Politik

PMII Jatim Serukan Masyarakat Kawal Proses Pilgub

Selasa, 21 Mei 2013 20:37 wib

...
Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur Fairouz Huda, saat menyampaikan sambutan di acara Muspimda di Mojokerto (dok/santrinews.com)

Surabaya – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur menyerukan agar semua pihak turut mengawal dan mengontrol proses Pilgub Jatim 2013.

Seruan itu disampaikan Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur Fairouz Huda, mengingat pesta demokrasi di Provinsi Jawa Timur telah dimulai, yang ditandai dengan mendaftarnya para bakal calon gubernur dan wakil gubernur ke KPU Jatim.

“Sudah sepatutnya kontrol dilakukan, demi terwujudnya proses politik yang bersih dan bermartabat serta tergelarnya perjalanan demokrasi yang rasional, bersih tanpa manipulasi, dan berpihak pada kejujuran, keadilan, serta kebenaran,” kata Fairouz Huda, di Surabaya, Selasa 21 Mei 2013.

Dalam tahap pendaftaran bacagub-bacawagub Jatim kali ini terdapat hal yang cukup menyita perhatian publik. KPU mendapati dua partai non parlemen memberikan dukungan ganda.

Partai dimaksud adalah Partai Kedaulatan (PK) dan Partai Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), yang sama-sama memberikan dukungan terhadap dua pasangan calon berbeda, yakni Khofifah-Herman dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa).

Menurut Fairouz, hal itu merupakan ujian awal bagi KPU Jatim untuk menverifikasi lebih lanjut keabsahan dukungan PK dan PPNUI dengan berpihak pada aturan main yang ada dan tanpa terseret terhadap kepentingan politik masing-masing calon.

“Kalau KPU bersikap netral dan sesuai aturan, maka masyarakat dapat mendukung keputusan KPU. Kami menyerukan KPU untuk tidak menciderai proses demokrasi ini dengan tontonan konflik politik antarcalon dan partai-partai pendukungnya,” tegas mantan Ketua Umum PC PMII Malang ini.

Fenomena dukungan ganda tersebut, kata dia, akan menimbulkan tanda tanya besar di benak masyarakat, apakah hal tersebut murni kesalahan administratif surat rekomendasi partai atau hal itu adalah gambaran dari prilaku politik elit yang telah jauh dari nilai-nilai etik dalam menjalani proses politiknya.

“Dengan demikian, mari kita ikuti perkembangan politik ini dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan,” pungkasnya. (ahay/saif).