Daerah

150 Santri Ikuti Lomba Baca Kitab Kuning

Selasa, 17 September 2013 23:30 wib

...
Santri baca kitab kuning (altahriry/santrinews.com)

Banyuwangi – Sekira 150 santri yang berasal dari 11 pondok pesantren di wilayah Kabupaten Banyuwangi mengikuti Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) atau yang dikenal dengan kitab kuning.

Zainal Abidin, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mengatakan, lomba ini untuk meningkatkan kembali pengetahuan para santri dalam mempelajari kitab-kitab kuning (kutub at-turats) sebagai sumber kajian ilmu agama Islam.

“Seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan kitab kuning sebagai literatur utama mulai berkurang, sehingga banyak alumni pondok pesantren yang kurang mampu mendalami ilmu agama dari sumber-sumber utamanya,” kata Zainal, Selasa, 17 September 2013.

“Lomba ini juga bukan hanya sekadar membaca kitab kuning saja, tapi juga kemampuan memahami serta menyampaikan kandungan teks kitab kuning yang dibacanya kepada publik,” imbuhnya.

Kitab kuning, lanjut dia, adalah kitab-kitab berbahasa arab yang disusun pada zaman pertengahan dan menjadi salah satu ciri khas atau kajian utama di pondok pesantren.

Lomba MQT tersebut dibagi tiga tingkatan atau marhalah. Yaitu Marhalah Ula untuk usia SD/MI, Marhalah Wustha untuk usia SMP dan Marhalah Ulya untuk Menengah Atas atau sederajat.

“Nantinya pemenang akan diseleksi kembali untuk mengikuti lomba tingkat nasional,” tegas Zainal.

Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam akan kembali menggelar MQK pada tahun 2014. Rencananya akan digelar di Provinsi Jambi.

Sampai saat ini, MQK sudah diselenggarakan empat kali. MQK I digelar di PP. Al Falah Bandung (2004), MQK II di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur (2006), MQK III di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru Kalimantan Selatan (2008), dan MQK IV di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Pancor NTB (2011).

Event para santri dari pondok pesantren berskala nasional yang kelima ini merupakan wahana kompetisi para santri terkait kemahiran mereka dalam membaca, memahami, dan menjelaskan kandungan kitab kuning (al-kutub al-turats) sebagai tradisi keilmuan pada pondok pesantren di Indonesia. (hay)