Fikrah

Pesantren dan Peran Santri Versus Ustaz Selebritis

Selasa, 29 Desember 2020 11:30 wib

...
Santri tengah mengaji Kitab Kuning di komplek Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, 30 Mei 2017 (santrinews.com/antara)

Kalian orang modernis salafi kok malah bingung.

Dalam hampir lebih dua dasawarsa terakhir ramai sekali perdebatan tentang peran alumni pondok pesantren yang mulai tergusur dengan hadirnya ustadz selebritis dan ustadz kampus (alias produk perguruan tinggi umum).

Ikutilah dialog Paijo dan Jama’ah salafi berikut ini.

Jama’ah: “Jo, kayaknya para ustadz pesantren mulai tidak menarik perhatian masyarakat kota dan bahkan di desa-desa yang sudah maju. Sekarang giliran ustadz seleb dan kampus yang salafi yang ramai dijadikan rujukan bergama. Bagaimana menurutmu?”

Baca juga: Santri, antara Riwayah dan Dirayah

Paijo: “Jujur saja saya tidak terlalu paham dunia pesantren dan perguruan tinggi, tapi saya bisa merasakan bahwa sekarang memang sedang terjadi pendangkalan “ilmiah” di kedua lembaga pendidikan tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sudah sedikit sekali santri dan mahasiswa yang secara serius memahami hakikat ilmu sekaligus pengetahuan. Padahal kedua lembaga itu seharusnya bisa melahirkan “ulama” yang tidak saja menguasai ilmu tetapi juga sekaligus pengetahuan.”

Jama’ah: “Waduh Jo, kok jadi bingung saya, bisakah kamu menjelaskan dengan cara yang lebih sederhana?”

Paijo: “Lha katanya kalian orang modernis salafi kok malah bingung. Begini lho kang; seorang ulama harusnya merupakan orang yang bijak (karena memiliki pengetahuan) dan tawadhu’ (karena berilmu), karena dia tahu ilmu memiliki dimensi spiritualitas yang terkadang tidak rasional. Ilmu adalah cahaya, itulah yang dahulu ditekankan untuk dipahami oleh setiap santri pesantren. Siapapun akan susah memahami konsep ilmu sebagai cahaya dengan nalar rasional. Karena itulah para santri lebih suka mengejar ilmu dengan cara riyadlah yang kadang tidak masuk akal. Sehingga terkadang para santri “lupa” sisi pengetahuan dari ilmu yang membutuhkan nalar rasional. Sedangkan para mahasiswa terlalu sibuk “mengumpulkan” pengetahuan sehingga lupa terhadap hakikat ilmunya yang mengandung sisi irasional atau spiritual.

Jama’ah: “Lantas hubungannya dengan kami ini apa, Jo?”

Paijo: “Kalian kan yag sering mengaku lebih modernis, padahal masyarakat modern itu dibangun dengan paradigma pengetahuan yang rasional untuk kepentingan material. Akibatnya ustadz kampus yang menekankan pada aspek simbol material sekarang lebih “laku”, ketimbang ustadz pesantren yang masih belum terbiasa melampaui teks yang mereka kuasai, sebab terlalu sibuk mencari “kegaiban” ilmu.”

“Padahal masyarakat membutuhkan kedua aspek ilmu dan pengetahuan secara seimbang. Karena itulah ke depan kalian yang alumni pesantren harus menambah wawasan pengetahuan dengan sungguh-sungguh tanpa meninggalkan akar keilmuan kalian. Sedangkan para sarjana harus mulai memikirkan hakikat ilmu, sehingga tidak terjebak pada nalar meterial yang juga menipu.” (*)

Muhammad Khodafi, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.