Daerah

MUI: Tradisi Suku Kaili Sambut Idul Adha Tak Langgar Islam

Selasa, 21 Agustus 2018 00:33 wib

...

Palu – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, menilai tradisi yang dilakukan masyarakat Kaili dalam penyambutan perayaan hari besar Islam seperti Idul Adha, tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Umumnya, tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Kaili seperti Kaili Ledo di Lembah Palu dan Sigi untuk menyambut Idul Fitri dan Idul Adha, merupakan bentuk syukuran atau pemanjatan doa kepada Allah atas nikmat yang diberikan hingga bertemu dengan hari tersebut,” kata Ketua MUI Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg, di Palu, Senin, 20 Agustus 2018.

Salah satu tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Kaili yaitu “molabe”(memanjatkan doa kepada Allah) atau ungkapan rasa syukur dengan proses menyiapkan talang besar berisikan makanan yang oleh Suku Kaili disebut Bakii.

Makanan dalam Baki itu antara lain, kalopa atau beras pulut yang telah masak kemudian dibungkus dengan daun kelapa satu piring, air putih satu gelas, pisang masak satu sisir, dan olahan daging sepiring kecil.

Bakii itu diletakkan di depan orang yang akan membaca doa syukuran dan keselamatan, biasanya warga Suku Kaili mengundang imam masjid untuk membacakan doa syukuran atau keselamatan.

Molabe biasanya dilakukan sehari sebelum Idul Adha, bertepatan hari Idul Adha dan sehari setelah Idul Adha.

Pada puncak Idul Adha, setelah shalat biasanya molabe dilakukan sekaligus tahlil di masjid, kemudian saling memaafkan.

Dalam tradisi mereka kemudian juga berziarah ke makam keluarga untuk menyiram makam sekaligus membaca doa/tahlil.

“Tradisi ini baik, tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu dipertahankan,” kata Zainal Abidin.

Apa yang dibaca di dalam tahlil merupakan ayat-ayat suci Alquran dan zikir kepada Allah.

Tahlil, bagi Suku Kaili di Kelurahan Petobo dimaksudkan untuk mengirim doa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan buat orang-orang yang telah meninggal dunia.

“Ini menunjukkan hubungan persaudaraan bukan hanya dilakukan pada saat masih hidup, tapi juga setelah wafat,” sebut Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu. (shir/ant)