Daerah

Islamic Science Park; Mimpi Khofifah dari Kampung Kuliner Halal hingga Pusat Islam Moderat

...
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, saat meresmikan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Halal Center, di Pondok Pesantren Bahrul Mahfiroh, Malang, Ahad, 14 Juli 2019 (santrinews.com/istimewa)

Kediri – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menginginkan agar pembangunan Islamic Science Park nantinya bisa menjadi gravitasi bagi keuangan Islam dunia di Indonesia.

“Kalau kita umat Islam terbesar dunia adalah Indonesia, sudah seyogyanya bisa siapkan cukup market terbesar dunia,” kata Khofifah saat menghadiri acara Harlah Ke-73 Muslimat NU di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Ahad, 21 Juli 2019.

Khofifah juga mengakui untuk membangun Islamic Science Park tersebut dibutuhkan proses, sehingga untuk saat ini infrastruktur memang sedang disiapkan.

“Maka infrastruktur kami ingin siapkan. Pada saat yang sama, kami harap pakar Islamic Science juga Islamic Finance. Jadi dua pakar ini kami berharap bisa maksimalkan untuk ide Indonesia memiliki Islamic Science Park,” ujar dia.

Ia mengatakan, pembangunan Islamic Science Park tersebut ditujukan sebagai sentra moderasi di dunia, yang disebut Islam Wasathiyah, dimana di dalamnya dibangun Islam moderat dari Indonesia. Di Jatim sistemnya kuat, mengingat di Jatim jumlah pesantrennya terbanyak serta pakar Islam juga banyak.

Untuk rencana Islamic Science Park tersebut, Khofifah menyebut nantinya diharapkan juga ada kampung halal, dengan kuliner halal.

Ia optimis hal itu akan menarik dan akan berkembang. Di Jepang misalnya saat ini perkembangan makanan halal sudah luar biasa yang kemudian mendongkrak perbankan syariah di Tokyo.

“Rasanya resonansi bisa ambil dari referensi di Tokyo, yang bisa kami siapkan format makanan halal, perbankan syariah. Kami juga punya peluang yang sama, lebih dari itu bisa menjadi sentra Islam moderat dunia. Mereka bisa melakukan pembelajaran di Indonesia, di Jatim lebih khususnya,” kata dia.

Untuk rencananya realisasi pembangunan itu, Pemprov Jatim melakukan koordinasi dengan Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS). Lahan rencananya akan didukung dengan BPWS, dengan rencana lahan yang dibutuhkan hingga 101 hektare.

Pihaknya sudah menyiapkan rencana tersebut dengan komposisi 20 persen edukasi, 30 persen kesenian, dan 50 persen hiburan.

Dekan depan, Khofifah berencana membicarakan hal ini dengan Setneg, supaya Perpres segera selesai. Jika hal itu selesai, tim bisa langsung bekerja.

Terkait dengan lokasi, Gubernur mengatakan rencananya di kaki Jembatan Suramadu wilayah Bangkalan. Di lokasi itu sudah ada lahan, namun belum hingga 101 hektare. Bahkan, untuk investor saat ini juga banyak yang tertarik.

“Banyak yang tawarkan. Presiden juga tanya kira-kira finance dari mana, ada yang siap membentuk konsorsium. Saya sudah sampaikan,” kata Khofifah.

“Kemudian di Jatim, ada yang ingin ambil bagian. Ada yang bawa investor yang juga tertarik ambil bagian dari tepi pantai. Beberapa titik, 20 persen edukasi, 30 persen art, 50 persen rekreasi. Titik itu pasti butuhkan spesifikasi dan minat dari investor. Format bisnis kami tunggu nanti setelah tim BPWS selesai,” ujarnya. (rus/ant)