Daerah

Salat Lail di Masjid Raya Makassar Lebih Ramai Ketimbang Istiqlal

Kamis, 16 Juli 2015 05:52 wib

Makassar – Sudah menjadi sebuah tradisi, pada sepuluh malam terakhir Ramadhan digelar salat lail di Masjid Raya Makassar. Lebih dari seribu orang memadati masjid itu. Mereka tidak hanya datang dari Makassar, tapi juga dari berbagai daerah, seperti Gowa, Maros, Pangkep, dan Palopo.

Setelah tarawih, beberapa orang memilih tetap tinggal dan menunggu salat lail, salat malam yang dimulai pukul 01.00 hingga 03.00 Wita. Sembari menunggu, ada yang memilih menghabiskan waktu dengan duduk bercengkerama, ada pula yang membaca Al-Quran, serta beberapa orang terlelap tidur beralaskan tikar dan sajadah. Ada juga yang membawa kelambu berbentuk tenda.

Husain, 54 tahun, dan Hamzah, 69 tahun, memilih berbincang di beranda lantai satu masjid. Malam itu, perbincangan mereka ditemani sebungkus rokok, sebungkus kacang, dan air putih. Mereka bercerita tentang pengalaman hidup dan salat malam. “Di antara semua masjid yang pernah saya kunjungi, salat lail di Masjid Raya inilah yang paling ramai, bahkan Masjid Istiqlal di Jakarta tidak seramai ini,” ucap Hamzah.

Lelaki yang berdomisili di Jakarta itu pernah ikut salat malam di beberapa masjid di Pulau Jawa. Hamzah seperti dilansir Tempo mengaku kedatangannya ke Makassar kali ini untuk jalan-jalan.

Husain, yang berasal dari Manado, mengaku mendapat informasi dari kawannya tentang salat lail di Masjid Makassar ini. Dia pun memilih tarawih dan menunggu salat lail. “Ini pengalaman pertama saya. Semenjak saya kenal yang namanya puasa, saya tidak pernah ikut salat lail. Di Manado, tak ada masjid yang menyelenggarakan salat lail,” katanya.

Seperti Husain, ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Ceko, 45 tahun. Perempuan yang berdomisili di Jalan Pampang, Makassar, itu juga ingin merasakan salat lail di Masjid Raya. “Saya ingin berdoa diberi kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat, juga keluarga,” kata dia tentang motivasinya mengikuti salat lail. Malam itu, ia meminta putranya pulang untuk mengambil sarung sebagai alas tidur.

Mereka yang datang tak hanya dari kalangan orang tua. Warda, 16 tahun, sudah dua malam berturut-turut mengikuti salat lail. Ia datang bersama ibunya, menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dari rumahnya di kawasan Daya.

Menjelang pukul 01.00 Wita, suasana masjid makin ramai oleh jemaah. Beberapa pengurus masjid pun mulai sibuk mengarahkan jemaah, seperti Ambo Sakka yang sudah menjadi pengurus sejak 1995. Saat salat malam dimulai, kipas angin dinyalakan, lampu-lampu dipadamkan, hanya ada dua lampu kecil yang berada dekat mimbar dan lampu taman yang menyala. Suasana dibiarkan redup untuk membuat jemaah lebih khusyuk dalam beribadah.

Salat lail di Masjid Raya Makassar ini sudah menjadi tradisi. Selain tahajud, ditambahkan salat tasbih, taubat, hajat, dan ditutup dengan witir. “Sebelumnya hanya tahajud,” kata Abdul Malik Assiraj, imam Masjid Raya Makassar.

Menurut Abdul Malik, sebelum 1996, salat lail tak digelar setiap malam. Itu pun jemaahnya hanya sekitar dua saf. Tapi dari tahun ke tahun, jemaahnya semakin banyak. “Kalau malam ke-27, jemaah bisa sampai ke Jalan Bandang,” ucap dia.

Malik menambahkan, tahajud delapan rakaat ditempatkan sebagai salat pembuka. Untuk jamaah yang datang terlambat, masih bisa mengikutinya 4 atau 2 rakaat. Menurut dia, tak ada syarat khusus untuk melaksanakan salat lail. “Jika tidak sempat atau susah tidur sebelum melaksanakan salat lail pun masih tetap bisa ikut.”

Kenapa dipilih 10 malam terakhir, kata Ustad Muh Syahril, konon Nabi Muhammad, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadis, menguatkan ikat pinggangnya banyak-banyak pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir. Walaupun lailatul qadar itu bisa saja terjadi pada malam ke-21, ada juga ulama yang meyakini lailatul qadar turun pada malam ke-27.

Syahril, yang juga wakil imam Masjid Raya, mengatakan salat lail adalah salat sunah yang hanya bisa dilaksanakan pada malam hari dalam bentuk tarawih dan tahajud. (shir/jaz)