Daerah

Pimpinan Pesantren Sesalkan Sikap Gubernur Aceh

Selasa, 18 November 2014 23:36 wib

...
Gubernur Aceh Zaini Abdullah (santrinews.com/acehterkini)

Aceh – Gubernur Aceh Zaini Abdullah dijadwalkan berkunjung ke Pesantren Umul Qura Al Munawwarah di Desa Rungkom, Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie. Hari ini, Selasa, 18 November 2014.

Rencananya Gubernur Zaini akan meresmikan sumur bor untuk mengairi sawah di lima desa: Rungkom,  Awe, Kareung, Kulee, dan Kulam. 

Namun, setiba di gerbang jalan masuk menuju lokasi, rombongan gubernur berbalik arah. Usut punya usut, rupanya di gerbang jalan masuk itu dipasangi spanduk selamat datang untuk Wakil Gubernur Muzakir Manaf. 

“Kami sangat kecewa Bapak Gubernur tidak jadi hadir ke sini, padahal sudah tiba di lokasi,” kata Muhammad bin Husen, salah satu pimpinan pesantren yang biasa disapa Abu Syujak, seperti dilansir Atjehpost, Selasa 18 November 2014. 

Menurutnya, acara peresmian sumur bor itu difasilitasi oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Aceh (LPMA) pimpinan Gumarni Arfan. Pesantren dipilih sebagai tempat peresmian lantaran dianggap sebagai pusat kegiatan masyarakat. 

Tentang spanduk ucapan selamat datang untuk Wakil Gubernur Muzakir Manaf, kata Abu Syujak, terjadi lantaran sejatinya acara itu memang akan dibuka oleh Wagub Muzakir Manaf. Namun, gubernur meminta wagub berkunjung ke Gayo Lues. Sebagai pengganti, gubernur memutuskan dirinya lah yang akan datang. 

“Lalu tiba-tiba tadi kami mendapat kabar, gubernur tidak mau hadir lantaran spanduk selamat datang ditujukan kepada wakil gubernur,” kata Abu Syujak. 

Walhasil, kata dia, acara peresmian sumur bor dilakukan oleh Wakil Bupati Pidie. 

“Awalnya kami sangat gembira karena mendengar gubernur langsung yang datang. Tapi kemudian kegembiraan itu berubah menjadi kekecewaan karena gubernur pulang di tengah jalan,” kata Abu Syujak. 

Secara terpisah, Ketua LPMA Gumarni Arfan membenarkan kejadian itu. Ia pun menyesalkan sikap gubernur. “Maaf, saya harus katakan, dengan kejadian ini, gubernur kita bersikap seperti anak-anak,” kata Gumarni.

Acara peresmian sumur bor yang dipusatkan di pesantren itu adalah program LPMA untuk membantu petani di lima desa yang selama ini dilanda kekeringan. Kelima desa itu termasuk dalam wilayah Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie. 

Pada 27 Oktober 2014, Gumarni memasukkan surat ke Sekretariat Daerah Pemerintah Aceh dan meminta Wakil Gubernur Muzakir Manaf agar bersedia meresmikan sumur bor di sana. 

Pada 4 November, Gumarni menerima surat balasan dari Sekda yang menyatakan Wagub Muzakir Manaf bersedia datang. 

“Berdasarkan surat balasan  itu, dua minggu sebelum acara kami buat persiapan tanpa meminta uang seribu pun dari Pemerintah Aceh,” kata Gumarni. 

Rupanya, rencana berubah lagi. Senin kemarin, 17 November 2014, Gumarni mendapat kabar yang hadir adalah Sekda Aceh. Alasannya, Wakil Gubernur tidak bisa hadir karena diminta oleh gubernur menuju ke Gayo Lues. Informasi itu sampai ke Gumarni pukul 12.00 siang. 

Sore hari, telepon Gumarni kembali berdering. Sang penelepon adalah Dalami, Kepala Tata Usaha Gubernur Aceh. Gumarni diberitahu yang akan datang bukan Sekda, melainkan Gubernur Zaini Abdullah sendiri. 

“Saya sampaikan terima kasih banyak karena gubernur mau hadir menggantikan wakil gubernur,” kata Gumarni. 

Lantaran hari sudah sore, muncul persoalan. Panitia sudah terlanjur memasang spanduk ucapan selamat datang untuk Wakil Gubernur Muzakir Manaf. Gumarni pun menyampaikan bahwa tidak mungkin lagi menggantikan spanduk ucapan selamat datang. 

“Proses bikin spanduk itu kan tidak bisa main sulap,” kata Gumarni. 

Pagi tadi, telepon Gumarni berdering lagi. Suara diseberang telepon mengabarkan gubernur sudah hampir tiba di lokasi dan sudah melewati Gunung Seulawah. 

Tak lama kemudian, masuk lagi telepon dari ajudan gubernur. “Saya dikatakan bersalah, kenapa spanduk penyambutannya untuk wakil gubernur,” kata Gumarni. 

Gumarni pun menjawab spanduknya tidak mungkin lagi diturunkan. Selain karena dipasang di tempat yang agak tinggi, tidak mungkin lagi membuat spanduk baru dalam waktu sekedip mata. 

“Ada satu cara, biar polisi yang turunkan. Tetapi setelah polisi setuju menurunkan, ternyata gubernur tetap tidak mau masuk,” kata Gumarni. 

Kejadian itu tentu saja peristiwa memalukan bagi Gumarni. Sebab, kata dia, masyarakat di lima desa itu sudah berkumpul dan ingin berdialog dengan gubernur di pesantren. 

“Tetapi kemudian rupanya gubernur malah balik lagi dan tidak jadi masuk. Ini benar-benar tindakan yang kekanak-kanakan,” kata Gumarni. (shir/onk)