Daerah

Memasuki 99 Hari Kerja, Khofifah Luncurkan 5 Program Unggulan

Senin, 27 Mei 2019 23:30 wib

...
Khofifah Indar Parawansa sambutan saat meluncurkan lima program unggulan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin, 27 Mei 2019 (santrinews.com/istimewa)

Untuk menunjang terlaksananya lima program unggulan itu dibutuhkan big data.

Surabaya – Sehari sebelum memasuki 99 hari Kerja Cettar yang bertepatan dengan hari ke 22 Ramadhan, Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa meluncurkan lima pilot project program yang menjadi janji kampanye pada Pilgub Jatim 2018 lalu.

Lima program yang diluncukan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin, 27 Mei 2019, petang, itu antara lain Millenial Job Center (MJC), East Java Super Coridor (EJSC), Jatim Big Data Initative, East Java Smart Province Economic Router (EASIER), dan aplikasi pengaduan masyarakat CETTAR.

“Ini lima program sekaligus yang kita luncurkan sehari sebelum berakhirnya 99 hari pertama,” kata Khofifah.

Lima program tersebut, menurut Khofifah untuk dapat menarik minat bagi generasi milenial Jawa Timur untuk tertarik masuk ke dunia usaha tak terkecuali dunia pertanian.

“Kita berharap milenial Jawa Timur akan tertarik dengan dunia UKM IKM, tertarik dengan dunia pertanian termasuk nelayan, dan UKM IKM ini akan meningkatkan pelaku usaha baru,” ujarnya.

Baca juga: Resmi Jabat Gubernur Jatim, Khofifah Fokus Entaskan Kemiskinan di Pedesaan

Ia menegaskan, di milenial job center sebetulnya tidak hanya untuk mendapatkan penguatan skill dari pelaku-pelaku ekonomi, melainkan juga bisa mempersambungkan akses untuk UKM dan IKM.

Untuk menunjang terlaksananya lima program tersebut, kata Khofifah, dibutuhkan big data. Sebab, saat ini sangat diperlukan big data sebagai salah satu prasyarat menghadapi revolusi industri 4.0.

“Kemudian kita memerlukan big data tidak bisa tidak kalau kita menghadapi revolusi industri 4.0 big data itu adalah salah satu prasyarat,” ujarnya.

Ia menceritakan, program yang dijalankan ini merupakan program lari yang digagas dari proses FGD dengan melibatkan beberapa ekspert. Menurutnya Jawa Timur sebenarnya sudah mempunyai sistem namun belum terkoneksi sehingga dibutuhkan “Jatim Konek”.

“Ini sebetulnya dari proses FGD yang dilakukan berkali-kali dengan mengundang para ekspert sehingga ketemulah format yang hari ini sudah bisa diluncurkan,” ungkapnya.

Baca juga: Doa Barokah, Emil Dardak Ziarah Makam Kanjeng Jimat Nganjuk

Ada lagi Eas Java Super Coridor. Ia berharap itu bisa dijadikan pusat pergudangan dari barang import yang bisa dikembalikan tanpa dikenakan bea cukai sebelum masyarakt mengakses.

“Harapannya adalah ada produk-produk tertentu yang produk itu tidak dikenakan cukai dulu, disimpan dalam gudang ketika itu dibeli oleh pelaku UKM yang relatif terbatas tidak sebanyak perusahaan-perusahaan besar dia tidak dikenakan Bea Cukai setelah pada tahapan tertentu tidak diminati misalnya, itu bisa dikembalikan dan tetap tidak dikenakan cukai,” tegasnya.

“Ini harapannya adalah bisa memberikan akses kepada pelaku UKM terhadap barang-barang yang masih harus diimpor yang itu tidak harus dibayar cukainya,” sambungnya. (rus/onk)