Buku

KH Afifuddin Muhajir, Faqih-Ushuli dari Timur: Melahirkan Diksi-diksi

Selasa, 20 April 2021 23:00 wib

...

Ketika membaca tulisan, ilmiah atau populer, saya senang mencari diksi yang dilemparkan para penulisnya. Jangan dikira ini pekerjaan gampang. Menurut teori, diksi itu beragam jenis. Dari penggunaan sinonim, antonim, homofon, polisemi, percakapan harian, konotatif, denotatif, hingga bahasa gaul.

Belum lagi bagaimana menempelkannya dengan baik dan indah pada kalimat. Keliru melakukan, Anda bakal seperti orang yang mengenakan kaos oblong hitam dan berjeans di atas panggung bersama sembilan habib bergamis yang tengah menggelar ratiban di hadapan ribuan manusia.

Diksi yang berhasil bikin pembaca terkejut dan terhibur, lahir dari kerja keras dan pengalaman. Bagaimana jika gagal? Setidaknya kita sudah berusaha. Kegagalan penulis yang tak mau melakukannya, menderita dua kegagalan: gagal menemukan diksi dan gagal menghibur pembacanya.

Saya masih ingat omongan Kang Acep Zamzam Noer, sastrawan asal Cipasung putra tertua Rais Am PBNU KH M Ilyas Ruchiyat periode 1994-1999. “Saya masih merasa punya persoalan dengan bahasa. Bahasa sudah saya akrabi, tapi belum saya taklukkan,” tulisnya dalam Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang terbitan Kepustakaan Populer Gramedia 2009.

Kata-kata dalam puisinya yang menggambarkan alam di masa-masa awal kepenyairan, dianggapnya belum mengarah pada imaji yang punya makna lebih dalam. Ia menyontohkan Pangrango, puisi yang dipahatnya pada 1980.

Dari sini
Tatkala cemara meluruh daun
Pohonan ngungun.
Kita melihatnya
Dan angin yang bergegas
Lepas ke arah kita.

Pada bagian lain, ia membandingkannya dengan Cipasung yang ia lahirkan pada 1987.

Tanpa ketam masih ingin ku panen kesabaranmu yang lain
Atas sajadah lumpur aku tersungkur dan terkubur.

Membaca kalimat ini saya bergidik. Itulah diksi! Coba bedakan jika Kang Acep menulis “sujud” ketimbang tersungkur. Dua kata beda imaji. “Ingat kata-kata itu satu-satunya perkakas yang Anda punya. Pelajari untuk menggunakannya dengan orisinil dan perhatian. Dan ingat pula: di luar sana, seseorang tengah mendengarkan,” kata William Zinsser dalam On Writing Well. Ia sengaja memilih diksi mendengar. Sebab, katanya, penulis prosa yang baik harus bagian dari penyair, selalu mendengarkan apa yang mereka tulis.

Jadi, ketika saya menerima kiriman buku K.H. Afifudin Muhajir Faqih-Ushuli dari Timur edisi revisi terbitan Tanwirul Afkar, saya membaca puluhan tulisan. Bukan hanya ingin memahami isi, saya ingin menemukan diksi-diksi penting dan unik yang perlu saya petik.

Saya memang membaca tulisan “Kiai Afif dan Jejaringnya” dalam Epilog. Satu kali saja. Sebab, lebih dua kali mungkin biasa mengidap penyakit “narsis kronis” sebab membaca tulisan sendiri berkali-kali.

Saya mulai dengan membaca tulisan para senior. Kata orang posisi senior itu satu tingkat di bawah mertua, perlu dihormati semampu kita. Jangankan benar, salah pun mereka harus kita hormati. Itu etika yang saya tahu. Mengapa begitu? Saya tak tahu persis jawabannya. Untuk kesempatan ini cukup lima orang saja.

Di antara lima tulisan itu, tulisan Mas Moqsith Ghazali, “Kiai Afif: Sanad Ilmu Hingga Puisi Bertendens”, paling banyak menempelkan diksi yang penting saya catat: puisi bertends, transparan-tembus pandang, silang-sengkarut, berkelana, konservasi (untuk maksud pikiran-pikiran lama). Bayangkan, silang-sengkarut itu macam mana ruwetnya. Konservasi biasanya urusannya dengan hewan dan alam. Tiba-tiba saja jadi mengurusi kitab kuning.

Terbanyak kedua, diduduki Mas Rumadi Ahmad dalam “Kiai Afif, Ushuli yang Faqih”. Ada beberapa diksi yang bisa saya jumput antara lain: klemak-klemek, girang, tangan dingin. Ia juga menulis frase “santri terbaiknya” untuk merujuk Mas Moqsith Ghazali. “Terbaik” sebetulnya diksi yang biasa dan kurang memiliki daya kejut. Rasanya akan berbeda jika diksi yang dipilih “santri paling jos”, misalnya, atau “santri top markotop”, umpamanya. Saya memang tidak sedang bicara diksi di sini, tapi hendak tahu apa maksud tersembunyi di balik penyebutan “santri terbaiknya” itu hingga dua kali.

Tulisan senior berikut ini lebih gawat lagi: Mas Ahmad Suaedy dalam “Kiai Afif, Kalem dalam Tampilan Radikal dalam Pemikiran”. Ia memilih diksi “radikal”. Mendengarnya saja saya bergidik. Jangan-jangan sebentar lagi dipanggil BNPT. Tetapi, tujuan Mas Suaedy ini jelas mulia. Radikal di sana berarti pikiran yang sangat mendasar, bukan radikal yang begituan. Diksi lain lagi yang tak kalah membetot: otodidak jiddan, alias sangat otodidak. Ada lagi diksi “pembalikan”, tepatnya pembalikan perspektif.

Sekarang giliran Mas Marzuki Wahid yang menulis “Kiai Afif, Sang Pemikir Substansialis-Kontekstual”. Saya menduga, penggunaan diksi substansialis-kontekstual juga bukan pekerjaan main-main. Sebab betul-betul harus dipikirkan mendalam. Boleh jadi istilah ini muncul setelah ia bolak-balik membaca tulisan Kiai Afif dan baru yakin begitulah adanya pemikiran Kiai Afif: substansialis-kontekstual.

Dibanding diksi itu, saya lebih suka pilihan kata yang ditempelkannya pada bagian akhir tulisan halaman 72: dikunyah-kunyah hingga lembut –untuk maksud teks-teks kitab kuning. Saya duga, ini pilihan realistis dan tepat ketimbang memilih “dilumat-lumat” yang dapat membangunkan imajinasi yang jauh dari maksud penulis.

Meski sangat sepi dari diksi aneh-aneh, tapi penting saya katakan, saya senang dengan “auto sungkem” yang dibuat Mbak Nur Rofiah dalam “Kemaslahatan dan Perempuan” dan “jago kandang” yang dipilih Mas Syafiq Hasyim dalam “Seorang Kiai yang Sarjana: Afifudin Muhajir”. Diksi itu saya temukan dalam rimbunan kalimat yang penting dari kedua penulis ini tentang Kiai Afif.

Dengan membicarakan itu semua, saya ingin menunjukkan pada para senior, di luar sana, seseorang memang tengah mendengarkan, seperti nasihat Zinsser. Seseorang dari Kalimulya Depok yang senang mencari diksi baru apa yang bakal mereka muntahkan. (*)

Kalimulya, 20 April 2021

Alamsyah M Djafar, Peneliti the Wahid Foundation.