Buku

Jejak Perjuangan Seorang Santri

Kamis, 07 November 2013 22:03 wib

...

Judul : Rantau 1 Muara
Penulis : A. Fuadi
Tebal : 395 hlm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Terbitan : Cet. II, Juni 2013
ISBN : 978-979-22-9473-6
Peresensi : Zaitur Rahem

Perjuangan meraih cita-cita adalah dokumentasi penting dalam kehidupan. Sebuah prestasi bisa dinilai dari seberapa besar perjuangan yang dilakukan. Prestasi yang diraih dengan perjuangan maha panjang dan melelahkan jauh lebih penting ketimbang prestasi yang sifatnya instans (langsung jadi). Sebab, prestasi hanya bisa diraih dengan proses-proses kreatif, inovatof dan terlunta-lunta dengan kesengsaraan. Ibarat pepatah, berakit-rakit ke hulu berenag-renan ke tepiah. Bersakit-sakit dahulu baru sukses diraih kemudian.

Novel tetralogi yang ditulis A. Fuadi ini mengajarkan semangat berjuang tanpa kenal batas. Novel bergengsi ini hendak mengingatkan pembaca akan nilai sebuah perjuangan yang dilakukan dengan dasar lelah dan tantangan super kusut.

Melalui tokoh Alif, novel ini mengarahkan pembaca bisa menjadi petualang ulung dalam menggapai cita-cita yang direncanakan. Setiap usaha akan membuahkan hasil. Meski, dalam kapasitasnya, hasil yang diberikan Tuhan setiap manusia berbeda-beda. Baik berbeda dari segi takaran dan kualitas yang diberikan.

Alif adalah sosok manusia yang memulai kesuksesannya dengan cerita memilukan. Pada mulanya dia hanya merencanakan sejumlah mimpi-mimpi masa depannya. Di sebuah pesantren terkemuka di Indonesia Alif menggembleng diri. Dia mencari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia ketahui. Mulai dari ilmu pengetahuan baru dan pengalaman-pengalaman hidup yang lebih romantis. Alif menempa diri. Berusaha menjadi sosok santri dengan kapasitas keilmuan memadai dan kualitas diri yang bisa diandalkan.

Segala bentuk mimpi dan keluh kesah dalam menjalani proses panjangnya, Alif bukukan dalam sebuah dokumentasi kehidupannya. Dia yakin bahwa pada saatnya apa yang sudah direncakan akan dia dapatkan. Man saara ala darbi washala (barang siapa yang berjalan dijalannya akan sampaidi tujuan).

Sosok Alif pada awalnya hanya melakukan percobaan aktifitas kehidupannya. Dia menjalani mimpi-mimpinya berbekal keyakinan. Dia merantau ke sebuah kota metropolitan dengan sejumput pertarungan hidup yang keras dan kasar. Alif harus tertatih menata hidupnya dari hari ke hari.

Setiap detik dia harus berpikir bagaimana bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Pilihan terakhir yang dia lakukan hidup di kota Jakarta itu adalah menjadi seorang penulis.

Karya-karya brilian dia ciptakan setiap saat. Dia mencoba peruntungan dengan mengirimkan sejumlah tulisannya ke sejumlah media massa lokal, nasional dan bahkan internasional. Tulisan-tulisannya yang menembus media akhirnya membuat namanya berjaya. Kejayaan namanya membuat hidupnya semakin tertata dengan baik.

Meki demikian, semua tidak berjalan lurus. Terkadang, Alif mendapatkan sejumlah rintangan dalam mejalani kehidupan di kota Jakarta. Sampai tangan takdir mengantarkannya menjadi orang Jurnalis. Di medan jurnalis itulah, Alif kemudian menata karirnya menjadi lebih maksimal. Dia bisa menembus sejumlah tempat-tempat penting.

Bukan hanya karir, Alif akhirnya tertarik kepada seorang perempuan yang sebelumnya tidak pernah direncanakan. Hubungan tersebut berjalan sebagaimana layaknya sepasang kekasih.

Alif memang sosok santri yang potensial dan pantang menyerah. Sukses yang diraih bukan menjadi halangan untuk terus berkarya. Setelah melewati masa-masa sukses di tanah air, akhirnya dia berhasil terbang ke negara super power Amerika Serikat untuk menjalankan tugas jurnalisnya.

Bahkan, selain Amerika serikat, sejumlah negara-negara penting dia singgahi. Nama Alif semakin terkenal, hingga ke kampung halamannya.

Novel ini sangat inspiratif. Di dalamnya memuat pesan penting tentang upaya meraih mimpi-mimpi dengan semangat tinggi. Semangat yang membara dengan disertai doa kepada Tuhan, mimpi yang direncanakan akan berujung kepada kebahagiaan. Yang paling penting, jalani tugas berdasarkan keyakinan dan potensi yang dimiliki. Selamat membaca! (*)

Zaitur Rahem, Kader muda NU. Alumnus Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.