Daerah

Bid’ah Sudah Ada di Masa Nabi: Tak Bertentangan dengan Sunnah

Kamis, 21 Januari 2021 16:30 wib

...

Nabi pernah menyikapi bid’ah. Alkisah, ada sahabat membaca i’tidal tak seperti yang diajarkan Nabi.

Sumenep – Perlu pemahaman arti bid’ah secara benar sebelum memutuskan bahwa suatu perkara diklasifikasikan sebagai bid’ah atau tidak. Sehingga tidak mudah menvonis sesorang sesat karena telah melakukan bid’ah. Bahkan, bid’ah sudah ada pada masa Nabi Muhammad SAW.

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Radlatut Thalibin, Kolor, Sumenep, KH Ahmad Halimy saat mengisi pengajian kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, di sekretariat PC GP Ansor Sumenep, Rabu, 20 Januari 2021.

Pengajian kitab karya KHM Hasyim Asy’ari itu digelar Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Sumenep setiap dua minggu. Pengajian diasuh Kiai Halimy.

Baca juga: Doa Buka Puasa Allahumma Laka Shumtu yang Dituduh Dlaif & Bidah

Kiai Halimy menjelaskan bahwa bid’ah sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad dan sudah memberikan contoh bagaimana menghadapi perkara baru yang tidak pernah diajarkan Nabi SAW.

“Bid’ah sudah ada pada masa Nabi. Dan Nabi Muhammad pernah menyikapi bid’ah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa KH Mohammad Ishom Hadziq dalam pengantar kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah mengartikan bid’ah sebagai sesuatu yang tidak bertentangan dengan sunnah.

Baca juga: Budaya Memanusiakan Manusia Mbah Hamid di Tengah Musim Bidah

“Kalau bid’ah dimaknai sebagai sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi, itu bid’ah secara bahasa. tapi jika dimaknai bertentangan dengan sunnah Nabi, maka yang tidak bertentangan dengan sunnah Nabi bukan bid’ah,” ujarnya.

Kiai Halimy bercerita bahwa pada masa Nabi, ada seorang sahabat yang membaca i’tidal tidak seperti apa yang pernah diajarkan Nabi. Namun Nabi Muhammad tidak serta merta menyebutnya bid’ah.

Itulah sunnah yang diajarkan Nabi dalam menghadapi bid’ah. Kalau tidak bertentangan maka itu boleh, jika bertentangan maka itu ditolak.

Baca juga: Penyakit Menular di Masa Nabi

“Itu yang dimaksud sunnah dalam menghadapi bid’ah. Bukan lantas semua hal yang baru itu bid’ah dan ditolak. Karena pada dasarnya pemahaman seperti itu yang bid’ah. Dan Mbah Hasyim sudah sejak awal menolak kesesatan orang-orang ahli bid’ah tersebut,” jelasnya.

Oleh karena itu, termasuk perbuatan bid’ah adalah menyikapi bid’ah tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah.

“Termasuk Bid’ah itu menyikapi bid’ah tidak dengan cara nabi menyikapi bid’ah. Itu bid’ah. Sunnah dalam menghadapi perkara baru dilihat kalau tidak bertentangan boleh. Kalau bertentangan ditolak. Itu sunnah dalam menghadapi Bid’ah,” pungkasnya. (ubadi/shir)