Dirosah

Gejala Islam Nusantara

Rabu, 15 Juli 2015 23:09 wib

Oleh : Ibnu Rosyid

Sebuah gejala yang akhir-akhir ini mendunia, entah siapa yang benar dan siapa yang salah. Islam yang dinusantarakan atau Nusantara yang diislamkan?

Semua berangkat membawa argumen, dengan dalih ini bukan hal baru. Ini hanya sebuah representasi dari Kemoderatan Islam yang ada di Indonesia, sebuah gagasan yang diusung untuk meredakan Islamophobia dunia.

Terlebih ketika Islam di Timur Tengah yang terlihat di mata Dunia Internasional sebagai Islam yang tidak Toleran dan hanya menimbulkan permasalahan dan kesenjangan sosial.

Sebenarnya, Islam di Timur Tengah sendiri beralih haluan setelah Khilafah Utsmaniah runtuh. Di mana Negara-Negara Arab dibagi-bagi sebagai Jajahan Kolonialisme yang ujungnya sampai sekarang hampir kesemuanya menjadi Negara Demokrasi ala Barat yang justru merusak Negara Islam.

Sebenarnya akar Islam Indonesia sendiri tak jauh beda dengan Islam di Hadhramaut khususnya Tarim. Secara Madzhab Fiqih, Aqidah, Kebudayaan serta Toleransi. Akan tetapi, Konflik yang terjadi di Yaman sendiri begitu juga di Negara-Negara Arab lainnya tak lain adanya Intervensi dari Asing dan ini tidak usah dipungkiri lagi.

Lalu, menyikapi fenomena Islam Nusantara yang korelasinya masih Abu-Abu bagi kebanyakan orang awam terlebih Pencetus-Pencetusnya adalah Tokoh yang lebih condong ke arah Liberal.

Kita lihat saja seperti apa episode kelanjutan Islam Nusantara, kalau tema Islam yang diusung dan yang dipraktekkan seperti yang dibawa oleh Wali Songo atau setidaknya Mbah Hasyim Asy’ari, maka kami setuju. Maka dari itu kita lihat pelaksanaan Islam Nusantara seperti apa? Kalau cuman wacana dan rancangan, betapa banyak pelaksanaan tak sesuai harapan. (*)

Tarim Yaman, 28 Ramadhan 1436 H