Daerah

Objek Wisata di Atas Menara Kembar Masjid Agung Bandung

Minggu, 21 Juli 2013 16:14 wib

...
Masjid Agung Bandung beserta Dua Menara Kembarnya (Tribunnews.com/Santrinews.com)

Bandung – Masyarakat Bandung memiliki cara tersendiri untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa (Ngabuburit) di bulan Ramadhan. Kota yang dikenal dengan Paris Van Java ini menyuguhkan Objek Wisata Religi yaitu sepasang Menara Kembar di Mesjid Agung Bandung.

Dua menara yang menjulang di sebelah utara dan selatan Mesjid Agung Bandung itu letaknya sangat strategis karena berada di pusat kota yaitu di sekitar Jalan Dalem Kaum, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Banceuy. Lokasinya berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan sejumlah bangunan bersejarah Bandung. Sehingga, menjadikan Menara Kembar yang dibangun tahun 2004 ini pilihan Ngabuburit para pengunjung dari berbagai usia.

Ahmad Aditya, 11 tahun, bersama kelima temannya tampak antusias berebut masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke puncak menara. Di dalam lift yang memiliki 19 lantai itu, Ahmad membayar tiket pada seorang penjaga dengan harga Rp 2000 per orang. Sementara untuk orang dewasa Rp 3000 dan untuk wisatawan mancanegara tiket dibandrol Rp 5000. “Sudah lantai 15, empat lantai lagi kita sampai atas,” kata Ahmad pada teman-temannya.

Kurang dari satu menit, pintu lift terbuka dan terlihat hamparan luas pemandangan langit kota Bandung dari segala penjuru. Ruangan di puncak menara berbentuk segi delapan dengan jendela transparan di setiap sisinya. Daya tampungnya bisa memuat hingga 70 orang. Matahari terbit dan terbenam juga bisa terlihat jelas dari puncak menara. Namun, pada pukul 17.00 loket sudah tutup, sehingga pengunjung hanya bisa menikmati suasana siang dan sore hari.

Menurut penjaga tiket Menara Kembar Irwan Sujana, setiap harinya selama bulan Ramadhan jumlah pengunjung sebanyak 100-200 orang. Sementara weekend mencapai 400-500 orang. Pengunjung pada umumnya orang yang singgah di Mesjid Agung Bandung atau wisatawan domestik dan mancanegara.

Di puncak, pengunjung bisa melihat keindahan bentangan gunung yang mengelilingi Bandung. Bentuknya seperti sebuah mangkok. Hamparan gunung-gunungnya menjulang kokoh di sisinya sementara pemukiman padat dan bangunan-bangunan tinggi berdesakan di dalamnya.

Di sebelah timur tampak Gunung Manglayang dan Bukit Tunggul melambaikan kemolekannya. Bergeser ke utara ada Gunung Tangkuban dan Gunung Burangrang yang kisahnya melegenda di Jawa Barat. Di sebelah barat samar pegunungan kapur yang dikenal dengan lokasi panjat tebing dan penambangan kapurnya. Di selatan ada Gunung Malabar, Gunung Patuha dan gunung lainnya.

“Pemandangannya bagus, gunungnya keliatan jelas, jalan yang macet juga kelihatan,” ujar Ahmad.

Keindahan Bandung dari ketinggian 81 meter di atas permukaan tanah itu sayang apabila tidak direkam lewat jepretan kamera. Beberapa pengunjung terlihat sibuk berpose dengan mengambil sudut pandang lewat frame kamera untuk dijadikan oleh-oleh.

Nurul Pratiwi, mahasiswi Poltekes TNI Ciumbuleuit Bandung mengaku sengaja hunting foto landscape dari Menara Kembar bersama temannya. Menurutnya, moment keramaian Bandung yang dilihat dari atas terlihat menarik dan berbeda.

Mesjid Agung sudah berdiri sejak tahun 1812 dan menjadi saksi pembangunan kota Bandung. Pada tahun 1970 menara mesjid dengan ukuran yang tidak terlalu tinggi dibuat di sebelah selatan mesjid. Tetapi kini sudah tidak ada dan diganti dengan Menara Kembar di sebelah utara dan selatan.

“Ide membuat dua menara ini, di samping untuk memenuhi unsur keindahan juga untuk wisata religi supaya pengunjung bisa bertafakur alam dan mensyukuri ciptaan Allah,” ujar staf Dewan Keluarga Mesjid Agung Bandung Atang Wahyudin, seperti dilansir Tempo.co, Kamis, 18 Juli 2013.

Tatang mengatakan selain berfungsi sebagai penyimpan pengeras suara, puncak Menara Kembar juga pernah digunakan sebagai tempat penentu awal Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun 2010.

Menurut Atang, gaya arsitektur Menara Kembar kental dengan filosofi Islami. Misalnya saja ketinggian menara apabila dihitung dengan pondasi di dasar tanah yang mencapai 18 meter. Jumlahnya menjadi 99 meter jika dijumlahkan dengan tinggi menara dari atas tanah ke puncak sepanjang 81 meter. Selain itu, di atas kubah puncak menara ada tusuk sate dengan lima buah perlambang sate yang ditusuk.

“Angka 99 menunjukkan Asmaul Husna dan lima perlambang sate yang di tusuk itu menunjukkan rukun islam dan simbol kota Bandung. Segi delapannya simbol keseimbangan dan arah mata angin,” katanya.

Dia berharap Menara Kembar Mesjid Agung Bandung menjadi objek wisata religi yang bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jawa Barat baik muslim maupun non muslim. (ahay/saif).