Daerah

Perkuat Ideologi, Rijalul Ansor Jatim Ngaji Rutin Kitab Mbah Hasyim Asyari

Kamis, 04 Januari 2018 08:39 wib

...

Surabaya – Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDS RA) Jawa Timur mengawali rutinan bulanan dengan mengadakan kajian kitab Adab al-Alim wa Muta’alim karya Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari.

Kegiatan dilangsungkan di Kantor PW GP Ansor Jatim, Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya, Selasa, 2 Januari 2018.

“Supaya kehidupan ini terus berkah, maka diperlukan tekad untuk terus mengaji. Salah satunya, mengaji kitab karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,” kata Ketua MDS RA Jatim
KH Wahab Yahya.

Mengapa hal tersebut dilakukan, karena sebagai warga NU harus terus dekat dengan pendiri jamiyah, salah satunya dengan membaca sejarah dan karya-karyanya.

Gus Wahab, sapaan akrabnya mengingatkan ada banyak manfaat dari mengaji karya pendiri NU. “Dengan demikian amaliyah dalam beragama dan berbangsa yang dilakukan tetap dalam nilai Aswaja al-Nahdliyah, seperti telah diwariskan hingga kepada generasi seterusnya,” ujarnya.

Rutinan mengaji ini dilaksanakan setiap bulan yakni Selasa malam. Kegiatan diisi dengan rangkaian pembacaan shalawat Barzanji dan Ratibul Haddad. Setelah itu diteruskan mengaji kitab Adab al-Alim wa Muta’alim karya Hadratussyeikh dengan pembaca secara bergantian.

Dalam pandangan Gus Wahab, hal penting dari kitab tersebut adalah soal pentingnya ilmu dan tatakrama atau adab dalam kehidupan.

“Dalam kitab ini kita diingatkan oleh Hadratussyeikh agar senantiasa memperhatikan ilmu dan adab,” urainya di hadapan jamaah yang hadir.

Orang pandai atau bergelar tinggi tidak akan berarti apa-apa, jika tidak disertai dengan kematangan beradab, baik kepada Allah, rasul, hingga beradab kepada sesama.

Dirinya melakukan kritik karena di zaman ini soal adab semakin jauh dari ideal. “Banyak kasus anak memarahi orang tua, hubungan murid dan guru rusak akibat saling menikam atau kasus lain yang jauh dalam keadaban sosial lainnya,” ungkapnya. Padahal tingkat pendidikan yang bersangkutan semakin tinggi.

Kondisi ini diperparah mudahnya ujaran lewat memaki maupun mencaci pihak lain. “Bahkan tidak jarang mereka ikut memaki ulama atau kiai, hanya karena perbedaan pendapat,” tukasnya.

Menurut Gus Wahab, tindakan ini terkesan dibenarkan agama, padahal sangat bertentangan dengan keadaban sebagai Muslim yang bertugas menebar nilai agung rahmatan lil alamin.

Gus Wahab berharap dengan rutinan mengaji yang diselenggarakan MDS RA terjalin silaturahim semakin kuat antar kader. “Dengan begitu, akan kuat pula bangunan ideologis kader Ansor untuk terus konsisten berjuang dalam bingkai Aswaja al-Nahdliyah dan NKRI harga mati,” tegasnya.

Dirinya juga berharap kegiatan ini berjalan secara rutin sehingga seluruh elemen NU utamanya Ansor terus dekat dengan para ulama NU dan pesantren. “Dan saya berharap pada pertemuan lanjutan akan semakin semarak,” pungkasnya.