Daerah

Sebelum Wafat, Nyai Khotibatul Ummah Cuci Kain Kafan Pakai Zamzam

Senin, 08 Februari 2016 17:12 wib

...
Almarhumah Neng Oot (kiri) saat mengikuti Environmental Teachers’ International Convention (ETIC) 2008 di Kaliandra, Pasuruan, mewakili Pesantren Annuqayah untuk berbagi pengalaman dalam melaksanakan kegiatan peduli lingkungan (santrinews.com/ist)

Sumenep – Keluarga besar Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur berduka. Salah seorang putri Pengasuh Annuqayah Nyai Khotibatul Ummah binti KH A Warits Ilyas, wafat akibat pendarahan setelah melahirkan putri pertamanya, Sabtu, 6 Februari 2016.

Usai meninggal dunia, di kamar almarhumah ditemukan sebundel kain kafan lengkap dengan keterangan yang beliau tulis-tangan sendiri; bahwa kain kafan itu telah dicuci dengan air Zamzam, berikut kutipan ayat-ayat Alquran tentang kematian yang pasti akan datang.

Salah seorang kiai muda Annuqayah M Mushthafa menjelaskan, kepergiannya sungguh mengejutkan. Berita wafatnya Neng Oot-panggilan akrab Khathibatul Ummah hingga saat ini masih terasa sulit dipercaya. Tapi begitulah ajal: ia bisa datang kapan saja, dengan atau tanpa alasan yang jelas.

Untuk Pesantren Annuqayah, terang Kiai Mushthafa, kepergian beliau adalah juga satu kehilangan besar. Dalam sekitar 10 tahun terakhir, Neng Oot punya peran penting dalam pengembangan kesehatan swadaya di Annuqayah dengan berkiprah di unit pengembangan obat-obatan herbal di Annuqayah. Unit tersebut merupakan salah satu bidang garapan Biro Pengabdian Masyarakat Pesantren Annuqayah yang dipimpin Kiai Muhammad Zamiel El-Muttaqien.

“Beliau juga yang menghidupkan Poskestren Annuqayah Putri yang memberi layanan kesehatan dan penyuluhan bagi para santri putri,” ungkap Kiai Mushthafa.

Selain itu, tambah Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) ini, beberapa tahun terakhir Neng Oot juga aktif mengupayakan agar kantin-kantin di lingkungan Annuqayah bisa terjamin kesehatannya. Proyeknya dimulai di kantin MA 1 Annuqayah Putri.

“Sekitar sepekan yang lalu, beliau kabarnya masih rapat dengan Yayasan Annuqayah untuk pengelolaan kantin sehat di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Sejauh yang saya tahu, saya menyaksikan komitmennya pada pengabdian dan juga pada kebersahajaannya bergaul dengan santri, famili, dan masyarakat umum. Semoga Allah memberinya tempat terbaik di surga,” kata Kiai Mushthafa.

Sementara itu, ponaan Neng Oot, Muhammad Al-Faiz mengingatkan bahwa muara hidup Neng Oot pada kisah sultan Dinasti Ayyubiyah yang sangat fenomenal, Salahuddin al-Ayyubi. Dalam satu versi sejarah dikisahkan, bahwa Salahuddin al-Ayyubi, selalu membawa peti-peti terkunci ke tengah medan perang.

Peti-peti itu dijaganya betul-betul, hingga orang-orang terdekatnya mengira bahwa di dalamnya terdapat harta dan permata berharga. Namun, setelah Salahuddin menghembuskan nafas terakhirmya, peti-peti itu dibuka, dan ketika itulah orang-orang sadar bahwa dugaan mereka selama ini salah. Bukan harta dan permata yang mereka lihat, melainkan sepucuk wasiat, kain kafan dan setumpuk tanah.

Dalam surat wasiat itu tertulis: “Aku mau dikafani dengan kain kafan ini, yang telah harum oleh air Zamzam dan juga telah mengunjungi Kakbah serta pusara Rasulullah. Sedangkan tanah ini, berasal dari bekas perang. Buatlah batu bata darinya dan jadikan bantalku di dalam kuburanku.”

Konon, sesuai wasiatnya, dari tanah itu dibuatlah 12 batu besar yang kini bersemayam di bawah kepala Salahuddin di dalam kuburannya, dan dengan itulah ia akan menemui Allah di hari kemudian.

“Demikianlah, kesadaran seseorang untuk mempersiapkan kematiannya, baik persiapan lahir maupun batin, tidak lain merupakan rahmat Tuhan yang amat besar. Sangat boleh jadi rahmat tersebut adalah rangkaian awal dari rahmat selanjutnya dalam dimensi yang lebih kekal. Kafa bi-l mauti wa’izan. Cukuplah kematian memberi kita pelajaran, meniscayakan sebuah pertanyaan, “Apa yang sudah saya persiapkan?” tukasnya. (anam/ahay)