Dunia

Arab Saudi Masih Telaah Tragedi Haji di Mina Tahun 2015

Selasa, 07 Juni 2016 20:31 wib

...
Petugas membawa jenazah jamaah haji yang wafat akibat tragedi di Mina Arab Saudi, Kamis, 24 September 2015 (santrinews.com/reuters)

Jeddah – Otoritas Arab Saudi masih menelaah tragedi yang terjadi tahun 2015, saat ratusan anggota jamaah haji meninggal dunia karena berdesak-desakan di satu jalan di Mina.

“Kami sudah mempelajari itu dan melanjutkan penelitian, dan InsyaAllah kami akan punya banyak kebijakan dan prosedur preventif sehingga peristiwa yang terakhir terjadi tidak terulang,” kata Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Mohammed Bentin kepada AFP di sela konferensi pers di kota pesisir Laut Merah, Jeddah, Selasa, 7 Juni 2016.

Putra Mahkota Mohammed bin Nayef, menteri dalam negeri yang juga ketua komite haji, langsung memerintahkan penyelidikan setelah peristiwa di Mina pada 24 September tahun lalu, namun belum ada laporan mengenai hasil penyelidikan itu.

Menurut data resmi dari berbagai negara, sedikitnya 2.297 anggota jamaah haji meninggal dunia dalam tragedi itu. Sementara Pemerintah Arab Saudi melaporkan jumlah korbannya 769 orang.

Tragedi itu terjadi saat jamaah berjalan di tengah cuaca panas menuju Jamarat, tempat mereka menjalankan ritual melempari setan dengan batu, di kota tenda Mina di bagian barat Arab Saudi.

Haji dan umrah membawa jutaan Muslim dari berbagai belahan dunia ke Arab Saudi setiap tahun.

Usai konferensi pers mengenai Program Transformasi Nasional (National Transformation Programme /NTP), Bentin mengatakan kepada tentang upaya untuk meningkatkan perekonomian non-minyak kerajaan.

Sebagai bagian dari program itu, Arab Saudi ingin meningkatkan jumlah pengunjung umrah tahunan menjadi 15 juta pada 2020, naik dari enam juta.

Bentin mengatakan bahwa seperti yang lainnya, kementeriannya harus memenuhi target untuk menunjukkan bagaimana NTP dijalankan.

Ini akan meningkatkan keamanan, ia mengatakan, karena di bawah NTP para pejabat akan “siap mengevaluasi setiap tahapan haji, dan setiap pelayanan, dan kapanpun ada yang salah, InsyaAllah kami setidaknya akan bisa bertindak sebelum sesuatu yang serius terjadi.”

Bentin mengatakan kementeriannya ingin menggunakan teknologi untuk memantau pemberian layanan kepada jamaah, dan bekerja untuk memenuhi “standar keramah-tamahan internasional” bermitra dengan sektor swasta, sehingga jamaah akan terus mengalis sepanjang tahun, bukan hanya saat musim haji. (rus/ant)