Daerah

Dua Santri Aceh Gagas Sistem Kaderisasi Ulama

Rabu, 27 November 2013 23:58 wib

...
Dua santri asal Aceh sedang mempresentasikan proposal pengembangan pesantren dan kaderisasi ulama (suarakomunikasi/santrinews.com)

Serang – Dua santri asal Aceh berkesempatan mengikuti workshop ‘Inovasi Kurikulum Kitab Kuning’ di Balairung Ratu Hotel Bidakara, Serang, Banten.

Kedua santri tersebut yakni Tengku Muslem Hamdani dan Tengku Mukhlisuddin. Mereka mewakili dayah MUDI Samalanga dan dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh, Aceh.

Program Kementerian Agama RI 2013 untuk wilayah provinsi Aceh ini berlangsung selama empat hari, 26 – 29 Nopember 2013. Diikuti 100 peserta yang mewakili pondok pesantren se-Indonesia.

Workshop dibagi dalam 12 sesi. Dari 100 peserta, panitia membagi dua kelompok diskusi untuk tim advokasi dan bantuan pengembangan kegiatan di Pondok Pesantren.

Kegiatan itu bermaksud untuk mengoptimalkan pengembangan pendidikan di berbagai pesantren yang ada di Indonesia.

“Selain workshop, pada dasarnya kegiatan ini ada kompetisi. Kita nantinya akan menawarkan program kegiatan yang dimaksudkan dapat mempercepat upaya pengembangan pendidikan dayah,” kata Muslem yang juga pengurus Gerakan Pemuda Ansor Aceh ini.

Dalam kompetisi itu, Tgk Mukhlisuddin dan Tgk Muslem Hamdani menjelaskan gagasannya perihal pengembangan pesantren dan kaderisasi ulama. Ide keduanya mengambil model khas Aceh.

Tgk Muslem mengharapkan doa warga Aceh agar gagasan keduanya diterima pihak Kemenag RI. “Semoga paket program tawaran kami diterima dan dilaksanakan tepat waktu,” kata Tgk Muslem.

Gagasan itu diajukan dalam workshop bertajuk ‘Inovasi Kurikulum Kitab Kuning Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI di Lingkungan Pondok Pesantren Angkatan ke-IV’.

Muslem mengusulkan Proposal Pengkaderan Kader Ulama. Proposal itu mengacu pada keinginannya untuk memberdayakan calon-calon ulama muda yang akan menggantikan estafet dakwah di Aceh. Sementara itu Tengku Mukhlisuddin menawarkan Proposal Pengembangan Tafaqquh Fid Din.

“Kami berharap program ini dapat diterima oleh Kemenag dan semoga bisa direalisasikan di Aceh,” kata Muslem. (rus/ahay)