Daerah

Khofifah Ungkap Wasiat Terakhir Kiai Fuad Amin

Senin, 16 September 2019 22:08 wib

...
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat takziah almarhum KHR Fuad Amin Imron, di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya, Senin, 16 September 2019, petang (santrinews.com/istimewa)

Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku memiliki kedekatan khusus dengan almarhum KHR Fuad Amin Imron alias Ra Fuad, Bupati Bangkalan 2003-2012. Bahkan, sebelum meninggal Ra Fuad menitipkan wasiat khusus kepada Khofifah.

“Saya mengenal beliau cukup lama, termasuk mengenal ayahanda beliau dulu bersama-sama di DPR,” kata Khofifah usai takziah di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya, Senin, 16 September 2019, petang.

Ra Fuad Amin meninggal dunia di Graha Amerta, Senin sore sekira pukul 16.12 WIB karena serangan jantung. Tiba di Graha Amerta, sekira pukul 17.30 WIB, Khofifah langsung menuju lantai enam, tempat jenazah Ra Fuad berada. Sekira pukul 18.49, jenazah Ra Fuad dibawa menuju rumah duka di Kabupaten Bangkalan, Madura.

Sebelum menjabat bupati, Kiai Fuad sempat menjadi anggota DPR RI. Satu fraksi dengan Khofifah. Sama-sama di Fraksi PKB.

Khofifah mengaku juga mengenal cukup dekat dengan ayahanda Kiai Fuad, KHR Amin Imron. Keduanya aktif di PPP hingga mengantarkan mereka menjadi anggota DPR RI di era Orde Baru. Pascareformasi Khofifah berlabuh ke PKB.

“Kita sebetulnya punya komunikasi cukup lama. Kira-kira dua bulan lalu, beliau (Kiai Fuad) bertelepon, beberapa kali menitipkan adiknya, Bupati Bangkalan (KHR Abdul Latif Amin Imron alias Ra Latif) supaya dibimbing,” kata Khofifah.

Kiai Fuad, lanjut Khofifah, sebelum meninggal juga berpesan agar tak bosan membriefing Ra Latif dalam menjalankan tugas sebagai Bupati Bangkalan. Ra Latif adalah adik kandung Kiai Fuad Amin. “Pesannya Kiai Fuad, saya diminta menjadi kakak asuh dan membimbing (Ra Latif),” ujarnya.

Khofifah menjelaskan, Kiai Fuad Amin adalah cicit dari Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama kharismatik yang melahirkan banyak ulama di Nusantara, juga inisiator berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). “Beliau (Kiai Kholil) kategori inisiator NU, pasti kita menghormati seluruh keluarga besar inisiator NU.”

Kiai Fuad Amin adalah tokoh berpengaruh di Madura, terutama Bangkalan. Usai dua periode menjabat bupati, Kiai Fuad melanjutkan karir politiknya sebagai Ketua DPRD Bangkalan. Di Sementara jabatan bupati digantikan anaknya, KHR Makmun Ibnu Fuad alias Ra Momon periode 2014-2019.

Aktivitas politik Kiai Fuad Amin secara formal terhenti setelah dia berurusan dengan KPK dalam perkara suap jual beli gas alam sejak akhir 2014 lalu. Singkat cerita, di pengadilan ia dinyatakan terbukti bersalah hingga divonis 13 tahun penjara.

Sempat dihukum di Lapas Sukamiskin, Jawa Barat, Kiai Fuad Amin kemudian dipindah ke Lapas Kelas 1 Surabaya, di Porong, Sidoarjo, sejak Nopember 2018 lalu.

Tujuh Kali Dirawat
Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur, Pargiyono, menjelaskan, almarhum Kiai Fuad sempat menjalani perawatan sebanyak tujuh kali selama menjalani masa pidana di Lapas Porong.

Rinciannya, lima kali perawatan di RSUD Sidoarjo pada 24 Januari, 27 Juli, 8 Agustus, 2 September, dan 7 September. Selain itu, ada dua perawatan di RSUD Sutomo Surabaya pada 3 April dan Sabtu, 14 September 2019.

Pada rujukan terakhir ke RSUD Sidoarjo, 7 September, Kiai Fuad diopname di Ruang Anggrek GDH lantai 3. Diagnosanya adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hipertensi, penyakit jantung koroner, vertigo, Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.

“Karena pertimbangan medis, pada tanggal 14 September 2019 dirujuk oleh RSUD Sidoarjo ke RSUD dr Soetomo,” ujar Pargiyono.

Setelah tiga hari dirawat RSUD dr Soetomo, Senin, 16 September 2019, pukul 14.00 WIB, kondisi Kiai Fuad kritis. Pada pukul 15.08, Jantung almarhum mendadak berhenti.

Tim dokter, kata Pargiyono, melakukan tindakan kompresi jantung untuk menstabilkan kondisi. Pukul 16.00 WIB, tindakan berhasil dan jantung kembali normal. Lima menit berselang, terjadi henti jantung lagi dan kembali dilakukan tindakan kompresi jantung.

“Pukul 16.12 dinyatakan meninggal oleh dokter,” kata Pargiyono. (shir/hay)