Daerah

Pesantren Hamalatul Quran Bedah Buku Laskar Ulama-Santri

Minggu, 21 Desember 2014 17:25 wib

...
Zainul Milal Baidhowie (dua dari kiri), penulis buku ‘Laskar Ulama-Santri’ saat bedah bukunya di Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) Pati, Kamis 10 April 2014 (santrinews.com/staimafa)

Bogor – Pesantren Hamalatul Quran Al-Falakiyah Pagentongan, Kota Bogor, Jawa Barat, menggagas kegiatan “Ngaji Sejarah Laskar Ulama-Santri”.

“Kegiatan itu berupa bedah buku Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad dengan menghadirkan penulisnya Zainul Milal,” kata Pengasuh Pesantren Hamalatul Quran Al Falakiyah KH Asep Zulfiqor di Bogor, Sabtu, 20 Desember 2014.

Selain menghadirkan penulis buku, kegiatan itu juga mengundang Khotimi Bahri dari Lakpesdam NU Kota Bogor sebagai pembanding, yang dipandu Kepala SMP Al-Falakiyah Zaenal Abidin.

Kegiatan bedah buku tersebut diikuti ratusan orang, terdiri atas pimpinan ormas Islam, para pemuka pesantren, aktivis muda NU, santri setempat dan para wali santri

Penulis buku Zainul Milal memaparkan bahwa tidak ada gerakan rakyat yang sangat bersejarah pada 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur, tanpa adanya resolusi alias seruan jihad yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama (NU).

“Gerakan rakyat, tepatnya ulama dan santri pada 10 November 1945 di Surabaya tidak akan meletus tanpa adanya resolusi jihad yang dikeluarkan Rais Akbar NU Hadratus Syaikh Hasyim Asyary pada 22 Oktober,” katanya.

Ia mengatakan pada 22 Oktober 1945, Netherland Indian Civil Administration (NICA) dari pemerintahan Belanda datang untuk kembali merebut kekuasaan Hindia Belanda di Surabaya.

Hal tersebut mendorong KH Hasyim Asyari bersama para ulama NU lainnya menyerukan resolusi jihad melawan tentara Belanda dan sekutu yang dipimpin Inggris. KH Hasyim Asyari menandatangani resolusi jihad di kantor NU Bubutan, Surabaya.

Setelah itu meletuslah peristiwa 10 November 1945. Kaum santri dan masyarakat dari berbagai penjuru Pulau Jawa berbondong-bondong melakukan perlawanan terhadap gabungan pasukan NICA dan Inggris.

Asep Zulfiqor menyatakan, pihaknya menyambut baik kegiatan semacam itu. “Kami berterima kasih atas kedatangan penulis dan rombongan, acara seperti ini sangat kami tunggu-tunggu,” katanya.

Ia juga menyatakan ikut bergembira atas hadirnya buku “Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” karya Zainul Milal.

“Kami patut bergembira menyambut buku ini. Buku ini juga patut dimasyarakatkan dan santri harus punya buku ini,” katanya.

Kiai Zulfiqor seperti dilansir Antara mengungkapkan, pengetahuan sejarah sangat penting, terutama untuk para santri.

Ia mengemukakan bahwa banyak ulama, para kiai lokal tidak tertulis dalam tinta sejarah, padahal peran dan perjuangan untuk negeri ini sangat besar.

“Sejarah itu hanya berhenti pada katanya dan katanya,” katanya.

Ia mencontohkan tentang sosok KH Falaq Abbas, penyebar Islam di wilayah Bogor, yang ternyata tidak ada ditulis dalam sejarah, padahal punya peran besar.

Kondisi semacam itu ditegaskan kembali oleh Zainul Milal saat menyampaikan materinya. “Untuk menghancurkan sebuah bangsa, tidak perlu dengan senjata atau bom, tapi cukup dengan memutus tali sejarahnya. Ini menunjukkan begitu pentingnya memelihara sejarah,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Bogor merupakan saksi sejarah perjuangan para kiai dan santri dalam membendung penjajah.

Menurut dia, KH Tubagus Muhammad Falaq adalah satu ulama yang berjuang melawan kolonial, dan juga mem-“backup” Laskar Hisbullah saat berlatih di Cibarusa Bogor.

Jika sejarah itu terputus atau tidak ditulis, katanya, maka Indonesia tidak akan ada, dan pesantren Al-Falakiyah Pagentongan juga tidak akan ada.

“Tanpa ada ulama dan santri tidak ada negeri ini. Maka kita harus jaga,” katanya. (shir/saif)