Daerah

Alasan Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Konferwil IPNU Jatim

Jum'at, 03 Agustus 2018 20:35 wib

...

Banyuwangi – Konferensi Wilayah (Konferwil) XXII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur dihelat di kampus Institut Agama Islam Ibrahimi, Genteng, Banyuwangi, Jumat-Ahad, 3-5 Agustus 2018.

Bukan tanpa alasan Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah. Namun karena bumi Blambangan ini menjadi contoh yang baik bagi daerah lain sesuai dengan tema yang diusung dalam Konferwil ini. Yakni ‘Konsolidasi dan Sinergi Pelajar NU Merespon Revolusi Industri 4.0’.

“Tema ini sesuai dengan spirit yang sedang dikembangkan oleh Banyuwangi,” kata Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami pada pembukaan Konferwil IPNU, Jumat 3 Agustus 2018.

Pengembangan Pemerintahan Banyuwangi yang mengadaptasi teknologi informasi, lanjut Haikal, adalah salah satu spirit dalam menuju Revolusi Industri 4.0.

“Jika di daerah lain menolak Go-Jek, justru di Banyuwangi diterima dan dimanfaatkan untuk membantu pelayanan publik. Ini adalah contoh bahwa Banyuwangi adalah daerah yang siap untuk menerima Revolusi Industri 4.0,” terang Haikal.

Hal tersebut, imbuh Haikal, tak terlepas dari kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Mentalitas kepemimpinan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Kita ingin semua kader IPNU se Jawa Timur, bisa meneladani kepemimpin dari Pak Anas yang kebetulan adalah mantan Ketua Umum IPNU,” tegas Haikal.

Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas, menegaskan pentingnya mempersiapkan diri terhadap Revolusi Industri 4.0. Revolusi yang ditandai dengan teknologi tingkat tinggi itu, perlu disongsong dengan baik.

“Kemajuan teknologi tidak untuk dilawan ataupun dihindari. Tapi, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” papar Anas.

Hal tersebut yang diterapkan di Banyuwangi. Pemerintah Daerah Banyuwangi memanfaatkan teknologi sendiri untuk mempercepat pembangunan dan pelayanan publik.

Ia mencontohkannya dengan smart kampung. Sebuah upaya pemanfaatan teknologi informasi di tingkat desa.

“Kabupaten Banyuwangi ini sangat luas. Dari desa ke kota harus menempuh 3 jam perjalanan. Ini akan menyulitkan pelayanan. Maka, kita pangkas dengan IT. Staf desa tidak perlu lagi ke kecamatan, cukup melalui sistem online, sudah bisa diapprove oleh Camat,” paparnya.

Dengan Revolusi Industri 4.0 itu, Anas berpesan, agar para pelajar di Jatim optimis menatap masa depan. Kesempatan antara desa dan kota saat ini, sudah relatif sama. Kemajuan teknologi menjamin hal tersebut.

“Yang membedakannya, hanya siapa yang mau giat belajar dan inovatif. Jika tidak, maka akan tertinggal,” pungkasnya.

Agenda Konferwil sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi IPNU Jawa Timur. Selain memilih ketua selanjutnya, juga untuk merumuskan program tiga tahun ke depan.

Sebelumnya juga digelar acara lain mulai dari Apel Kebangsaan Pelajar Jatim, annual meeting pelajar penemu, dan IPNU Jatim Award. (*)