Buku

Mengarungi Samudera Spiritual Al-Hikam

...

Buku Semesta Hikmah Al-Hikam Ibnu Atha’illah ini bukan buku biasa. Setidaknya sama saya yang memang kering secara spiritual.

Saya memperoleh buku ini langsung dari penulisnya, Gus Imam Sibawaih. Saya mengenalnya ketika dulu kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Meski beda jurusan kami dibesarkan dalam organisasi yang sama, PMII.

Buku ini adalah ulasan terhadap mutiara hikmah kitab Al- Hikam karya Ibnu Atha’illah. Kitab ini sangat populer di dunia pesantren, terutama diajarkan bagi santri senior. Bahkan di berbagai pesantren, para kiai banyak yang mengajarkan kitab ini kepada para alumni yang secara rutin datang ke pondok pesantren tiap bulan.

Ingat kitab ini saya ingat Almaghfurlah KHA Warits Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Kepada beliaulah saya bersama alumni Pesantren Annuqayah di kewedanan Timur Daya Sumenep mengaji. Seingat saya, beliau tidak begitu lama memberikan pengajian kitab ini karena duluan dipanggil oleh Allah SWT. Alfatihah.

Buku karya sahabat saya ini sangat bermanfaat, terutama bagi siapapun yang tidak memiliki waktu mengaji kitabnya, atau kurang/tidak bisa mengakses kitabnya secara langsung. Ulasan-ulasan terhadap untaian hikmah dalam kitab ini disampaikan dalam bahasa bertutur, puitis, dan ringan, tapi tetap mampu menjaga kedalaman isinya.

Kitab Al-Hikam adalah kitab tasawwuf. Kitab yang berisi untaian hikmah untuk masuk pada pergulatan dunia spiritualitas.

Membaca ulasan buku ini kita diajak untuk menyelami dunia spiritual, dimana beragama tidak melulu diukur dengan penanda simboliknya yang bersifat lahiriah, tapi harus masuk menyeruak isi atau substansi. Beragama seperti ini membutuhkan pergulatan luar biasa, karena harus melepas ke-ego-an dan pada saat bersamaan menyusupkan sikap ketawadlu’an.

Ya, beragama juga butuh sikap tawadlu (rendah hati). Tanpa-Nya kita bukan “apa-apa” dan bukan “siapa-siapa”.

Saya mau mengutip untaian hikmah 11 dalam buku ini.

ارفن وجودك فى ارض الخمول فما نبت مما لم يدفن لايتم نتاجه

“Tanamlah wujudmu pada tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam hasilnya tidak akan sempurna”

Ulasan Gus Imam disampaikan dengan intim, ringan, menggugah, dan puitis. Kita baca ulasannya:

“Mereka yang berbuat semata karena harus berbuat. Mereka yang bersuara karena semata harus bersuara. Mereka yang diam semata karena harus diam. Merekalah yang terpelihara kesombongannya. Mereka yang senantiasa memamerkan-Nya dan menyembunyikan kebaradaan dirinya……Sadarlah, bila kita masih merasa berharga dibanding orang lain, kita akan menjadi terbiasa dengan kepalsuan dan kepura-puraan….. “ (hal.19).

Satu lagi untaian Ibnu Atha’illah tentang ketawadhuan beragama diulas dengan puitis oleh penulis buku ini;

ماالعارف من ازا اشار وجد الحق اقرب اليه من اشارته، بل العارف من لا اشارة له لفناءه فى وجوده وانطواءه فى شهوده

“Tidak disebut arif orang yang jika memberikan isyarat ia merasa Allah lebih dekat daripada isyaratnya. Namun, orang arif adalah yang tidak mempunyai isyarat lantaran telah fana dalam wujud-Nya dan lenyap dalam penyaksian terhadapnya”.

Mari baca ulasan puitis Gus Imam Sibawaih;

“Bukanlah sikap yang pantas bila engkau sengaja mengungkapkan banyak kiasan agar engkau dianggap orang arif dan dekat dengan Allah…..(dst)”.

Kemudian Gus Imam melanjutkan dengan ulasan puitis juga;

“Diamlah dalam kedekatanmu dengan-Nya. Biarkan prilakumu yang membicarakannya kepada orang-orang di sekitarmu. Karena mereka yang telah hidup bersama-Nya, tidak membutuhkan “tanda pengenal” saat bersama makhluk-Nya.

Dua ulasan Gus Imam atas dua untaian hikmah Al-Hikam tentu tak cukup merekam kedalaman buku ini, karena di buku ini ada 264 untaian hikmah Al-Hikam (dibagi dalam 30 bagian) yang berarti ada 264 ulasan penulisnya.

Kehadiran buku ini menurut saya sangat tepat di saat fenomena keberagamaan marak terutama melalui medsos yang sayangnya kurang memberikan kedalaman dan kehangatan spiritualitas. Kecuali muncul dengan wajah garang, kaku, dan kurang menggetarkan kalbu. (*)

Pulau Garam, Juli 2019