Cerpen

Sungguh

Selasa, 15 Januari 2013 15:49 wib

Oleh Muthmainnah Ja’far

Sungguh, aku tergila-gila pada sosok yang Tuhan pertemukan aku dengannya sewaktu aku akan berangkat sekolah. Tapi aku juga telah sakit, karena hidup di rerumputan yang berduri ini. Maka akupun rapuh sehingga ketidakpastian menjadi jawaban atas hati yang telah lama bernyanyi, bermimpi dan berharap.

Seperti yang ku lakukan pada sunyi dan gelap. Ketika semua yang menatap senang berdialog bersama raga dirinya yang samar. Aku mulai bernyanyi dan tak satupun dari mereka mendengar suara peratku. Karena malam lebih mengajak mereka untuk bermain-main di negeri mimpi. Dan aku tidak ingin mereka tahu akan nyanyianku. Sebab, jikalau mereka tahu aku akan dipaksa menari dihadapannya. Memalukan. Semoga hanya Tuhan yang tahu dan menjaga hati yang sudah tak perawan ini.

Di saat aku mulai menyapa dan mendekatinya melalui malam yang Tuhan cipta. Tanpa ku sadari  ada yang lebih dulu menyapa dan mendekatinya dengan kesempurnaan yang dia miliki. aku merasa tubuhku lemah. Saat ku dengar suara yang mengatakan dia telah menjadi pangeran di istana perempuan itu. Aku menangis sejadi-jadinya, seperti orang yang kehilangan permata. Hingga air  mata membentuk genangan yang hampir menenggelamkanku.

“Tak usah kau menangis…, mimpi itu adalah milikmu,” suara sahabatku mengejutkanku. “Harapan yang harus kau bentuk dalam nyata. Bukan malah kau terlelap dalam mimpi burukmu itu,” imbuhnya lagi. Dan kata-katanya cukup membangunkanku dari alam yang tanpa kusadari merusak citraku. Tapi, dari aman dia tahu tentang hati yang bernyanyi? Pikirku dengan dahi mengernyit. Dan ternyata dia tahu  akan kebingunganku.

“Aku sempat membaca catatan irama hati mu yang berserakan di lantai,” kata sahabatku yang berlalu pergi meninggalkanku untuk shalat lail. Aku menjadi malu, karena ada orang yang menelanjangi rasa ini, sebab kelalaianku. Tapi, aku percaya kepada dia. Tak mungkin dia menginformasikan keadaan ini pada semuanya. Ya, semoga saja begitu.

Keadaan tadi malam masih terasa dalam hatiku. Aku merasa malu untuk menyapa semua orang, apalagi sahabatku yang telah tahu suasana hati yang lagi kasmaran. Ah, buat apa aku memikirkan hal ini. Bukankah semua orang pasti pernah merasakan apa yang aku juga rasakan? Yang seharusnya aku lakukan sekarang adalah bagaimana aku harus menjalani perasaan ini dari segala hal yang tak diridhai. Walau kenyataannya dia tak peduli pada perasaanku dan aku merasa nikmat mendewakan rasa ini. Karena aku belajar dewasa dari rasa yang membuntutiku.

Bagaimana keadaan hatimu?” tiba-tiba sahabatku menanyakan kabar hati yang dilanda ketidakpastiann. “buat apa kau menanyakannya padaku? Bukankah hatinya telah ada yang memiliki? Dan nyanyian itu bukan milikku.” Pura-puraku dalam menutupi keadaan, agar sahabat percaya bahwa tidak ada perasaan dalam hatiku. Tapi nyatanya sahabat tetap percaya. “Aku katakan, tidak ada hati yang terluka tapi hanya ada hati yang tidak mau mengatakan,” begitu kata sahabatku sebelum dia beranjak dari tempat duduknya.

