Cerpen

Cinta Lelaki Biasa

Sabtu, 24 Agustus 2013 05:39 wib

...

Oleh Asma Nadia

Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan mengapa ia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilaluinya, gadis cantik itu sadar. Keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang. Mama, Papa, kakak-kakak, tetangga, dan teman-temannya. Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?” Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar lembut dan dalam. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang mungkin beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tetapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, bahwa ia tak punya kata-kata.

Dulu gadis berwajah indo itu mengira akan mempunyai banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, mengapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang cerdas berbicara mendadak gagap.

Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tetapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan bahwa mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana tiba-tiba hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang masih balita melongo menatap Nania.

“Nania serius!” Tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

“Tidak ada yang lucu.” Suara Papa tegas.

“Ayah hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik.”

Nania tersenyum. Sedikit merasa lega karena kalimat yang Papa katakan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar, sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara. Masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa.

“Maksud Mama, siapa saja boleh datang melamar. Siapapun. Tetapi jawabannya tidak harus iya, kan?”
Nania terkesima.

“Kenapa?”

“Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.”

“Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara membaca puisi tingkat provinsi. Dan suaramu bagus.”

“Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau.”

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat ia kasihi. Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka.

“Nania hanya mau Rafli.” Sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.

“Tapi kenapa?”

“Sebab Rafli hanya laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.”

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

“Cukup!” Nania menjadi marah.

“Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal, hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?”

“Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.”

Gadis itu tak punya fakta dan data yang bisa membuat Rafli tampak luar biasa. Nania hanya mempunyai idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntunnya menapaki hidup hingga umur dua puluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya ia merasa bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu. Masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang ia lihat dari Rafli. Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli. Begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari tutur katanya, tatapan matanya, dan cara ia memberikan kewajibannya kepada Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

“Tak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.” Nada suara Nania tegas, mantap dan tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantik kamu! Kamu adalah adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar. Ya betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

“Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!”

“Betul. Tapi dia juga tidak ganteng, kan?”

“Rafli juga pintar!”

“Tidak sepintar dirimu, Nania!”

“Mas Rafli juga sukses dan pekerjaannya lumayan.”

“Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu!”

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan. Kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

Kakak-kakak Nania tega mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi Nania akan mempunyai anak.

***

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih keras setelah mereka memiliki anak. Padahal itu tidak perlu, sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang mencukupi mereka.

“Tak apa, Nia.” Kata lelaki itu ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

“Gaji Nania cukup, Mas. Maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Mas.”

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi ia tak perlu khawatir, sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap maksudnya yang baik.

“Sebaiknya gaji Nia tabungkan saja, untuk jaga-jaga, ya…” Lalu ia mengelus pipi Nania. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan mengapa ia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

***

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang. Uang mengalir begitu mudah. Rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak.

Bisik-bisik masih terdengar. Setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Ayah dan Mama.

“Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.”

“Cantik. Dan kaya.”

“Tak imbang.”

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih. Tetapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh ia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

***

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung anak yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Tak ada tanda-tanda akan lahir dari bayi yang terkandung di rahim Nania. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta anda sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Ibu Nia. Harus segera dikeluarkan.” Kata dokter Ani.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu sholat ia meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan sholat di sisi tempat tidur Nania. Sementara kakak-kakak serta orang tua Nania masih belum satu pun yang datang.

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania itu memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat sehingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Anehnya meski obat kedua sudah dimasukkan, dua jam setelah obat pertama Nania masih tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania.

“Baru pembukaan satu.” Kata dokter berjilbab hijau muda itu.

“Belum ada perubahan, Bu?” Rafli cemas.

“Maaf dokter, sudah bertambah sedikit.” Kata seorang suster yang seolah menyampaikan harapan.

Nania dan Rafli berpandangan.

“Sekarang sudah pembukaan satu lebih sedikit, Mas.” Kata Nania sambil tersenyum. Ia mulai kelihatan lemah.

Delapan jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah dan didahului keluarnya darah. Mereka terlonjak bahagia karena biasanya kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

“Masih pembukaan dua, Pak.” Tegas dokter.

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu semakin lemah. Sejak pagi tak sesuap nasipun bisa ditelannya.

“Mas…”

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Lalu dokter memasuki kamar.

“Dokter?”

“Kita harus operasi, Ibu. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

“Innalillahi wa innailaihirojiun…”

Rafli dan Nania berpandangan.

“Ya Allah berilah istri hamba kekuatan.” Kata-kata Rafli halus menyentuh pipi Nania.

“Mengapa tidak dari tadi kalau begitu, Dok? Bagaimana jika terlambat?” Tegas Rafli.

Mereka berpandangan kembali. Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia sangat bahagia karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.

Pembiusan dilakukan. Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat diletakkan di perutnya sehingga dia tidak bisa menyaksikan keterampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak henti-hentinya melafalkan dzikir.

Tak lama kemudian seorang dokter keluar. Rafli dan keluarga Nania mendekat.

“Pendarahan hebat!”

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

“Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi Ibu Nania selamat. Tetapi Ibu Nania dalam kondisi kritis.”

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orang tua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tertegun beberapa saat. Ada rasa cemas yang mengalir di setiap pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan. Menyebar dan cepat meluas seperti kanker.

Hari-hari itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah lima hari Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan. Fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit. Sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anaknya di rumah. Untunglah pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Karena dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Al Quran kecil. Dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu membaca Al Quran. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

“Nania, bangun, Cinta…”

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan istrinya. Tak jarang pula ia selalu mencium kening istrinya.

***

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berpikir untuk pasrah. Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit. Mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang Rafli membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan dan lembut. Tak bosan-bosannya berbisik.

“Nania, bangun, Cinta…”

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya. Senyum di bibir Nania. Semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, adalah Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di samping itu, Rafli tak memedulikan yang lain. Tidak wajahnya yang lama tak bercukur. Atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di matanya, gerak bibirnya, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tertidur terlalu lama.

***

Pada hari ketigapuluh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan puji syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

“Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.”

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus-ratus kali dalam doanya. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama tujuh tahun. Memandikan dan menyuapi Nania. Lalu mengantar anak-anaknya ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan membopong Nania ke teras. Melihat senja datang sambil memangku Nania.

Ketika malam ia mendandani Nania agar terlihat cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu. Memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa lebih baik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tetapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania. Membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula ia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, dan ke tempat yang mereka sangat sukai untuk menikmati matahari senja, Nania harus ikut. Anak-anak dan juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba. Lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari. Mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan. Juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya.”

“Lelaki lain mungkin sudah mencari perempuan kedua.”

“Nania beruntung.”

“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

“Tidak. Tidak cuma menerima apa adanya. Kalian lihat bagaimana suaminya memandangnya penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam.”

Bisik-bisik yang serupa dengungannya dan sempat membuat Nania semakin frustrasi.

Tetapi ia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik. Mungkin selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan Ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tertawa melihat kocaknya permainan. Ya, duapuluh tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua. Anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa ia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia. Meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta yang luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah untuk Nania.