangat anti penjajah di sisi yang berbeda sebab beliau hidup dalam lingkup sejarah kuasa hegemoni Belanda terhadap Nusantara akibat rakus mengambil limpahan hasil alamnya dengan paksa.

Terlahir, dengan Nama Muhammad Yusuf, yang diberi langsung oleh Sultan Alauddin,  Sultan Muslim Pertama Gowa; pada 3 Juli 1626 di Gowa Sulawesi Selatan dan Wafat di Captown Afrika Selatan. Bagi masyarakat Gowa, beliau di kenal pula dengan Sebutan “Tuanta Salamaka ri Gowa” (Tuan Guru Penyelamat Kita dari Gowa) atas jasa-jasanya memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Membaca jejak Syaikh Yusuf al-Makasari mengingatkan kita sebagai anak muda Muslim atas komitmennya pada dakwah Islam dan cinta bangsa. Pastinya, dakwah Islam yang dikembangkannya adalah menjadikan kekuatan spirit Nilai-nilai Tasawuf  sebagai pondasi, yakni kedalaman spiritulisme Islam. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari para guru yang terlibat mendidiknya, sekaligus menyambungkannya dalam dunia tasawuf dan ketarekatan, sebut saja misalnya, Sayyid Ba Alawi ibn Abdul Allamah dan Sayyid Jalaluddin al-Aidid Gowa, Syaikh Nuruddin al-Raniri Aceh (Sanad Tarekat Qadariyah), Syaikh Abdullah Muhammad ibn Al-Baqi (Tarekat Naqsabandiyah) dan Sayid Ali al-Zaibaidy Yaman, dan Syaikh Abu al-Barakat Ayyub ibn Ahmad Ibn Ayyub al-Khalwati al-Qusysyiy, Mullah Ibrahim al-Kawrany dan Hasan al-Ajany.

Semangat dakwahnya luar biasa mengantarkan beliau merantau ke Banten dan bersahabat dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Tapi, sayang kekalahan Sultan Ageng dari Belanda pada tahun 1682, mengantarkan Syaikh Yusuf diasingkan ke Slilangka sebab dianggap ikut menanamkan nilai-nilai Islam, sekaligus terlibat menumbuhkan spirit anti Belanda.

Di Slilangka, iapun tidak menyerah, bahkan terus menyebarkan Islam. Tak anyal, banyak masyarakat menyikutinya. Bahkan tidak jarang jejaring masyarakat muslim Nusantara terus tersambung melalui para jamaah haji yang singkat mampir di Srilangka. Kontak ini yang menyebabkan, Syaikh Yusuf harus di asingkan, untuk tidak mengatakan di buang, oleh Belanda ke Negeri Afrika Selatan. Pasalnya, Syaikh Yusuf dipandang sebagai tokoh berbahaya hingga dapat menghambat proses licik hegemonik ala penjajahan Belanda untuk menguasai Nusantara.

Di Afsel, Syaikh Yusuf terus berkomitmen dalam menyebarkan dakwah Islam melalui pendekatan tasawuf. Banyak masyarakatpun tertarik di Afsel mengikuti jejak-jejak beliau hingga ajal menjemputnya pada 23 Mei 1699. Atas jasanya, maka hari meninggalnya selalu di peringati, termasuk Nelson Mandela, mantan Presiden Afsel, yang menyebutkan Bahwa Syaikh Yusuf adalah putra Afrika terbaik. Termasuk, beliau dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional tahun 1995  berdasarkan Keppres NO 071/TK/1995, 7 Agustus 1995.

Salah satu pokok pikiran Syaikh Yusuf yaitu tentang Manusia Palipurna (al-Insan al-Kamil). Menurutnya, manusia palipurna adalah setiap orang yang mampu dekat dengan Allah SWT dan sampai pada derajat makrifatullah, mengikuti perintah Nabi-Nya lahir batin hingga ia mampu menapaki hidup dengan spirit akhlak ilahiyah dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai ini harus melalui kematangan spiritual dengan tetap menapaki jalan maqamat sebagaimana diajarkan dalam tradisi tasawuf.

Pelajaran terpenting dari sosok Syaikh Yusuf adalah komitmennya pada upaya menyadarkan masyarakat untuk menjadi Muslim lahir batin melalui pembersihan hati untuk selalu dekat Allah SWT. dengan pola-pola sufistik. Setelah itu, semua orang harus ambil bagian dalam merespon kondisi masyarakat yang dialami, dalam konteks ini Syaikh Yusuf melawan segala bentuk penjajahan Belanda sebab menghambat kebebasan masyarakat untuk berkarya, beribadah dan menikmati alam Nusantara secara mandiri.