Sempat aku berpikir apa yang dikatakan sahabatku memang benar, bahwa rasa harus dikabarkan kepada pemiliknya. Bukan malah dibiarkan hingga ia membusuk dalam diri. Tapi, bagaimana aku harus mengatakan, sedangkan aku adalah pribadi yang lemah. Dan aku tidak mempunyai bekal untuk melangkah pada yang lebih nyata; dengan mengungkapkan rasa. Pula, aku adalah perempuan, tak menyatakannya kepada nya meski saat ini aku telah mengenalnya. Apalagi, dia telah mempunyai orang yang akan menyayanginya sepenuh hati melebihi aku. Ya, lagi-lagi aku harus menelan sakit. Tapi tak pa-apa. Sakit ini merupakan bukti bahwa aku kuat menahan hal yang membuat orang-orang frustasi.

Aku kembali meyapanya dalam malam. Tak henti-hentinya aku bernyanyi untuknya. Hingga sahabat yang tahu nyanyian ini, menamparku dengan kata-katanya, yang membuatku harus menghentikan alur nyanyian ini. “kau telah melakukan hal yang bodoh dengan membohongi dirimu sendiri dan memuat sakit. Cobalah kau bercermin pada masalalu orang. Semua punya maksud atas hati yang bergelora dan mereka melakukan bukan dalam keadaan yang narsis, dengan mendewakan tanpa ada usaha yang dinyatakan.

Kiranya sahabat sangat prihatin dengan keadaanku yang tidak pasti.  “Aku lebih baik bermimpi daripada harus membuat orang lain tersiksa. Malah aku lebih bahagia melihat orang kusayangi hidup bersama orang yang akan membenahi kekurangannya dengan kelebihan yang dia miliki,” kataku untuk menutupi perasaan yang galau.

Agar sahabat tidak tahu bahwa aku benar-benar sakit dan tak bisa menghilangkan rasaku padanya. Makanya aku lebih suka bermimpi bersama perasaan yang tak mungkin tercipta dalam nyata. Sahabatku berkata lagi. “Kamu bukan orang cacat, aku pikir kamu kaya dengan kesempurnaan. Orang yang kamu sayangi tidak akan mengingkari keadaanmu yang sesungguhnya. Informasi yang kau dengar belum tentu adanya. Itu hanya cobaan bagi orang yang kaya hati. Ingat, Tuhan punya cara sendiri bagaimana Dia akan mewujudkan cinta orang-orang yang menjaganya dari hal yang dilarang. Dan kau telah menjadi budak dari rasa yang kau miliki. Ini adalah  akibat karena kau  masih terlelap dalam  mimpimu,”begitu sahabatku berkata.

Hal yang membingungkan. Sahabat lain berkata, bahwa sebenarnya dia juga punya hal sama dengan ku. Cuma di antara kita dilema, khawatir tak saling menerima. Ah, tapi dalam pikirku. Masak iya? Dia punya hal sama denganku? Bukankah, dia telah berpunya hati?. Ah, cepat-cepat aku buang pikiran ini agar aku tidak kecewa nantinya. Ternyata aku lebih suka bermain sendiri dengan perasaan  ini.

Subuh membangunkanku setelah tadi malam aku banyak bernyanyi padanya. Dan aku merasa sangat sakit. Realitas telah membuatku tak semnagat tuk jalani semuanya. Benar apa yang dikatakan sahabatku, bahwa aku telah diperbudak oleh rasa yang aku dewakannya. Sahabatku bilang bahwa rasa akan memperbudak kita jika kita hanya terlena pada buaian yang tidak pasti.

Aku menjadi bingung. Haruskah aku mengatakan padanya bahwa aku benar-benar mengaguminya? Atau aku harus menelan pahit dengan membuangnya bersama angin? Sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan jika aku mengatakan perasaan ini padanya. Karena sangat memalukan. Lebih baik aku bermimpi saja dan cuek dengan apa yang telah dikatakan sahabat padaku. Karena, bermimpi bagiku adalah hal yang tak mungkin bersuara tapi cukup bersahaja. Dan berharap, mungkin keputusanku yang terakhir. (*) Muthmainnah Ja’far, santri Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk – Sumenep