Daerah

Aksi Solidaritas Palestina, PMII Surabaya Salat Ghaib

Jum'at, 11 Juli 2014 22:50 wib

...
Ketua I PC PMII Surabaya Zainuddin mengimami salat ghaib di depan Grahadi Surabaya, Jumat malam, 11 Juli 2014 (dok/santrinews.com)

Surabaya – Ratusan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Surabaya, Jumat malam, 11 Juli 2014, menggelar salat ghaib untuk puluhan warga sipil Palestina yang menjadi korban akibat serangan militer Israel.

“Kami melaksanakan salat ghaib untuk rakyat Palestina yang menjadi korban kebiadaban agresi zionis Israel,” kata Ketua Umum PC PMII Kota Surabaya Ahmad Zairudin, usai salat ghaib bersama, di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Zairudin menyampaikan kutukan keras atas tindakan biadab kaum zionis Israel terhada para wanita dan anak-anak tak berdosa di jalur Gaza yang menyebabkan nyawa mereka melayang sia-sia dan ribuan orang terluka.

Karena itu, Zairudin menyerukan kepada semua tokoh masyarakat, terutama para ulama, untuk mendorong kaum muslimin melawan kedzaliman yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

“Kami mendesak Pemerintah (Republik) Indonesia untuk ikut terlibat aktif menghentikan agresi militer Israel terhadap Palestina,” tegasnya.

Caranya, Pemerintah RI harus terus mendesak PBB untuk mengeluarkan resolusi damai serta menghentikan agresi militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina. “Pemerintah harus menyerukan bahwa Israel adalah penjahat perang dan kemanusian,” tandasnya.

“Jika pemerintah diam, kami yang akan turun ke jalan melakukan perjuangan,” seru Zairudin dihadapan ratusan kader PMII dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya itu.

Zairudin lalu menyitir pernyataan Presiden RI pertama Soekarno pada tahun 1962. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” ujarnya menyitir pernyataan Soekarno itu.

Selain salat ghaib, dalam aksinya itu mereka secara bergiliran menyampaikan orasi serta teatrikal yang menggambarkan penderitaan rakyat Palestina dan membakar bendera Israel.

“Mendiamkan kebiadaban adalah pengkhianatan bagi nilai-nilai kemanusiaan,” pungkasnya. (jaz/ahay)