Daerah

Pelajar Deklarasi Unas Jujur

Kamis, 11 April 2013 20:13 wib

“Deklarasi Unas jujur dan tidak bohong ini, salah satu bentuk keseriusan kami, siswa dan guru. Saya minta polisi untuk mengawal ketat naskah maupun kunci jawaban hingga pelaksaan Unas.” Nadlif, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik.

Gresik – Ratusan Siswa di Gresik, menggelar Deklarasi Ujian Nasional (Unas) jujur dan tidak bohong. Selain mengucapkan sumpah kejujuran, ratusan siswa juga membubuhkan tandatangan di atas kain putih sebagai bentuk komitmen.

Sayangnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh yang dijadwalkan hadir ternyata berhalangan. Namun itu tak membuat kegiatan yang dihelat di Wahana Ekspresi Pusponegoro (WEP) menjadi hambar. Ratusan siswa secara bersama-sama dan antusias berikrar agar mereka saat UN yang digelar 15 April mendatang, benar-benar jujur dan tidak bohong.

Menurut Nadlif, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, UN tidak perlu ditakuti, justru siswa harus menghadapi UN dengan belajar giat dan terus berdoa.

“Deklarasi UN jujur dan tidak bohong ini, salah satu bentuk keseriusan kami, siswa dan guru. Saya minta polisi untuk mengawal ketat naskah maupun kunci jawaban hingga pelaksaan UN,” kata Nadlif di lokasi, Ahad, 07 April 2013.

Dengan deklarasi itu, Nadlif berjanji dan bahkan menjamin tidak akan ada soal maupun kunci
jawaban yang bocor.

“Semoga dengan Deklarasi ini kunci jawaban tidak bocor dan siswa tidak mencontek saat mengerjakan soal,” tambah Nadlif.

Firda salah satu siswa SMP di Kecamatan Kebomas mengatakan, dirinya ikut deklarasi UN jujur karena prihatin dengan masih banyaknya siswa yang tidak jujur saat mengerjakan UN.

“Masih banyak yang menyontek saat ujian. Saya ikut deklarasi karena prihatin. Kalau sudah komitmen, siswa harus mengerjakan sendiri soal UN jangan sampai mencontek teman atau beli kunci jawaban. kalau saya ending mengerjakan sendiri,” ungkap Firda.

Sementara itu, Lisa, teman Firda, berharap deklarasi UN jujur dan tidak bohong ini tak hanya menjadi isapan jempol saja.

“Harus jujur, jangan bohong. Kalau ada yang bocor katakan bocor, jangan sampai ada siswa mencontek atau ada kunci jawaban bocor, tapi pihak guru merahasiakan,” ujar lisa. (saif/ahay)