Daerah

Ansor Surabaya Gembleng Kader Militan Pejuang Aswaja

Selasa, 12 November 2019 01:30 wib

...

Surabaya – Sebagai organisasi kader, Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya terus berkomitmen menjalankan proses kaderisasi guna mencetak kader militan calon pemimpin masa depan.

Diantaranya melalui kaderisasi formal berjenjang, mulai Pelatihan Kader Dasar (PKD, Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN).

Selama tiga hari, Jumat-Ahad, 8-10 Nopember 2019, PC GP Ansor Surabaya melaksanakan PKL. Diikuti 93 peserta, PKL berlangsung di Pondok Pesantren An Nur, asuhan Habib Abu Bakar Assegaf di kawasan Kecamatan Jambangan, Surabaya.

Ketua GP Ansor Kota Surabaya, Muhammad Faridz Afif mengatakan, peserta PKL digembleng menjadi pemimpin masa depan yang berwawasan luas, berkarakter dan tangguh.

“GP Ansor akan terus mencetak kader pemimpin masa depan. Mereka kami gembleng untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan memegang teguh akidah Aswaja An Nahdliyah,” kata Afif.

Afif menjelaskan, PKL dilaksanakan secara ketat dan disiplin. Sebab output yang ingin dicapai adalah kualitas bukan kuantitas. Terbukti dari 93 orang tercatat sebagai peserta, hanya 74 orang yang dinyatakan lulus.

“Target kami sejak awal memang adalah kualitas, bukan kuantitas. Karena itu materi dan pemateri juga sangat berkualitas,” tegasnya.

Alumni pasca sarjana Unair ini melanjutkan, PKL yang diadakan GP Ansor Surabaya langsung di bawah kendali instruktur dari PW GP Ansor Jawa Timur dan mendapat dukungan dari Pimpinan Pusat.

Bahkan Ketua PP GP Ansor, KH M Luthfi Thomafi bersedia hadir. Pengasuh Pondok Pesantren Lasem, Rembang yang akrab disapa Gus Luthfi itu juga memberikan materi ke-Ansor-an.

Afif menmbahkan, peserta PKL bukan hanya utusan Surabaya. Sejumlah kader Ansor dari utusan dari Kencong, Bangil, Pasuruan, Ngawi, Gresik, Sidoarjo, Madura, Jember hingga Banyuwangi pun turut menjadi peserta.

“Alhamdulillah animo kader Ansor sangat tinggi untuk ikut PKL yang diadakan GP Ansor Kota Surabaya. Namun kami terpaksa membatasi peserta agar penyajian materi bisa lebih terarah,” pungkas Afif. (red)