Dirosah

Wajah Islam di Tanah Jawa (2): Manusia Jawa dan Islam

Selasa, 22 September 2020 09:00 wib

...

Jawa bisa jadi merupakan pulau atau paling tidak daratan yang pernah dihuni oleh kelompok manusia pertama yang pernah ada di dunia ini. Hal ini dibuktikan dengan penemuan Pithecanthropus Erectus oleh Dubois, yang juga kemudian dikuatkan dengan penemuan “fosil” yang lebih “modern” oleh Oppenoorth dan Van Koenigswald di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terutama di sekitar “aliran” sungai di daerah pedalaman Jawa.

Temuan ini juga disokong dengan temuan artefak yang membuktikan adanya “peradaban dini” manusia di pulau ini. Menariknya jejak peradaban manusia Jawa ini ternyata tidak “berwajah” tunggal. Setiap temuan fosil berikutnya ternyata memiliki “karakter” biologis dan sosial kultural yang berbeda. Terutama antara daerah pedalaman dan pesisir Jawa. Bahkan menurut antropolog Sarasin, hal ini ditemukan hampir merata di semua kepulauan Nusantara.

Manusia Jawa adalah bagian dari gambaran utuh bangsa-bangsa di Nusantara. Dimana menurut para ahli manusia pertama yang ditemukan fosilnya di tanah Jawa (cikal bakal penduduk “asli”), ternyata keturunan dari bangsa Vedda (merupakan bangsa negroid).

Di samping itu, kepulauan Nusantara juga didatangi bangsa Proto dan Deutero Melayu (Sarasin Bersaudara) yang diyakini sebagai bagian dari nenek moyang bangsa Melayu Polinesia. Bangsa ini tersebar dari Madagaskar sampai kepulauan Timur Pasifik.

Sedang bangsa negroid pernah tersebar dari semenanjung india China dan Asia Tenggara, tepatnya semenanjung Malaya. Jejak ras bangsa negroid ini masih bisa dijumpai di Afrika, Asia Selatan dan Oceania termasuk bangsa Papua. Dimana konon menurut Gus Dur merupakan bangsa tribal yang ketika zaman “Dinasti Islam” menjadi salah satu daerah “pembuangan tahanan politik dan kriminal”, sehingga munculah nama “Irian” yang artinya pulau bangsa “primitif” atau tidak berperadaban karena penduduk lokal yang mendiaminya belum memakai baju yang menutup aurat.

Dari rangkaian “sejarah manusia Jawa dan Nusantara” tersebut, paling tidak kita bisa mengambil asumsi bahwa bangsa Jawa adalah bangsa yang memiliki latar belakang ras yang kompleks. Merupakan hasil percampuran banyak suku di belahan Asia Pasifik dan sekitarnya. Apalagi setelah jalur lautan terbentuk dan daerah ini menjadi pintu besar jalur migrasi manusia. Maka semakin banyak pula ras yang kemudian “terdampar” dan menetap di daerah pesisir pulau-pulau di Nusantara.

Inilah yang juga menjadi cikal bakal keragaman “bahasa” lokal yang banyak tumbuh dan berkembang di Indonesia. Termasuk di pulau Jawa. Bahkan dalam satu pulau yang relatif kecil pun, terkadang ditemukan lebih dari satu suku bangsa yang berbeda bahasa dan budaya.

Hebatnya lagi (keragaman) bahasa yang ada di Nusantara jumlahnya ratusan dan bukan sekadar puluhan. Dari keragaman bahasa ini pula kita bisa melacak bagaimana dan kapan pengaruh luar itu datang dan masuk menjadi bagian kebudayaan Nusantara. Termasuk di dalam kasus munculnya nama Irian yang berasal dari bahasa Arab tersebut. Meskipun pada akhirnya demi untuk mengembalikan kehormatan rakyat (bangsa Papua) Indonesia yang berada di pulau paling timur di Nusantara itu, kemudian Gus Dur (ketika menjadi presiden) memutuskan untuk mengembalikan Irian dengan nama Papua.

Menariknya nama Irian yang ternyata dipengaruhi bahasa Arab itu pengaruhnya sudah terjadi begitu lama. Salah satu mitos yang saya dengar dari bapak saya adalah soal bangsa Fak Fak di Papua yang konon merupakan bangsa yang diceritakan dalam kisah Zulkarnain yang sangat masyhur dan “direkam” di dalam Al-Qur’an. Padahal posisi geografis Papua ada di ujung paling timur Nusantara.

