Cerpen

Hati Perempuan

Minggu, 06 Oktober 2019 10:00 wib

...
Ilustrasi laki-laki poligami (santrinews.com/istimewa)

Kadang Zulaika merasa tak tepat. Dirinya yang sudah menikah selama tujuh tahun justru sering curhat masalah rumah tangga kepada Rubba yang masih lajang dan tentu saja belum punya pengalaman menikah sama sekali.

Kadang Rubba tertawa ketika Zul menyatakan kejanggalan ini. Tetapi terbukti Rubba selalu dapat memberikan pandangan-pandangan yang menyelesaikan masalahnya.

“Memang, sih, pengalaman menjalani aku belum pernah. Tapi pengalaman membaca dunia sekitar, membaca buku, pengalaman berpikir, bisa jadi membuatku seolah pernah mengalami masalah rumah tangga.”

Zulaika membenarkan dengan anggukan.

Tetapi kali ini Rubba sungguh terkejut dengan curhat Zulaika.

“Suamiku meminta izin untuk menikah lagi, Rub,” tutur Zul pelan.

Rubba tak langsung merespon sampai Zulaika meneruskan ceritanya.

“Kau tahu kan, kami menikah sudah tujuh tahun dan belum dikaruniai seorang anak. Itu alasan suamiku ingin menikah lagi.”

Rubba masih diam dan dalam hati dia merasa gemas akan kemudahan kaum laki-laki untuk memiliki istri lebih dari satu.

“Kalian sudah memeriksakan kesehatan?”

“Aku sudah pernah, kondisiku sehat. Suamiku hanya ke tabib, katanya dia pun tak apa-apa.”

“Tabib tahu apa soal kesehatan reproduksi?” Rubba langsung skeptis.

Zul menggelengkan kepala. “Entahlah, Rub. Faktanya sekarang suamiku meminta izin menikah lagi. Bagaimana aku harus menjawabnya?”

“Tidak ada perempuan yang rela suaminya menikah lagi,” putus Rubba.

Zul mengangguk. “Tapi aku akan mengizinkan.”

Rubba kaget. “Kau?”

“Ya, dengan satu syarat.”

“Harus adil?” sambar Rubba.

“Bukan. Tidak ada poligami yang adil kalau urusannya adalah kasih sayang. Kalau cuma soal nafkah lahir sih bisa dikalkulasi. Tapi siapa di dunia ini yang dapat mengkalkulasi perasaan?”

“Lantas apa syaratmu?”

“Aku tidak tahu apakah aku sudah gila. Aku akan memberi syarat, jika dalam waktu tujuh bulan madu-ku itu belum juga hamil, suamiku harus menceraikannya.”

Rubba ternganga. “Kau seperti bermain-main…”

“Aku yang dianggap salah karena belum juga hamil. Kalau sampai tujuh bulan nanti istri suamiku itu belum juga hamil kan berarti suamiku yang tidak bisa membuahi?”

“Kalau ternyata istrinya berhasil hamil?” kejar Rubba.

“Aku akan mundur dari pernikahan kami.”

“Kalau suamimu tidak ingin bercerai denganmu?”

“Aku tetap ingin bercerai. Kau mau mendukungku atau tidak?”

“Zul, ini bukan partai, bukan pemilihan, bukan soal dukung mendukung atau tidak, tapi ini soal besar. Ada banyak teori yang mengatakan, bahwa laki-laki yang menikah lagi sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya masih cinta pada istri pertamanya.”

“Cinta semacam apa? Cinta yang bagai pinang dibelah dua?” Zulaika mencibir.

“Memang itu cuma teori, tapi teori juga ilmu Tuhan. Kita tidak pernah tahu apakah hati laki-laki memang tercipta dengan karakter mendua? Kurasa perempuan pun begitu, hanya agama dan moral saja yang melarang seorang perempuan mempunyai dua suami. Seandainya dibolehkan, mungkin lebih banyak perempuan yang poliandri daripada laki-laki yang berpoligami.”

“Kau teori lagi. Dulu kau mengatakan bahwa kau menentang poligami sehingga sampai sekarang kau belum menerima satu laki-laki pun untuk jadi suami. Sekarang, mengapa seolah kau memaklumi kaum laki-laki?”

“Entahlah, Zul.”

Zulaika menghela nafas. “Sudahlah, kita jangan bicara teori lagi. Sekarang, aku hanya ingin tahu apakah syarat yang hendak kuajukan pada suamiku cukup adil?”

Rubba menggeleng. “Dalam hal ini pun keadilan tak bisa diukur. Kalau kau ikhlas diduakan, katakanlah tanpa syarat. Kalau kau tak ikhlas, pilihlah jalan yang dibenci Tuhan itu, bercerai. Bagaimanapun kau berhak memilih. Kau yang tahu bagaimana hati suamimu selama ini. Seandainya aku yang jadi kau, aku akan memilih bercerai…”

“Dalam masalahku ini pun, suamiku tidak lantas ingin bercerai. Dia hanya minta izin menikah lagi. Kalau tidak kuizinkan, bagaimana kalau dia diam-diam tetap melaksanakan niatnya di belakangku? Bukankah lebih baik kuizinkan saja, tapi dengan syarat?”

Rubba diam. Dalam hati sebenarnya dia memuji Zulaika yang tetap tenang. Adalah aneh Zulaika tak menampakkan rasa marah atau sedih yang berlebihan karena permintaan suaminya untuk menduakan cinta itu.

