Dunia

Media Barat Sedang Jalankan Misi Adu Domba China dan Umat Islam

Kamis, 19 Desember 2019 18:30 wib

...
Muslim Uighur (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – China buka suara ihwal laporan surat kabar the Wall Street Journal (WSJ) menyebut Beijing mencoba merayu sejumlah organisasi Islam di Indonesia agar tak lagi mengkritik kebijakan terkait etnis Uighur di Xinjiang.

China menganggap laporan WSJ itu berisi fitnah dan mencemarkan “program anti-teror dan deradikalisasi” yang diterapkan di Xinjiang.

Menurut China, laporan WSJ itu sebagai bentuk upaya media Barat mengadu domba Negara China dengan umat Islam.

“Sejumlah media Barat itu berupaya mengadu domba hubungan persahabatan antara Tiongkok dan dunia Muslim,” kata Kedubes China di Jakarta melalui pernyataan tertulisnya, Rabu, 18 Desember 2019.

Beijing juga menganggap laporan itu sengaja dibuat untuk merusak stabilitas dan kemakmuran di Xinjiang dan menghambat kemajuan China.

China menyatakan pada Maret lalu, Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menerbitkan sebuah resolusi berisikan pujian atas upaya Tiongkok dalam mengayomi warga Muslim di sana.

Baca juga: Muslim Uighur, Antara Tragedi Kemanusiaan dan Separatisme

Sebanyak 50 negara, kata China, juga menandatangani surat bersama yang ditujukan kepada Presiden Dewan HAM PBB dan Komisaris Tinggi HAM PBB pada Juli lalu.

Surat itu berisikan apresiasi 50 negara terhadap China karena berhasil menjalankan program anti-teror dan deradikalisasi di Xinjiang dengan tetap “menghormati dan menjamin hak asasi manusia.”

“Dalam pertemuan Komite III Sidang Majelis Umum PBB ke-74 Oktober lalu, lebih dari 60 negara juga memberikan pernyataan yang mengapresiasi kemajuan HAM yang luar biasa besar di Xinjiang, Tiongkok,” demikian isi pernyataan Kedubes China.

Dalam artikel berjudul ‘How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps’, WSJ memaparkan China menggelontorkan sumbangan dan program beasiswa terhadap sejumlah organisasi massa Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, ketika isu soal pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur mencuat sekitar akhir 2018 lalu.

China melalui perwakilan di Jakarta juga disebut membiayai puluhan tokoh NU, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejumlah wartawan, hingga akademisi Indonesia untuk berkunjung ke Xinjiang.

Baca juga: Soal Uighur, Sikap PBNU Tak Bisa Didekte China

Usai serangkaian kunjungan ke Xinjiang berlangsung, sejumlah ormas Islam RI dikatakan tak lagi vokal dalam menyuarakan keprihatinan mereka terkait dugaan persekusi dan diskriminasi yang diterima etnis Uighur dari pemerintah China.

Muhammadiyah, NU, dan MUI membantah seluruh tudingan WSJ itu. Laporan WSJ itu dianggap sengaja menyampaikan penafsiran keliru terhadap kontak dan aktivitas normal antara Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia dengan NU, Muhammadiyah, MUI, dan berbagai kalangan lainnya di Indonesia. (us/cnn)