Dunia

Toleransi di Bulan Ramadan, Muslim Patungan Bangun Gereja

Rabu, 15 Juni 2016 13:35 wib

...

Punjab – Semangat toleransi umat muslim Desa Khalsabad, Kota Gojra, Provinsi Punjab, Pakistan, patut ditiru. Meski berbeda keyakinan, warga beragama Islam di sana semangat membangun sebuah gereja untuk sahabat Kristiani mereka. Selain donasi uang, mereka juga menyumbangkan tenaganya untuk membangun gereja yang diterjang banjir tersebut.

Harian Daily Pakistan mengabarkan, gereja lama yang dibangun dengan menggunakan tanah liat hancur akibat terjangan hujan deras beberapa waktu lalu.

“Saya mengetahi proyek di komunitas ini dalam pertemuan desa bulan lalu. Gereja juga rumah Allah, doa adalah yang terpenting. Kami menyembah Tuhan yang sama,” kata Dilawar Hussein, seorang pedagang beragama Islam.

Besarnya uang yang disumbangkan sangat tergantung kemampuan warga. Seorang petani memberikan donasi sebesar Rp 400.000, sementara seorang pebisnis seperti Hussain menyumbang sekitar Rp 2 juta, beberapa orang lain malah menyumbang hingga lebih dari Rp 6 juta.

“Usai kerusuhan lokal kami mencoba mempersatukan kembali warga,” kata seorang warga desa Ijaz Farooq kepada BBC, Ahad, 12 Juni 2016.

“Kami meningkatkan kegiatan kami sehingga kami tak perlu lagi menghadapi masalah serupa. Dengan membangun gereja ini, kami ingin menunjukkan bahwa kami adalah komunitas yang bersatu,” tambah dia.

Gojra, kota terdekat dari desa itu, pernah dilanda kerusuhan antaragama pada 2009 ketika massa menyerang kediaman warga pemeluk Kristen dan mengakibatkan 10 orang tewas.

Tujuh orang di antara tewas terbakar hidup-hidup di kediaman mereka dan empat gerej di beberapa desa hancur. “Sejak masa kecil saya, kami selalu tinggal bersama di satu desa. Kami hidup dengan cinta kasih dan kami saling menghadiri pesta pernikahan dan hari raya masing-masing,” kata Faryal Masih, warga desa pemeluk Kristen.

“Kami selalu bersama di saat susah dan senang. Saya selalu berdoa agar hal seperti terjadi di Gojra tak terulang,” tambah Faryal.

Dengan keberadaan gereja baru itu, maka umat Kristen di desa tersebut tak lagi perlu menyewa atau meminjam rumah seseorang untuk merayakan Natal, Paskah atau hari besar lainnya.

“Awalnya saya tak percaya ketika para pemimpim umat Muslim mengatakan mereka akan membantu kami membangun gereja,” tambah Faryad kepada kantor berita Anadolu.

“Mimpi lama komunitas kami kini menjadi kenyataan,” tambah pria itu dengan mata berkaca-kaca. (*)