Maka, sebagai Anak Bangsa Millenialis, khususnya mahasiswa dan Pemuda. Jangan lupa belajar sejarah, khususnya sejarah para tokoh kita, yang ikut ambil bagian dalam menentukan perjalanan dan penegasan karakter bangsa, setidaknya salah satunya belajar dari Syaikh Yusuf Tajul al-Khalwati al-Makasari.

2. NELSON MANDELA
Mengenal sosok Nelson Mandela mengantarkan kita untuk belajar bagaimana sebenarnya kita harus hidup dengan orang lain, tanpa didukung rasa kebencian, terkhusus kebencian hanya disebabkan perbedaan Ras Warna Kulit. Pasalnya, kebencian berlebihan sering kali mematikan akal sehat kita untuk menilai sekaligus mengakui kelebihan orang lain.

Nelson, selanjutnya disebut, terlahir dari keturunan kulit hitam pada 18 Juli 1918 di Muezo Afsel. Dan meninggal di Johannesburg pada 5 Desember 2013. Sekalipun dari kulit hitam, pendidikannya terbilang sukses sebab ia tercatat sebagai mahasiswa hukum di Fory Hare University dan University of Wirywatetsrand.

Sejak muda, Nelson dikenal sebagai aktivis kemanusiaan dan menyelami dalam berbagai kegiatan politik antikolonial. Ketika Partai Nasional dari kaum Nasionalis Afrikaner berkuasa tahun 1948, Nelson melaluI organisasi Liga Pemuda ANC mengalami masa tenar sebab berhadap terus dengan rezim yang menerapkan kebijakan apartheid, yakni pemisahan ras yang menguntungkan kulit putih, dan merugikan kulit hitam.

Gerakan antiapartheid terus dibunyikan oleh Nelson sebab baginya semua manusia itu sama; sama sebagai manusia dengan hak yang sama dalam menikmati hidup. Untuk menjadi bangsa yang besar, kebencian atas nama perbedaan ras harus disingkirkan. Komitmen ini yang mengantarkannya keluar masuk penjara akibat dianggap sebagai pengacau dan pemberontak terhadap rezim apartheid.

Iapun akhirnya  dipenjara tahun 1956 hingga 1961. 1962 kembali masuk penjara atas tuduhan yang sama, bahkan dianggap terlibat pada aksi upaya penggulingan pemerintah. Bahkan, pernah mengalami pengurungan selama 27 tahun hingga bebas pada 1990.

Di masa bebas ini, Nelson tetap menggalang isu-isu anti apartheid yang masih dikuasai oleh rezim FW de Klerk dari kulit putih. Rezim anti kemanusiaan ini harus dilawan,  tegasnya, untuk terwujudnya nilai-nilai luhur dan hak asasi manusia. Iapun mendapat simpati dari berbagai kalangan, baik di negaranya sendiri maupun masyarakat internasional, hingga ia memperoleh berbagai nobel perdamaian. Dan mengantarnya menjadi Presiden 1994. Nelson pun terus berjuang menerapkan isu-isu kemanusiaan dan HAM ke berbagai belahan dunia, agar tidak ada lagi perbedaan warna kulit antar sesama, kecuali bersungguh-sungguh dalam perbedaan kerja keras bagi kebaikan bangsa dan dunia.

Dalam banyak hal, Nelson terinspirasi oleh gerakan Syaikh Yusuf al-Makasari, khususnya anti penjajah dan anti diskriminasi hak, yang lebih dulu dilakukan. Betapapun, makamnya Syaikh Yusuf di Captown Afsel, mengutip Dr. Abd Kadir Riyadi (dosen UIN dan Alumni Afsel) sekitar 2005an, memiliki nuansa tersendiri bagi masyarakat Afsel; nuansa keteladanan bagaimana membentuk manusia bebas dari hegemoni orang lain, dari hegemoni penjajah, sekalipun harus ditangka, disiksa dan di asingkan.

Kita harus banyak belajar dari kegigihan Sang Pejuang dan Pendobrak antiapartheid, Nelson Mandela. Nelson mengajarkan kita ini sama, sama sebagai manusia. Dalam bahasa Islam, kita diajarkan untuk tidak membedakan warna kulit dan keturunan, yang harus dibedakan adalah amal shaleh dan ketaqwaan. Untuk konteks ini, jangan pernah mengeluh. Harus terus diperjuangkan sebab perjuangan inilah arti kita sebagai manusia.

