Dirosah

Soekarno dan Politik Islam Nusantara

Rabu, 19 Agustus 2015 00:15 wib

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

SEBELUM Indonesia merdeka, Soekarno adalah prototip pemikir kebangsaan yang menyentuh Islam dalam nuansa menggelisahkan. Pemikiran Soekarno tentang Islam menarik batas antara dia dengan kelompok Islam baik modernis maupun tradisionalis.

Ahmad Hassan dan Moh Natsir adalah dua tokoh Islam modernis yang berada di garda depan dalam menghadang pemikiran Soekarno. Sementara Koran Berita Nahdlatoel Oelama merupakan representasi Islam tradisionalis dalam menghadapi Soekarno.

Tabrakan Soekarno dengan kelompok Islam terlihat dari tulisannya Memudakan Pengertian Islam di Panji Islam tahun 1940 yang mendapat kritikan keras dari kalangan modernis terutama tokoh Persatuan Islam, Ahmad Hassan. Dalam bantahannya terhadap Soekarno, Ahmad Hassan menulis artikel dengan judul membudakkan pengertian Islam. Bagi Ahmad Hassan, Soekarno terlalu meremehkan Islam baik kelompok modernis maupun tradisionalis.

Selain menyebut kelompok Islam sebagai kaum jumud, kepala batu, dungu, kaum tasbih dan kaum celak mata, Soekarno juga menyebut bahwa Islam seharusnya dipakai seperti karet yang lentur yang bisa ditarik ke barat atau timur. Kasarnya, Soekarno menginginkan satu penusantaraan Islam. Satu Islam yang bermakmum kepada pemakainya.

Referensi Soekarno tentang Turki modern dan Irak yang dianggap sebagai Negara sekuler progresif mendapat tentangan keras Ahmad Hassan sebagai pembumian konsep Ashabiyah. Hassan sebenarnya secara kurang pas melihat kebangsaan. Bagi Hassan, kebangsaan adalah ashabiyah jahiliyah yang dilarang agama. Kebangsaan dianggap akan memisahkan muslim Indonesia dari muslim lainnya di luar Indonesia. Sementara bagi Soekarno Islam itu harus direparasi selaras model Turki modern yang sekuler.

Sebenarnya, Soekarno dalam tulisannya bertajuk Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme di Suluh Indonesia Muda tahun 1926, Soekarno mengatakan tentang nasionalisme yang menarik. Soekarno menolak keras Jingo nationalism ala Arya Samaj yang memisahkan Hindu dan Muslim, Soekarno juga menegaskan bahwa nasionalisme yang harus diikuti adalah nasionalisme Timur bukan nasionalisme Eropa yang saling memangsa. Bagi Soekarno, Islam dan nasionalisme adalah satu pendirian yang sama karena dilahirkan atas “nafsu” melawan kolonialisme.

Soekarno juga apresiasif terhadap pemikir Pan Islamisme. Dalam pemikiran Soekarno, Pan Islamisme sekaligus adalah nasionalisme. Soekarno memberi contoh persatuan kokoh Mahatma Gandhi dengan Pan Islamis Maulana Muhammad Ali dan Shaukat Ali di India. Soekarno juga mereferensi Pan islamismenya Jamaludin Al Afgani sebagai nasionalisme patriotik yang tak terisolasi territorial Negara.

Disinilah urgensi Islam nusantara tampil. Islam nusantara hadir dengan jiwa fikih siyasah yang menarik. Fikih politik ini tak diwarnai dalam bentuk tekstualitas yang jumud. Siyasah Islam nusantara membumi dengan selalu mencari dinamisme yang I’tidal (berkeadilan) dan tawassuth (moderat). Fikih siyasah Islam nusantara dibangun atas landasan subtantif dan pemikiran melihat realitas yang terjadi (waqi’iyyah).

Salah satu ikon islam Nusantara yaitu Nahdlatul Ulama kemudian mencari rumus baru tentang kebangsaan yang solid. Bahkan, meskipun BNO mengkritik Soekarno, kritikan itu menjadi sejuk setelah dilantiknya Soekarno menjadi presiden.

NU kemudian melahirkan konsep Darus Sulh (Negara sanggah), yang berdiri untuk menengahi konsep Darul Islam-Darul Harb juga sistem khilafah yang gagal dibentuk pada tahun 1925. Pada tahun 1925, diadakan kongres Khilafah di Kairo yang bertujuan menghidupkan kembali khilafah setelah khilafah Ottoman dihapus Kemal Attaturk. Kongres Khilafah ini gagal menghasilkan khalifah karena terjadi rivalitas antara raja Saudi, Abdul Azis dengan Raja Fuad dari Mesir. Di dalam Mesir sendiri, Pendirian khilafah juga gagal karena ditentang partai Dusturiyyin milik Ali Abdul Raziq yang sekuler.

Filosofi darul sulh adalah spirit islah (perdamaian). Dalam darul sulh keragaman ditampung dan diatur agar tak saling berebut kepentingan. Maka, darul sulh menjadi titik temu antara Islamisme dan nasionalisme. Kebangsaan ala Islam nusantara ini kemudian difinalkan pada konsep trilogi ukhuwah bikinan K.H Ahmad Shiddiq yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariyah. Dengan tiga ukhuwah itu kebangsaan Indonesia takkan menjadi chauvinis, namun berjiwa toleran, terbuka, inspiratif dan moderat. Trilogi ukhuwah juga mengakhiri perdebatan Indonesia sebagai darul Islam ataukah Darul Harb.

Siyasah Islam nusantara juga menghasilkan model politik moderat. Dalam kasus Soekarno versus DI-TII diatasi melalui konsep waliyyul Bid Dharuri Asysyaukah. Dalam konsep ini, Soekarno adalah sah secara hukum Islam namun tetap bukan pemimpin sempurna karena lahir melalui revolusi bukan Pemilu.

Siyasah Islam nusantara juga menghasilkan konsep konstitusi sebagai mekanisme Negara. Teori yang dipakai adalah pengharaman kudeta sebagai implementasi ajaran Kitab akidah Tahawiyah yang menjadi acuan pesantren-pesantren. Walhasil, meski NU bisa menggulingkan Soekarno namun NU menurunkan Soekarno melalui mekanisme konstitusional melalui resolusi Nuddin Lubis dan Djamaludin Malik tahun 1966. (*)

Syarif Hidayat Santoso, Pengurus Lajnah Ta’lif Wan Nasyr MWC NU Kota Sumenep.

Sumber: Radar Surabaya, 16 Agustus 2015