Esai

Lupa Diri

Sabtu, 29 Desember 2018 00:30 wib

...

Oleh: Ahmad Dahri

KALAU saja yang terjadi di depan sana mampu dijangkau oleh mata, maka tidak akan ada hati yang kecewa, bahkan tidak ada daftar harapan di atas tangan yang terbuka, menengadah, mengatupkan telapak tangannya, bahkan saat bersujud di atas sajadah.

Pandangan yang terbatas adalah bukti bahwa manusia tidak bisa menentukan apapun, tugasnya hanya menanam, merawat, perkara hasil, tiada kuasa. Munculnya ketakutan, rasa khawatir, tidak makan, tidak nyandang, tidak punya kendaraan adalah wujud ketidaktahuan, dengan kata lain kurangnya keyakinan kepada Tuhan.

Buktinya adalah sedikit rasa syukur atas karunia-Nya, lebih-lebih sudut pandang keakuan, atau terlalu sering memandang seseorang dari apa yang ia kenakan, jabatan, profesi, kendaraan bahkan title yang panjangnya melebihi ikat pinggangnya. Tolak ukur inilah yang menjadi bukti bahwa keterbatasan manusia atas keyakinan terhadap Tuhan.

Lho kan itu masuk dalam konteks pertimbangan, jadi tiada masalah. Jika demikian pertanyaannya adalah, bagaimana dengan kualitas personal yang anda miliki? atau mengapa pertimbangan anda bukan dalam konteks pengembangan manusia menjadi insan kamil? secara tidak langsung mengenyampingkan ayat Tuhan tentang potensi setiap manusia.

Sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW yang memiliki misi liutammima makarim al akhlak pastinya akan mengutamakan etos, moral, etika, budi luhur, dan pengetahuan yang purna.

Dalam kondisi tertentu, pengetahuan yang dipahami dan dipraktikan akan memberi ruang yang luas dalam memandang kehidupan. Dengan begitu sebagai manusia, kita mengilhami keluhuran sebuah pengetahuan, sehingga akan menjadi keniscayaan sebuah kematangan diri yang disebut al insan al kamil.

Secara tekstual insan kamil berarti manusia sempurna. Tetapi kembali lagi kepada konsep mahkluk dan huduts, bahwa selagi menyandang posisi makhluk maka tetap saja tiada yang sempurna.

Sayangnya hari ini banyak sekali yang menampakkan diri dengan pede nya, merasa lebih sempurna dari yang lain, merasa lebih baik dari yang lain, merasa lebih benar dari yang lain. Alim memang, tetapi lalim adabnya, cekak nalarnya, cingkrang pikirannya, remuk perenungannya, dan keras pemahaman pandangan hatinya.

Eits“¦.kog emosi? Tidak cuma tidak ada kopi. Boleh minta secangkir lagi? Boleh jadi insan kamil bisa disandang oleh siapapun, siapa saja yang utuh pemikirannya, dalam perenungannya dan tidak sembrono sikapnya dalam menilai bahkan menghukumi apa dan siapapun.

Dalam aspek uswatun khasanah Nabi Muhammad adalah ruang yang sangat luas, sangat dalam. “Ya memang beliau nabi, sedangkan kita manusia biasa.” Justru itu, sebagai nabi saja masih mawas diri, kita sebagai manusia mengapa tidak?
Kalau saja dipetakan, permasalahannya adalah krisis etika, dalam hal apapun.

Mengapa etika? Karena etika mengajarkan kita untuk berterima kasih. Pada tingkatan tertentu dinamakan syukur. Kalau saja tubuh selalu membutuhkan nutrisi yang menjaga stabilitasnya, begitu juga dengan tamyiz atau esensi diri, yaitu kejujuran diri, kemurnian diri, minimnya pengharapan, terutama kepada sesama makhluk, karena harapan hanya tercurah kepada Tuhan, sedangkan sesama makhluk fungsinya adalah penghormatan, penghargaan, setidaknya tidak lupa untuk saling berterima kasih.

Sebagai keturunan Nabi Adam, menusia memiliki posisi yang sangat mulia, karena sesungguhnya Bani Adam sangat dimuliakan (QS: Al-Isra’; 70) bahkan menjadi khalifah di muka bumi, memiliki potensi yang luar biasa, diciptakan dari sari pati bumi pilihan.

Lantas mengapa sedikit demi sedikit lupa pada hakikatnya sebagai hamba? Lupa berterima kasih? Cenderung menyuruh dan mengatur Tuhan dengan dasar bahwa Tuhan memerintah hamba-Nya untuk berdoa dan meminta. Jika boleh bertanya, maka seberapa total kita menghamba kepada Tuhan? Seberapa sering kita menjadi tali atas kasih dan sayang Tuhan? Dalam konteks persaudaran.

Sehingga pelajaran pertama yang benar-benar harus kita pahami adalah “Berterima Kasih.” Mengapa? sebagai manusia yang menyandang fitrah tempat salah dan lupa, setidaknya membangun cermin pengetahuan, sedikit demi sedikit membangun ruang yang luas di dalam hati, menumbuhkan bunga kesadaran. Tanpa merusak sangkan paraning dumadi yang memang menjadi anugerah bagi setiap manusia.

Dengan begitu puncak dari rasa terima kasih adalah mensyukuri nikmat-Nya, menyadari segala perbedaan, kekurangan dan kelebihan setiap manusia. Jika anda merasa memiliki kelebihan maka lengkapilah kekurangan, bukan malah menyoal, mengorek dan nyinyir akan kekurangan orang lain. (*)

Ahmad Dahri, santri di Pesantren Luhur Bait Al Hikmah Kepanjen, dan Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Buku terbarunya adalah “Hitamkah Putih Itu?”.

______
Bagi sahabat-sahabat penulis yang ingin berkontribusi karya tulis baik berupa opini, esai, resensi buku, puisi, cerpen, serta profil tokoh, lembaga pesantren dan madrasah, dapat dikirim langsung via email ke: redaksi@santrinews.com. Terima kasih.