Dirosah

Wajah Islam di Tanah Jawa (10): Puncak Islamisasi Jawa

Selasa, 06 Oktober 2020 07:30 wib

...

Meskipun tidak ada catatan yang ditail soal bagaimana ekspresi keber-agama-an masyarakat dari para “saudagar” China, India, Arab atau Eropa sampai abad 16, namun naskah atau manuskrip kuno masyarakat di bagian Indonesia Timur mengabarkan kepada kita bahwa Giri (baca Sunan Giri dan para santrinya) punya peran penting dalam proses Islamisasi wilayah timur kepulauan Nusantara, seperti Sulawesi, Ternate, Tidore, Lombok, serta Nusa Tenggara dan daerah di sekitarnya (Jaffar, 2020).

Artinya saat itu Sunan Giri sudah punya perhatian terhadap kelanjutan proses Islamisasi daerah di luar Jawa. Di sisi lain berarti proses Islamisasi tanah Jawa sudah mulai mencapai puncaknya dan dianggap “aman” karena sudah berjalan secara alami. Apalagi masyarakat pesisir Utara Jawa sebagian besar sudah berubah menjadi penganut Islam yang taat (terutama di daerah Demak-Surabaya).

Sekali lagi sulitnya menemukan catatan tentang bagaimana proses Islamisasi di tanah Jawa berlangsung dengan sangat massif menyisakan pertanyaan besar sampai saat ini. Meskipun teori tentang Wali Songo sering dianggap kurang ada bukti tertulis oleh para sejarawan Barat, tidak berarti Wali Songo itu tidak ada. Karena fakta-fakta historis berupa artefak budaya lainnya begitu banyak ditemukan.

Dugaan sementara akan hal ini adalah, fakta sejarah ini sengaja “disembunyikan” oleh para administrator kolonial Belanda untuk mengaburkan peran Wali Songo dalam proses Islamisasi Nusantara atau Jawa pada khususnya, untuk kepentingan politik dan ekonomi mereka.

Apalagi kondisi ini juga didukung dengan kurangnya perhatian para “pelancong” seperti Ibnu Batutah dan It Tsing dalam menggambarkan kehidupan keagamaan penduduk lokal. Para pelancong yang datang sebelum era kolonialisme ini mungkin menganggap kehidupan sosial keagamaan masyarakat yang masih sederhana tidak terlalu penting bagi mereka untuk “direkam”. Mereka lebih suka mencatat jalur pelayaran mereka dan komoditi perdagangannya yang ada di daerah tersebut untuk kepentingan bisnis mereka.

Karena itulah kita perlu menengok catatan menarik dari Anthony Reid tentang budaya masyarakat di Asia Tenggara. Terutama yang terkait dengan “gaya” peperangan yang bertujuan untuk “menghapus” jejak kebesaran “lawan” dan bukan untuk menguasai daerah sasaran.

Fenomena inilah yang bisa dijadikan titik awal penjelasan. Artinya model “peperangan” yang kerap terjadi di Asia Tenggara termasuk tanah Jawa, telah melahirkan budaya “mencari selamat” para rakyat kecil dengan cara lari dan meninggalkan daerah atau wilayah yang sedang menjadi arena konflik. Karena konflik yang terjadi selalu berujung pada pemusnahan, bukan saja bangunan tetapi juga “keturunan” para penguasa lokal dan “perbudakan”.

Menariknya Islam masuk dengan ajaran dan praktik yang berlawanan dengan tradisi keyakinan ini. Karena pola “penaklukan” Islam yang relatif damai inilah, kemudian penduduk lokal Jawa atau Nusantara umumnya, mau menerima Islam dan dengan cepat menyebar sebagai agama rakyat.

Perlu diketahui dalam analisisnya Reid juga menyatakan bahwa model peperangan di Asia Tenggara juga melahirkan “tradisi perbudakan”, apalagi agama yang datang sebelumnya (Hindu) melegalkan aturan pengklasan derajat sosial manusia. Kondisi ini sebenarnya bertentangan dengan agama lokal Jawa yang berbasis pada tradisi agraris yang lebih “egaliter”.

Islam kemudian datang dengan cara yang lebih “manusiawi” dan menghilangkan perbedaan status sosial yang bersifat “permanen” atau diturunkan secara genetik tersebut. Dengan demikian proses Islamisasi Nusantara atau Jawa menjadi lebih natural, cepat dan kuat tertanam dalam benak masyarakat Jawa dan Nusantara lainnya.

Bukti lainnya yang mungkin berkaitan dengan fenomena Islamisasi adalah fenomena meledaknya jumlah penduduk pulau Jawa. Dalam catatan administrasi kuno, penduduk Asia Tenggara belum pernah mengalami lonjakan jumlah yang signifikan sampai abad 16.

Hal ini bisa jadi dikarenakan sering terjadinya peperangan antar kerajaan yang saling memusnahkan. Atau mungkin juga karena adanya wabah yang terjadi dan tidak tercatat dalam manuskrip kerajaan.

Namun tesis yang kedua ini sangat kecil kemungkinannya untuk bisa terjadi. Karena model kehidupan masyarakat Asia Tenggara yang menyebar dan tidak terkonsentrasi hanya di kota besar layaknya di negara China, Arab, India atau Eropa yang memang lebih berkembang peradabannya. Sehingga wabah akan relatif lebih susah menjalar ke daerah lain dengan cepat.

Jumlah penduduk tanah Jawa terus mengalami peningkatan sejak akhir abad ke 15 atau sejak Islam mulai berkembang sebagai agama rakyat. Tentu saja tesis ini jauh berbeda dengan anggapan atau tesis para sarjana Barat yang justru menilai bahwa kolonialisasi Barat membawa “kesejahteraan” bagi penduduk lokal terutama dalam hal pelayanan kesehatan masyarakatnya (Reid, 1988), sehingga jumlah penduduk meningkat pesat dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islamisasi.

Tesis ini memang semakin membuktikan bahwa ada kesengajaan meminggirkan peran Islam dalam fenomena “meningkatkan” populasi tanah Jawa yang cukup signifikan di awal abad 16. Karena untuk diketahui perkiraan jumlah penduduk di Asia Tenggara saat itu konon hanya 5,5 orang per kilometer perseginya. Bandingkan dengan daratan China, India dan Eropa yang sudah di atas 20 orang.

Harus diakui memang pencatatan cacah penduduk di era kolonial jauh lebih baik dibandingkan di era kerajaan. Meskipun harus disadari pula bahwa sejak Islamisasi tanah Jawa mencapai jantung peradaban Jawa (kerajaan), model peperangan yang barbar sudah mulai berkurang meskipun tetap terjadi secara sporadis. Bahkan korbannya adalah umat Islam sendiri. Sebagaimana terjadi di era Sultan Agung.

Namun hal ini tidak bisa menghentikan berubahnya tradisi dan model kehidupan masyarakat Jawa yang lebih “Islami”, beradab dan menghargai nilai kemanusiaan. Di masa inilah lonjakan penduduk Jawa terjadi hingga sekarang. Bahkan saat ini pulau Jawa dikenal sebagai salah satu pulau terpadat di Dunia.

Salah satu sebab kekiniannya adalah adanya “ajaran” Islam untuk memperbanyak keturunan yang shaleh dan shalihah, yang begitu “disiplin” dijalankan pengikutnya sampai saat ini.

Maka tak perlu heran jika kemudian penganut Islam tetap menjadi mayoritas di tanah Jawa sampai beberapa dekade mendatang. (*)

Tawangsari, 6 Oktober 2020

Muhammad Khodafi, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.