Buku

Menjernihkan Persoalan Tabarruk

Senin, 30 September 2013 20:28 wib

...

Judul Buku: Debat Terbuka Sunni VS Wahabi Di Masjidil Haram: Jawaban Terhadap Majalah Qiblati
Pengarang: Muhammad Idrus Ramli
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: Bina Aswaja
Tebal: x + 101 halaman
Peresensi: Syarif Hidayat Santoso

BUKU bergaya dialektis dan dialogis ini terbit untuk meramaikan bursa perdebatan ilmiah Islamiah di negeri ini. Buku karya ustadz Idrus Ramli ini menarik karena merupakan seri lanjutan dari ‘Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi’ yang diluncurkan beberapa tahun lalu.

Bedanya, buku ini merupakan bantahan ilmiah terhadap tanggapan seorang ulama Wahabi terhadap buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi. Salah satu bab dalam Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi ternyata dibantah oleh seorang ulama Wahabi Saudi yang pernah berdomisili di Jember, Syekh Mamduh Farhan Al Buhairi.

Melalui majalah Qiblati, Syeikh Mamduh membantah kisah perdebatan antara Syekh Abdurrahman Bin Nashir Al Sa’di dengan Sayyid Alwi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani di Masjidil Haram puluhan tahun silam.

Syekh Abdurrahman Bin Nashir Al Sa’di sendiri adalah seorang tokoh Wahabi ternama yang sangat alim namun juga ekstrim. Syekh Sa’di adalah guru ulama besar Wahabi Syekh Muhammad Salih Al Utsaimin. Namun, dalam suatu perdebatan terbuka yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa rencana sebelumnya, Syekh Sa’di mengakui kebenaran konsep kaum ahlu sunnah waljamaah tentang tabarruk yang diajukan Sayyid Alwi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani.

Bantahan ilmiah pertama Idrus Ramli difokuskan pada tiga hal yaitu kesahihan riwayat perdebatan Syekh Sa’di versus Sayyid Alwi, kesahihan tabarruk dalam kitab-kitab hadits serta takhrij hadits terhadap hadits istighatsah yang dilemahkan ulama Wahabi seperti Al Albani.

Dengan lugas dan logika ilmiah mematikan, Idrus Ramli mampu membuktikan bahwa kisah debat di masjidil Haram tersebut benar adanya. Idrus Ramli mampu mematahkan hujjah Syekh Sa’di yang menepis faktualitas kisah tersebut.

Menurut Idrus Ramli, riwayat diatas tegas adanya karena memiliki sanad ilmiah dari Syekh Al Azhari sampai kepada Syekh Abdul Fattah Rawah Al Makki, pengarang riwayat tersebut dalam kitab Tsabat-nya. Dengan logika munaqadhah, Idrus Ramli juga mampu membuktikan kesalahan logika ilmiah Syekh Mamduh.

Munaqadhah sendiri merupakan logika khas para ulama sunni ketika berhadapan dengan Wahabi. Dengan mengajukan Tanaqudh (kontradiksi) dalam pemikiran Wahabi, hujjah kaum Wahabi bisa dimentahkan justru dengan menggunakan kitab dan hujjah Wahabi sendiri.

Di era modern, Metode munaqadhah ini merupakan metode yang dipakai Sayyid Muhammad Bin Alwi, putra dari Sayyid Alwi dalam kitab ‘Mafahim Yajib An Tushahhah’ ketika berhadapan dengan kaum Wahabi kontemporer.

Hadits-hadits Nabi SAW tentang tabarruk serta amaliyah para sahabat dan ulama salaf tentang tabarruk juga diajukan sebagai dalil dalam buku ini. Ternyata tabarruk dengan air hujan juga dipraktekkan oleh Rasulullah, Ibnu Abbas dan Said Bin Musayyab.

Idrus Ramli juga menyebutkan fakta-fakta bahwa tabarruk dengan air hujan juga dipraktekkan oleh Ali Bin Abi Thalib menurut Ibnu Katsir dan Auf Bin Malik Al Asyja’i menurut Ibnu Al Arabi Al Maliki. Tabarruk juga dipraktekkan para ulama hadits terpercaya sejak Imam Syafi’i, Ibnu Khuzaimah, Imam Thabarani, Ibnu Hibban, Al Dzahabi, Al Maqdisi dan lainnya.

Takhrij hadits ‘Ya Muhammad’ juga dilakukan oleh ustadz Idrus Ramli untuk meneguhkan keyakinan kaum sunni tentang istighatsah dengan orang yang telah wafat baik Nabi, wali ataupun orang saleh. Takhrij hadits ini dilakukan untuk membantah pendapat kaum Wahabi yang melemahkan hadits tersebut.

Fokus kajian diarahkan pada Abu Ishaq Amr Bin Abdullah Al Sabi’i, yang dituding ikhtilath dan tadlis oleh ulama Wahabi. Dalam hal ini terlihat bahwa kapasitas ilmu hadits ustadz Idrus Ramli tak diragukan sama sekali. Walhasil, hadits tentang istighatsah ternyata terbukti benar adanya.

Buku ini betul-betul layak untuk dibaca baik oleh kaum sunni maupun Wahabi. Dan ada satu hal yang terpenting, kita (warga NU) menunggu bantahan ilmiah kaum Wahabi selanjutnya berkaitan dengan buku ini karena sampai hari ini buku ini tak terbantahkan. (*)

Syarif Hidayat Santoso, aktifis muda NU, Pustakawan buku dan Kitab.