Makanya, pesan Nelson dalam sebuah kesempatan; “do not judge me my success. Judge my by how many times, i fell down and got back up again” (Jangan melihat saya dengan keberhasilan saya sekarang. Nilailah saya, berapa kali saya jatuh dan kembali bangkit). Jadi, belajarlah dari siapapun agar kita luas pandangan, dan tidak sempit mudah menyalahkan.

3. MAHATMA GHANDI
Nama lengkapnya, Mohandas Karamchand Ghandi,. Dikenal  dengan panggilan Mahatma Ghandi yang berarti —dari bahasa Sansekerta- Jiwa yang Agung. Lahir pada 2 Oktober 1869 di bagian Gujarat Negara India.

Dalam pendidikan ia dipandang berhasil sebab sempat belajar hukum di negara Ingris. Dari sini, mengantarkan Ghandi pergi ke Afrika Selatan untuk mendalami tentang diskriminasi ras atau apartheid, yakni sebuah kebijakan penguasa yang memisahkan kelas kulit putih dan hitam. Dan perlu diketahui, akibat dari kebijakan ini, kelas kulit hitam selalu terdiskriminasi haknya, bahkan tidak bisa mengakses duduk di pemerintahan.

Kesadaran ini yang kemudian menginspirasi Ghandi aktif dalam gerakan kemanusiaan, tepatnya gerakan anti kekerasan. Spirit Ghandi, damai itu lebih penting dari pada membanggakan ras dan asal usul kita sebagai manusia.

Di Negaranya, Ghandi cukup berjasa dalam mengantarkan India merdeka dari Inggris pada tahun 1947. Meskipun, berisiko negaranya pecah menjadi India dan Pakistan, padahal perpecahan ini yang tidak diinginkan oleh Ghandi sebab kita sebenarnya bisa hidup bersandingan dengan damai sekalipun kita beda.

Ghandi konon, sekalipun beragama Hindu, sangat dekat dengan agama kristen dan Islam. Banyak spirit damai diperoleh dari kedalamannya memahami nilai-nilai luhur lintas agama. Bahkan, Ghandi dibunuh oleh komunitasnya sendiri, orang Hindu, karena dianggap dekat dan membela Muslim.

Itulah tokoh besar selalu berpikir besar. Tidak berpikir primordial dan asal usul dirinya. Ghandi adalah tokoh besar yang menginspirasi banyak tokoh di dunia kaitan perjuangan anti diskriminasi, anti kekerasan dan perdamaian antar sesama. Maka, sebagai tokoh bangsa, iapun tidak akan berpikir sempit hanya untuk kelompoknya senditi. Ia akan memikirkan semua, agar semua juga hidup bersanding dengan baik dan damai.

Salah satu warisan penting Ghandi dalam membangun prinsip Nasionalisme di India adalah: AHIMSA: gerakan anti kekerasan. Melawan penjajah  tanpa perang dan  mengutamakan damai, HARTAL: prinsip untuk tidak berbuat untuk kepentingan asing/Inggris, SATYAGRAHA: menutup rapat-rapat kerjasama dengan pihak Inggris, dan  SWADESHI: mencintai produk dalam negeri dan mengabaikan produk inggris.

4 prinsip Ghandi ini yang diyakini menjadi virus-virus perdamaian, yang dianut oleh tokoh-tokoh perdamaian dunia. Salah satu tokoh kita yang mengaguminya adalah Ir. Soekarno, khususnya tentang Nasionalism dan Gus Dur, tentang perdamaian, nilai-nilai humanisme kesetaraan.

Dari uraian singkat ini, penulis meyakini tiga tokoh di atas memilikidipancarkan benang merah sebagai Pendobrak Dunia. Bahkan, dengan mengutip dari beberapa sumber, nama Syaikh Yusuf ikut menginspirirasi dua tokoh setelahnya, yakni keduanya bertemu di Afrika Selatan, sekalipun di alam yang berbeda. Sebab era Syaikh Yusuf sangat jauh. Tapi, nasionalisme dan anti penjajah beliau nampaknya menjadi inspirasi Mandela dan Ghandi untuk menegaskan bahwa kita tidak boleh menghegemoni pihak lain, atas nama apapun. Dan Jangan ciptakan Kekerasan kepada Sesama.

Akhirnya, pancarkan perdamaian dan tanamkan kecintaan pada negeri. Inilah warisan peradaban tokoh yang layak kita pelajari dari tiga karakter dari asal usul yang berbeda. Ketika telah tiada, nama beliau telah diabadikan agar dipelajari dan diteladani. Semoga berkah, belajar dari leluhur, dari tiga Pendobrak dunia melawan arogansi penjajah dan arogansi kuasa yang tidak manusiawi. (*)

MAKASAR, 5 Februari 2018.