Fikrah

Iblis dan Habib: Mabuk Nafsu Kuasa

Selasa, 01 Desember 2020 08:30 wib

...

Mengajak berjihad karena meniru “kesombongan” Iblis, itu bukan perintah agama.

Ketika Tuhan menurunkan Al-Qur’an, kalimat pertama yang turun adalah kalimat perintah. “Iqra’ bismirabbika…” (Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-Mu…).

Kalimat perintah adalah kalimat yang sarat dengan makna “kuasa”. Zat yang Maha Pencipta dan Kuasa ini telah memerintahkan kepada “hamba-Nya” yang Dia kuasai (Nabi Muhammad sebagai manusia yang paling mulia akhlaknya) untuk “membaca”.

Bukan sekedar membaca, tetapi membaca dengan akar kesadaran ilahiyah. Yaitu memulai setiap pembacaan dengan menyebutkan nama Tuhan. Dimana kemudian Nabi Muhammad “memilihkan” (dengan ridha Allah) kalimat Basmalah. Inilah kalimat yang menjadi kunci keberkahan setiap pembacaan, jika kalimat itu dipahami, dimengerti dan dipraktekkan dengan istiqomah.

Pilihan bismillahirrahmanirrahim sebagai kalimat pembuka setiap amal perbuatan, adalah pilihan bijak yang penuh dengan “keadilan”. Sekaligus menjadi tanda bahwa memulai hidup dengan agama (Islam) itu harus dengan cinta (yakni sifat Maha pengasih dan penyayang). Bukan dengan sifat “Maha Pencipta” atau Maha Perkasa ataupun Maha Adil.

Bayangkan jika kita membaca basmalah dengan sifat Allah yang Maha Pencipta, kita akan jauh lebih sibuk mengurusi dunia “sains dan teknologi” untuk “menyaingi” Tuhan sebagai “sang pencipta”. Para malaikat yang sudah “mengetahui” tentang watak manusia yang suka merusak dan menumpahkan darah, sudah sejak dini “mempertanyakan” keabsahan kehendak Allah yang menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di dunia.

Kalau kita renungkan “protes” para malaikat tersebut, semuanya terbukti benar adanya. Karena manusia sejak turunan pertamanya di dunia sudah menumpahkan darah saudaranya. Tapi inilah keputusan Zat yang Maha Berkehendak. Karena itu pula membaca dengan atas nama Allah diperintahkan dan pilihannya jatuh pada sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, agar manusia bisa “mengontrol” keserakahan nafsu kuasanya dengan cinta (kasih dan sayang).

Kebiasaan para sufi yang lebih suka dengan ekspresi keagamaan yang penuh cinta dan kelembutan, dari pada ketegasan dan pemaksaan, juga menjadi tanda betapa cinta adalah ajaran utama Islam. Para sufi lebih suka menghindari konflik ketimbang mereproduksi konflik. Bagi para sufi basmalah adalah sebuah simbol yang menegaskan bahwa cinta adalah inti agama. Bukan kebencian. Karena semua makhluk diciptakan Allah dan dipelihara secara “adil” oleh-Nya. Bahkan Iblis yang mengingkari “perintah-Nya”, tetap saja mendapatkan berkah dari sifat Ar-Rahman sehingga bisa hidup “kekal” di dunia dan di akhirat/neraka.

Sementara manusia dan makhluk lainnya berpotensi mendapatkan jatah sempurna keberkahan dari sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, baik di dunia ataupun di akhirat. Berulangkali manusia melakukan “dosa” atau kesalahan, tetap saja Allah membuka peluang pengampunan agar bisa mendapatkan keberkahan Ar-Rahim. Berbeda dengan Iblis yang sudah tidak bisa menikmati keberkahan Ar-Rahim, setelah mereka durhaka.

Kedengkian Iblis pada manusia yang “jadi khalifah” inilah yang menjadi sumber kerusakan dan peperangan atau konflik di dunia. Iblis menjadi penggoda manusia agar lupa dengan hakekat basmalah. Bahkan menyandingkan dan mengganti kalimat suci itu dengan sumpah serapah yang diharamkan Allah. Kesombongan Iblis yang dulunya ahli beribadah, menghilangkan sisi “kehambaannya”. Sehingga yang tersisa adalah “ketakaburan” merasa paling mulia dan lebih hebat dari yang lain. Anehnya sifat Iblis ini banyak ditiru manusia akhir zaman.

Iblislah yang “protes” paling keras ketika Allah hendak menciptakan Adam sebagai Khalifah-Nya di dunia. Iblis merasa bahwa dialah yang seharusnya menjadi “Khalifah”. Bukan Adam (manusia). Atas nama ibadahnya yang lebih baik dibandingkan makhluk lainnya Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Padahal Allah adalah Tuhan yang Maha Berkehendak. Bagaimana mungkin makhluk-Nya bisa dengan sombong menolak Yang Maha Berkehendak?

Karena itulah jika ada yang mengajak berjihad karena meniru “kesombongan” Iblis, jelas itu bukan perintah agama tetapi ajakan sesat sang Iblis. Mau mengaku keturunan nabi atau kiai, jika ajakan itu tidak dilandasi cinta “Basmalah”, maka bisa dipastikan itu ajakan Iblis.

Pelaku pembunuhan pertama manusia adalah anak nabi Adam yang tergoda rayuan Iblis. Maka sekali lagi siapapun dia apalagi kalau cuman mengaku-ngaku habib, Gus, ustadz ataupun ulama, jika perilakunya tidak mencerminkan “Basmalah”, bisa dipastikan dia sedang mabuk nafsu kuasa seperti Iblis. Maka setiap ajakan jihadnya hanya akan membawa ke jurang kemurkaan kepada Allah dan bukan ke ridha Allah SWT. (*)

Tawangsari, 1 Desember 2020

Muhammad Khodafi, Dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya.