Fikrah

Imam Al-Ghazali Plagiat?

Rabu, 21 April 2021 00:30 wib

...

Kisah tentang kejeniusan Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali sudah masyhur di antara para pengkaji. Di masa belianya, ada cerita di mana Al-Ghazali dirampok oleh begal dan kitab-kitabnya diambil.

Ia disindir oleh begal itu karena ilmunya Al-Ghazali hanya dalam buku (sutur) bukan di dalam hati (shudur). Setelah itu Al-Ghazali mengubah metode belajarnya dari membaca saja menuju ke menghapal dan memahami.

Kisah itu yang kadang menuntun saya dalam mencari alasan kenapa sebagian kitab Al-Ghazali adalah salinan dari kitab filsuf atau ilmuan sebelum dirinya. Setidaknya ada tiga kitab yang sementara ini saya ketahui mengandung unsur ‘salinan’ itu.

Pertama, ‘al-Munqidz min al-Dhalal’. Kedua, ‘Ma’arij al-Qudsi’. Ketiga, ‘ar-Risalah al-Laduniyyah’. Di dalam ketiga kitab ini ada tingkatan salinan, dari yang sekadar meminjam metode penulisan, sampai ‘plagiasi’.

Syekh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya Qadhiyyah at-Tashawwuf al-Munqidz min al-Dhalal menyatakan bahwa metode penulisan kitab Al-Ghazali yang ditahkik beliau diilhami oleh kitabnya Al-Muhasibi, yaitu mukadimah kitab al-Washaya.

Tidak sekadar ilham, Al-Ghazali meminjam logika kepenulisan, yakni mengawali bukunya dengan kegelisahan akan adanya banyak kelompok Islam dan kutipan hadis nabi yang masyhur itu kemudian bercerita tentang pencariannya akan kebenaran. Al-Muhasibi, sufi sebelum Al-Ghazali memakai metode yang sama, meskipun kitabnya lebih tipis dari kitab Al-Ghazali tersebut.

Pentahkik karya-karya Al-Ghazali dan Ibn Sina, Sulaiman Dunya, dalam bukunya al-Haqiqah di Nadzr al-Ghazali menyatakan bahwa kitab Ma’arij al-Qudsi banyak menyalin kalimat bahkan alinea (bukan hanya kata dan definisi) dari kitab an-Najat karya Ibn Sina.

Melalui studi filologis yang ketat dan perbandingan yang akurat, Sulaiman Dunya sampai pada kesimpulan bahwa kebenaran sejati menurut al-Ghazali termuat dalam dua kitabnya: (i) al-Madhnun bih ‘ala Ghairi Ahlih (disebut al-Madhnun al-Shaghir), dan (ii) Ma’arij al-Qudsi (disebut al-Madhnun al-Kabir).

Kedua kitab inilah yang mendapat banyak inspirasi dari filsafat dan tasawuf Ibn Sina (sinawiyyah). Di titik ini, menurut Dunya, Al-Ghazali belum bisa lepas dari konten dan metode filsafat yang telah ia bantah dalam ‘Tahafut al-Falasifah’.

Dr Hasan Ashi mengumpulkan risalah Ibn Sina dalam kitab at-Tafsir al-Qur’ani wa al-Lughah al-Shufiyyah. Di antara banyak risalah, Dr Hasan menemukan satu risalah berjudul al-‘Ilm al-Ladduni. Risalah ini berasal dari naskah yang berada dalam maktabah hamidiyyah, bernomor 2/1452, jumlah halaman 23 ½, jumlah baris tiap halaman adalah 29 baris, dan mayoritas tiap baris memuat 9 kata. Di mukadimah kitab ini, Dr Hasan tidak menyinggung soal risalah Al-Ghazali yang berjudul ar-Risalah al-Ladduniah meskipun kedua naskah ini sangat mirip. Tingkat kemiripannya, ketita saya bandingkan sendiri, kisaran 90%. Percaya atau tidak itulah kenyataannya.

Dari sini kita akan kembali lagi ke kisah di awal tulisan ini. Saya mencari sebab kenapa Al-Ghazali mentranskrip kitab orang lain dengan tingkat kemiripan yang sedemikian rupa. Apakah karena hapalannya sungguh kuat sehingga ketika menulis ia tidak sadar sedang menulis apa yang dia hapal dari kitab orang lain? Premis ini masih butuh kajian mendalam.

Beberapa tokoh sejarah dan pengkaji Al-Ghazali menyatakan bahwa kesibukan Al-Ghazali dalam ‘rihlah ilmiah’ dan mengajar santrinya merupakan alasan kenapa Al-Ghazali tidak sempat mengedit kebanyakan kitabnya. Konsekuensi dari ketiadaan kesempatan mengedit adalah munculnya kecenderungan plagiasi yang barangkali di waktu itu sangatlah lumrah dan wajar namun sekarang menjadi masalah yang serius.

Premis saya dan beberapa klaim Sulaiman Dunya akan batal jika ada kajian yang berhasil menunjukkan bahwa kitab Ma’arij al-Qudsi bukanlah kitab Al-Ghazali, atau ada kajian tandingan yang menunjukkan bahwa risalah al-‘Ilm al-Ladduni yang ditahkik oleh Dr Hasa Ashi bukanlah risalahnya Ibn Sina.

Jika ada yang berhasil membuktikan dua hal ini, tuduhan ‘plagiasi’ yang dialamatkan kepada Al-Ghazali akan hilang dan para pengkaji tentunya akan fokus pada pemikiran Al-Ghazali berdasarkan kitab-kitab yang disepakati merupakan buah tangannya sendiri. (*)

M.S. Arifin, penyair, esais, cerpenis, penerjemah, dan penyuka filsafat. Lahir di Demak 25 Desember 1991.