Daerah

Gontor Buka Pascasarjana Wakaf, Khofifah: Titik Balik Kebangkitan Ekonomi Umat Islam

Jum'at, 04 Oktober 2019 14:30 wib

...
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (dua dari kiri) saat mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan Gedung Pusat Studi Ekonomi Islam Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, Kamis 3 Oktober 2019 (santrinews.com/istimewa)

Ponorogo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa Indonesia sudah sepatutnya bersyukur dengan keberadaan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

Sebab, sebagai lembaga pendidikan, Pondok Gontor melahirkan banyak alumnus berkiprah untuk negara ini dan menempati banyak posisi strategis.

Hingga saat ini, Pesantren Gontor sudah memiliki 20 pesantren cabang di seluruh Indonesia dan memiliki lebih dari 34 ribu santri.

“Jawa Timur lebih bersyukur lagi karena induk pesantren modern Gontor ada di Jawa Timur. Semoga Jawa Timur menjadi sumber ilmu bagi para pencari ilmu khususnya bagi yang ingin mendalami ilmu agama di pesantren,” kata Khofifah.

Hal itu disampaikan Khofifah saat mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan Gedung Pusat Studi Ekonomi Islam atau Center of Islamic Economic Studies (CIES) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dan Menara Baru Masjid Jamik Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Kamis 3 Oktober 2019.

Terkait dengan peresmian Gedung CIES UNIDA Gontor yang membuka program Pascasarjana Wakaf, Khofifah berharap Indonesia memiliki lebih banyak lagi pakar manajemen wakaf yang dapat menggerakkan pemberdayaan umat berbasis wakaf.

Menurut Khofifah, hingga saat ini wakaf sebagai instrumen keuangan belum mampu dioptimalkan dalam membangun ekonomi umat.

Padahal, kata dia, potensi wakaf di Indonesia sangat besar dan dapat dijadikan titik balik kebangkitan ekonomi umat Islam. Jika dikelola dengan baik, Khofifah yakin potensi tersebut akan membawa dampak perubahan yang sangat besar bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data yang dirilis Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI), potensi aset wakaf tunai pertahun mencapai lebih dari Rp100 triliun, dengan realisasi sekitar Rp 400 miliar di tahun 2018.

“Literasi masyarakat kita akan wakaf masih sangat minim. Tidak sedikit yang memandang wakaf tidak ada bedanya dengan donasi atau zakat. Padahal konsep diantaranya sangat berbeda. Nah inilah nanti yang menjadi tantangan utama pemanfaatan wakaf secara massif,” ujarnya.

Karena itu, Khofifah optimistis kehadiran pendidikan pascasarjana yang fokus pada wakaf akan semakin banyak SDM yang memiliki kompetensi di bidang wakaf dan dapat mengembangkan lembaga wakaf lebih baik lagi. Tentu saja dengan memadupadankan antara teknologi dan informasi. (shir/onk)