Buku

Jihad Melawan Pesimisme

Minggu, 15 Februari 2015 19:15 wib

...

Judul : No Gain Without Pain
Penulis : Farel Rosey
Tebal : 192 Halaman
Penerbit : FlashBook (DIVA Press), Jogjakarta
Terbitan : I, Desember 2014
ISBN : 978-602-296-029-4
Peresensi : Zaitur Rahem

PEPATAH bijak menyatakan, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepiah. Untuk mencapai sukses, bahagia, suka, gembira idealnya melalui proses melelahkan. Proses yang melelahkan ini akan mengajari seseorang menjadi lebih terampil, dewasa, gigih, ulet dan mandiri.

Buku berjudul “No Gain Without Pain” memuat ramuan motivasi bagi orang-orang yang ingin berjaya. Kejayaan akan dicapai melalui proses menyakitkan. Tempaan proses menyakitkan seperti diisyaratkan buku ini akan membentuk seseorang dengan karakter hebat, multitalenta, dan berjiwa kesatria.

Sejarah membuktikan, orang-orang sukses di dunia memulai proses kesuksesannya dengan melelahkan. Sebut saja seperti Soekarno, Presiden pertama Republik ini. Sosok Soekarno adalah pribadi mandiri, ulet, tidak mudah putus asa. Sebagaimana diulas di dalam buku ini, optimis merupakan modal penting meraih kesuksesan (hlm. 32-37).

Optimis bisa diartikan dengan percaya diri. Rasa percaya diri seseorang dalam menata, menyiasati persoalan hidupnya akan menjadi jawaban dari masalah. Seseorang dengan jiwa optimis tidak pernah putus asa. Langkahnya akan kuat meski banyak rintangan yang dihadapi. Demikian sebaliknya, orang yang mudah putus asa akan menemukan penderitaan tak berkesudahan.

Sebagian masyarakat di Indonesia termasuk pribadi yang optimis. Ajaran luhur pancasila diantaranya adalah kerja keras. Kerja keras bukan berarti bekerja sepanjang waktu. Menghabiskan waktu hanya untuk pekerjaan. Akan tetapi, yang dimaksuk suka bekerja keras adalah disiplin dan ulet dalam melaksanakan profesi yang sedang digeluti (hlm 40-45).

Profesi apapun dengan sifat dan sikap disiplin akan mengarahkan seseorang bisa profesional. Nelayan yang ulet, suka bekerja keras akan mendapatkan hasil besar dari pekerjaannya. Hasil tangkapan nelayan bisa didistribusikan untuk kepentingan masyarakat luas.

Begitu pula dengan para pejabat. Pejabat yang memiliki etos kerja tinggi hasilnya akan dinikmati dirinya sendiri dan banyak orang.

Setelah kerja keras dan optimis, sukses bisa diwujudkan dengan merubah cara pandang. Pola pandang negatif terhadap satu usaha, pekerjaan atau cita-cita bisa membuat diri buta-tuli. Sebab, di saat pikiran manusia terjangkit virus pola pandang negatif, semua hal yang dilihat tidak akan pernah baik.

Perubahan pola pandang negatif menjadi positif bisa menawarkan kebencian terhadap objek yang disaksikan. Bagi seseorang yang memiliki pola pandang positif hidup menjadi sangat indah. Pola pandang positif juga akan menganulir niat-niat jahat terhadap orang lain. Sikap pola pandang positif ini sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Tujuannya, untuk menetralisir percikan konflik yang sengaja dibuat oleh pihak tidak bertanggungjawab.

Mulai dari diri sendiri
Buku setebal 192 halaman ini sarat dengan untaian nasehat. Sistematika penulisan bergenre ilmiah-populer merenyahkan suasana dalam pembahasan karya ini. Sulit menemukan sisi kekurangan dari buku. Apalagi, pemikiran konstruktif seperi ulasan buku ini sedang dicari banyak orang.

Sukses adalah pilihan terakhir bagi manusia di muka bumi. Cita-cita hidup memang adalah sukses. Membagun sukses tidak bisa dengan bermalas-malasan. Akan tetapi, melalui kerja keras tinggi.

Nasehat buku yang ditulis Farel Rosey ini esensinya adalah pisau-kritis bagi masyarakat Indonesia yang suka gengsi. Sebagian dari masyarakat menganggap kesuksesan adalah warisan orang tua. Sehingga, sejumlah generasi muda membiarkan diri terlelap dari kehebatan orang dekatnya.

Paradigma semacam ini akan mengacaukan kesuksesan besar di masa yang akan. Sehingga kunci pembelah persoalan ini adalah dengan merubah diri sebelum melangkah menggapai sukses. Komitmen diri sendiri menjadi taruhan untuk merangkai semua mimpi-mimpi sukses (hlm. 102-105). Setiap langkah seseorang akan menjadi aksi nyata dalam hidupnya. Sukses yang digapai oleh usaha sendiri berbeda dengan orang yang hanya menikmati sukses orang lain.

Semoga kehadiran buku ini menumbuhkan semangat kerja keras bagi bangsa Indonesia. Tidak ada persoalan hidup yang tanpa jawaban. Krisis multidimensional di Indonesia adalah teka teki hidup. Masalah mengajari masyarakat lebih pintar. Hidup akan terasa lebih hidup dengan kerja keras. Dengan catatan, kerja keras yang dilakukan semata untuk merubah nasib menjadi lebih baik. Selamat membaca! (*)

Zaitur Rahem, Dosen Fakultas Tarbiyah INSTIKA Guluk-guluk Sumenep. Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.