Fikrah

Afghanistan dan Sisi Teologis Taliban

Jum'at, 20 Agustus 2021 11:30 wib

...
Para perempuan Afghanistan ketika berlatih menggunakan senapan serbu AK-47 dalam program pelatihan di Chennai, pada 18 Februari 2021

Dalam minggu ini, berkaitan dengan penguasaan kembali Afghanistan oleh Taliban, saya melihat pelbagai siaran TV internasional, baik yang berbasis di Eropa seperti BBC, TV Prancis, TV Russia maupun Cina, secara bergantian, dalam pemberitaan mereka soal Taliban.

Sudah barang tentu, cara pemberitaan mereka berbeda-beda. Tapi ada satu hal yang mereka sering sebut yakni soal afiliasi teologis dari Taliban. Mereka sering menyebut Hanafite and Deobandis. Ya, Taliban ini memang menganut madzhab Hanafi dan juga punya kaitan dengan Deobandi.

Lalu selanjutnya saya bertanya, bagaimana sebuah kelompok yang menganut madzhab Hanafi, madzhab paling rasional di dalam Islam, memerintah dengan cara yang sadis, memenjarakan perempuan sebagai misal, padahal fiqih Hanafi memberikan ruang publik yang cukup luas bagi perempuan. Ini salah satu contoh dari banyak contoh ekstrim dari governing model Taliban.

Bagaimana dengan Deobandi yang di India memiliki cara pandang tajdid, tapi sampai ke Taliban begitu rigid dan hampir mendekati rigiditas kaum salafi?

Dalam sejarah perkembangan fiqih, di antara empat madzhab fiqih yang masih ada, madzhab Hanafi adalah madzhab yang terbuka karena penggunaan ra’yu (pandangan akal). Madzhab Hanafi ini memang menjadi madzhab resmi di Kawasan negara-negara Asia Selatan seperti India dan Pakistan, dan juga beberapa negara Asia Tengah.

Taliban bermadzhab Hanafi karena para pendiri faksi ini memang belajar di Darul Ulum Deoband, lembaga pendidikan Islam terbesar di dunia Sunni setelah al-Azhar Mesir. Taliban yang memiliki arti murid dalam Bahasa Arab itu terkait dengan madrasah di Pakistan dan ini merupakan kepanjangan dari madrasah Deoband. Besar kemungkinan, dari sisi sejarah ini, nama Taliban digunakan karena mereka, para pendiri, tokoh dan aktivis Taliban adalah para murid atau santri dari madrasah Deoband.

Syaikh Waliyullah Dehlawi (1703-1762), seorang sufi dan sekaligus sarjana besar Muslim dari kawasan Asia Selatan adalah bapak spiritual Darul Ulum. Deoband sendiri merupakan kota kecil di wilayah provinsi Uttar Pradesh, di India.

Sebagai lembaga pendidikan, Darul Ulum memiliki tiga tujuan penting pendiriannya; 1) memajukan peranan agama dalam kehidupan pribadi dan umum, 2) bebas dari penindasan baik oleh kaum kolonial maupun diktator dalam negeri, dan 3) kesederhanaan (simplicity) dan kerja keras. Para tokoh lulusan Deoband ini memiliki sumbangan besar dalam pembebasan India dari kolonialisme Inggris.

Lalu bagaimana dengan Taliban? Ada ungkapan yang menarik bahwa setiap orang Afghanistan adalah seorang Deobandis (every Afghan is a Deobandi). Setelah Pakistan menjadi negara sendiri pada 1947, cabang-cabang Darul Ulum Deoband banyak didirikan di seluruh negeri ini.

Sentuhan politik, bertambah pada Deoband Pakistan karena konteks Pakistan sebagai negeri baru saat itu. Mereka mulai melihat kasus-kasus penindasan masyarakat Muslim di India seperti Kashmir. Madrasah Deoband Pakistan ini banyak berdiri di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan. Jadi wajar apabila orang-orang Afghanistan banyak yang belajar di sini.

Sebagai murid dari Deoband, Taliban ini gambaran kontradiksi diri madrasah Deoband. Darul Ulum Deoband dikenal sebagai pembaharu dan mengutamakan ajaran-ajaran sufistik, bahkan cenderung rasional karena aliran kalam mereka adalah Maturidi yang agak dekat Mu’tazili, sementara Taliban di Afghanistan dalam operasi politik dan pemerintahan mereka cenderung dekat pada model al-Qaeda bahkan mungkin ISIS.

Ternyata hal ini bisa terjadi, menurut beberapa analisis, karena Taliban ini belajar Islam lebih banyak di Madrasah Deoband yang berada di Pakistan, yang berbeda dengan Deoband pusat di India. Mullah Omar, pendiri Taliban, misalnya belajar di Darul Ulum Haqqania, Peshawar, Pakistan. Meskipun lembaganya Darul Ulum, para pengajar mereka di Pakistan, lebih banyak dari kalangan Wahhabi dan Mujahidin.

Apa yang saya kemukakan di atas mungkin salah satu penjelasan saja yang mungkin luput dari pembicaraan masalah Taliban di negeri kita. Dominasi Barat –Amerika dan Inggris—terutama mungkin bisa menjadi penjelas euphoria Taliban kali ini dan itu boleh saja. Misalnya Taliban berhak mengatur negeri mereka sendiri, tanpa intervensi dari pihak kolonial baru, Taliban adalah model kemenangan syariah Islam dan lain sebagainya.

Meskipun awal kemunculan Taliban itu lebih merupakan moral force untuk memerangi penguasa Mujahidin yang korup dan lain-lain, tapi kita tahu bahwa Taliban, secara teologis, sejak kemunculannya itu juga menjadi masalah bagi kelompok teologis Afghan yang lain.

Pendek kata, pendekatan sosial, politik dan macam-macam lainnya, itu memang bisa menjadi penjelas namun tetap itu tergantung kita melihatnya dari titik pandang yang mana.

Sisi teologis, menurut saya adalah cara pandang yang cukup lumayan. Bagaimana melihat Taliban dari sisi ajaran-ajaran yang mereka anut, sumber-sumber dan pengajar-pengajar yang mereka rujuk, dan lain sebagainya. Corak penafsiran syariah yang violent dan ektremis dari Taliban lebih mudah dijelaskan lewat ini daripada lewat penjelasan-penjelasan lain.

Saya setuju jika Taliban adalah fenomena yang komplek, namun saya tidak setuju jika fenomena yang komplek menghapus kenyataan bahwa mereka menjalankan pemerintahan syariah versi mereka yang merugikan umat manusia Afghan yang lainnya. (*)