Artinya pengaruh Bangsa Arab di Nusantara (termasuk tanah Jawa) bisa jadi lebih awal dari yang tercatat dalam sejarah. Bahkan mungkin sebelum Islam “lahir”, bangsa semit Ibrani yang monoteis sudah pernah berkelana di Nusantara termasuk di Papua atau Fak-Fak tersebut. Dimana (dalam mitos yang saya dengar) konon ada pohon yang bisa berdzikir mengikuti arah matahari mulai terbit sampai terbenam mengikuti perintah “nabi” Zulkarnain kala itu.

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tentang Papua tersebut, pangaruh budaya atau bahasa Arab itu membuktikan bahwa kepulauan Nusantara sejak awal sudah menjadi wilayah yang terbuka dan didatangi beragam kebudayaan dari peradaban bangsa-bangsa besar di dunia. Inilah yang menjadi latar sejarah kenapa begitu banyak ragam bahasa dan budaya di Nusantara.

Ternyata wilayah ini menjadi pusat pertemuan “peradaban” manusia sejak era prasejarah. Proses ini semakin intensif seiring dengan kemajuan peradaban manusia dan munculnya dinasti-dinasti besar baik di Afrika, Asia Barat, dan Dataran China, serta Eropa. Dari dua bangsa yang lebih awal datang dan menjadi nenek moyang kita, memang ada dua karakter yang kuat dan tetap bertahan hingga sekarang. Yaitu karakter pedalaman yang merupakan cikal bakal budaya agraris dan karakter pelaut yang menjadi cikal bakal tradisi atau budaya pesisir.

Mengacu pada kajian (J.H. Kern) terhadap pola linguistik bahasa Melayu kuno yang berkembang di semenanjung Malaya dan Sumatera dan kemudian menyebar luas ke pedalaman kepulauan Nusantara, dapat diketahui bahwa bangsa Melayu awalnya dikenal sebagai bangsa yang mengembangkan sistem pertanian yang cukup maju atau modern.

Inilah yang ditemukan sampai sekarang di tanah Jawa terutama di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur yang tanahnya terkenal sangat subur. Dari budaya agraris inilah muncul sistem organisasi sosial yang berpuncak pada lahirnya model relasi politik di masyarakat desa yang kolektif kolegial. Dimana model kehidupan “bersama dalam nilai gotong-royong” semacam ini masih sangat kuat terlihat di beberapa desa di Jawa hingga saat ini.

Bahkan ketika agama-agama besar seperti Budha, Hindu, Islam dan Kristen mulai masuk ke Nusantara, tidak mampu sepenuhnya mengubah tatanan sosial dan spiritual bangsa Indonesia yang mengakar kuat dalam tradisi keyakinan agrarisnya.

Jika ditarik dalam konteks kekinian, dimana orang Indonesia saat ini secara mayoritas merupakan pemeluk agama Islam, kuatnya akar kultur agraris itu masih sangat kelihatan. Ekspresi keber-agama-an umat Islam hingga saat ini masih cukup kental dipengaruhi simbol-simbol spiritualitas lokal. Seperti yang nampak dalam ritual selamatan, bersih desa, ruwatan dan dalam tradisi “suroan” yang dilakukan oleh para elit masyarakat Jawa.

Artinya pola atau model Islamisasi yang berlangsung sejak era para pedagang, kemudian para Wali Songo, kemudian diteruskan para “raja” kerajaan Islam di tanah Jawa, berlanjut lagi ke para kiai pesantren, yang terus berjalan hingga saat ini, tetap masih memberikan ruang terhadap eksistensi nilai budaya lokal dan tidak ada upaya untuk menghilangkannya.

Tentu saja lahirnya kelompok “Arab Lokal” di era modern sekarang yang gencar melakukan “purifikasi” setelah pulang dari belajar di Saudi Arabia, menjadi tantangan bagi masyarakat Jawa dalam menjaga “tradisi” keterbukaan, toleransi dan kemampuan adaptasi mereka terhadap masuknya tradisi baru atau “modernisme” dari luar yang gencar menghantam akhir-akhir ini.

Meskipun kita punya pengalaman yang sangat panjang bahkan sejak era prasejarah dalam menghadapi masuknya nilai-nilai peradaban baru dari luar, kita harus tetap hati-hati dan waspada, karena bisa jadi kita akan kehilangan identitas budaya kita tanpa kita sadari. (*)

Tawangsari, 22 September 2020

Muhammad Khodafi, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.