“Aku tak harus mengamuk atau meraung-raung untuk menunjukkan sakit hatiku, Rub.” Zulaika menghela nafas. “Sakit hatiku tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi aku mencoba tenang dan berpikir realistis. Toh meraung-raung pun tidak akan mudah menghentikan niat suamiku untuk menikah lagi. Aku justru berpikir, masih baik suamiku meminta izin daripada diam-diam menikah lagi dan aku mendengar dari orang lain…”

“Kalau nanti madu-mu benar-benar tak bisa hamil dan kita simpulkan suamimu yang bermasalah apakah kau berencana meminta cerai dan menikah lagi dengan orang lain agar kau punya anak?”

Lagi-lagi Zulaika menghela nafas. “Pernikahan bukan permainan, Rubb. Ketika menikah, sepasang manusia berjanji di hadapan manusia lain dan tentu saja Tuhan, untuk menjaga amanah jodoh. Aku tidak bisa membayangkan diriku mudah bercerai dan mudah menikah lagi seperti seseorang yang bosan dengan satu pakaian dan menggantinya dengan yang baru. Sekalipun dalam kitab suci dikatakan bahwa istri-istri adalah pakaian bagi suami-suami dan sebaliknya suami-suami juga pakaian bagi para istri, tapi bukan berarti seperti pakaian secara lahiriah yang mudah kita ganti jika kita bosan. Aku tak bisa begitu.”

“Jadi kau akan kapok menikah dan akan menjanda terus?”

“Rubb, jodoh di tangan Tuhan. Aku tidak tahu apakah ada dua jodoh bagiku dan suamiku ataukah hanya suamiku saja jodohku, sedang suamiku punya jodoh lain selain aku, aku tak tahu. Itu rahasia Tuhan.”

Rubba diam. Dia berpikir betapa beratnya pernikahan. Tidak menikah pun bukan berarti tidak punya masalah. Tapi melihat pernikahan sahabatnya yang kini bertemu kemungkinan untuk bercerai atau ber-madu, membuat Rubba semakin tidak ingin menikah.

Adakah seorang laki-laki di dunia ini yang dapat menjamin bahwa laki-laki itu tidak akan berpoligami? Dicari-cari atau tidak, dimana-mana laki-laki selalu punya alasan untuk bisa berpoligami. Mulai alasan belum punya anak, daripada berzina, hingga alasan yang paling ekstrem yaitu tak cukup dilayani satu istri.

Kadang Rubba jijik dengan laki-laki yang begitu ego dan angkuh karena ada pembenaran suatu agama tentang poligami. Padahal Rubba membaca, di zaman Nabi dan para sahabat, poligami itu dijadikan solusi hukum jika terpaksa suami berjauhan dengan istri karena tugas agama dan keadaan perang. Sama sekali tidak dianjurkan oleh Nabi di luar hal itu.

“Rubb, bagaimana kalau aku yang melamarkan perempuan calon madu-ku itu?” Pertanyaan Zulaika memecahkan lamunan Rubba.

Rubba otomatis melotot. “Mau jadi pahlawan poligami ya?”

“Bukan begitu, Rubb. Aku justru ingin agar madu-ku itu nanti tidak menyepelekan aku sebagai istri pertama.”

“Kau benar-benar rela memiliki madu?”

Zulaika mengangguk. “Ya, dengan syarat itu. Aku pun akan mengatakan hal yang sama pada perempuan itu.”

Rubba jadi tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba dia merasa kecewa sekali. Entah pada siapa.

Minggu berikutnya ia bertemu Zulaika lagi. Rubba tidak mengerti apa makna senyum Zulaika yang mengembang. Rubba tak ingin menebak-nebak. Adakah ia sudah ber-madu, bercerai atau suaminya menarik kembali permohonan poligaminya? Atau justru Zulaika berhasil hamil setelah gagal dalam tujuh tahun ini?

Zulaika menarik tangan Rubba. Rubba hanya sempat menyambar tas tangan di meja dan mengikuti Zulaika. Zulaika melaju ke arah jalan kota. Dan berhenti di sebuah kafe.

Tanpa bertanya lebih dulu Zulaika memesan menu untuk mereka berdua.

“Hidup memang aneh, perempuan memang aneh, laki-laki memang aneh pula,” Zulaika tersenyum-senyum.

“Iya, kamu juga aneh!” Cetus Rubba.

Zulaika tertawa. “Rubb, aku bilang kan padamu untuk melamarkan perempuan itu untuk suamiku?”

Rubba mengangguk.

“Nah, perempuan itu justru menolak karena aku, calon madu-nya ini yang melamar. Dia katakan tidak bisa menerima suamiku untuk menjadi suaminya.”

“Apakah dia tak secantik kamu?”

“Justru dia cantik. Entah, dia hanya bilang tidak bisa. Aku pun tak mendesaknya.”

“Masalahmu belum selesai, Zul.” Rubba memandang Zulaika dengan tatapan kritis.

Zulaika mengibaskan tangan. “Aku tahu maksudmu. Menurutmu mungkin nanti akan ada perempuan lain lagi kan?”

Rubba tak menjawab. Bukan itu yang ada dalam pikirannya. Tapi dia tak ingin merusak ketenangan hati Zulaika. Setidaknya saat ini. Jauh dalam benaknya Rubba berpikir mungkin perempuan itu malu karena Zulaika yang melamar.

Tapi bukan tidak mungkin perempuan itu tetap menerima suami Zulaika untuk menjadi suaminya tanpa sepengetahuan Zulaika. Bukankah tidak sedikit di dunia ini yang bersedia menjadi istri rahasia? (*)

Juwairiyah Mawardy, pendidik dan ibu rumah tangga. Menyenangi sastra sejak usia sekolah hingga kini. Tulisannya ersebar di berbagai media lokal dan nasional. Tinggal di kota ukir, Karduluk Sumenep.

Sumber: SantriNews Biro Madura