Fikrah

Saudi, Salafi, Wahabi

Sabtu, 02 Oktober 2021 09:30 wib

...

Banyak orang bingung membedakan antara Saudi, Salafi, dan Wahabi. Wahabi adalah sebutan umum untuk pengikut atau orang-orang (umat Islam) yang terpengaruh atau terinspirasi oleh pandangan dan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab (w.1791), seorang pembaru dan teolog Muslim dari kawasan Najd, Arabia tengah, yang kini menjadi Riyadh dan daerah sekitar. Ia dikenal sebagai pembaru atau reformis garis keras.

Kata “Wahabi” itu diambil dari nama Muhammad bin Abdul Wahhab ini. Kata “Wahabi” itu sebetulnya disematkan oleh orang luar. Para pengikut setianya dulu menyebutnya “ahlu tauhid” atau “muwahhidun” karena inti pemikiran dan gerakan Ibnu Abdul Wahhab adalah pemurnian ajaran tauhid atau ke-Esa-an Tuhan. Kata “muwahhidun” (berakar sama dengan kata “wahid” yang berarti satu/esa) bermakna orang-orang yang berjuang mengesakan (Tuhan) atau memperjuangkan “01”.

Kenapa pemurnian tauhid? Karena dulu di wilayahnya banyak praktik-praktik keagamaan yang ia anggap sebagai “syirik” atau “penyekutuan terhadap Tuhan”.
Meskipun pandangan-pandangan Ibnu Abdul Wahhab yang konservatif-puritan itu banyak diinspirasi oleh para sarjana dan reformis Islam militan-konservatif abad pertengahan seperti Ahmad bin Hanbal (w. 855), Ibnu Taimiyah (w. 1328), dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah (w. 1350), tetapi Muhammad Hayyat al-Sindhi (w. 1750) sebetulnya yang banyak mempengaruhi dan membentuk Muhammad bin Abdul Wahhab.

Al-Sindhi, kelahiran Indo-Pakistan yang kemudian hijrah ke Madinah, adalah guru dan mentornya saat Ibnu Abdul Wahhab belajar di Madinah.

Kini, umat Islam yang terinspirasi atau terpengaruh pemikiran dan pandangan Ibnu Abdul Wahhab ada dimana-mana bukan hanya di Saudi saja. Meskipun begitu, kaum “Wahabi” (sengaja saya pakai tanda kutip karena sebutan ini tidak dipakai oleh pengikut Ibn Abdul Wahhab sendiri) kontemporer tidak memiliki pandangan, pemikiran, dan praktik keagamaan serupa. Ada cukup banyak varian dalam kelompok “Wahabi”: ada yang militan-radikal, ada pula yang moderat-progresif. Ada juga yang “Wahabi pragmatis” atau “Wahabi elastis” (“menjadi Wahabi” untuk memuluskan jalan dan tujuan sosial-ekonomi-politik tertentu).

Bagaimana dengan Salafi? Salafi artinya kelompok (umat Islam) yang mengklaim mengikuti ajaran, pandangan, pemikiran, dan tindakan para generasi Islam awal (para sahabat, tabi’in, atau tabi’it tabi’in) yang mereka pandang sangat “otentik” dalam berislam. Kata “salafi” sendiri berarti “leluhur” atau “kakek-nenek moyang”.

Kaum Salafi mengandaikan atau mengimajinasikan kalau generasi Muslim awal tersebut sangat saleh dan salehah (karena itu mereka sering menyebut “salafus shalih”), sebuah imajinasi yang berlebihan atau overdosis sebetulnya karena banyak generasi Muslim awal yang justru belepotan dengan kekerasan. Dari definisi ini, maka cakupan Salafi lebih luas daripada “Wahabi”.

Lalu, apa hubungannya antara “salafi” dan “selfi”? Hubungannya erat sekali karena banyak kaum salafi yang suka “selfi”.
Lantas bagaimana dengan “Saudi”? Saudi tentu saja merujuk pada warga negara Arab Saudi yang bermacam-macam afiliasi keislamannya seperti layaknya warga negara lain.

Ada Saudi Syiah, Saudi “Wahabi”, Saudi Ismaili, Saudi Sunni, Saudi Syafii, Saudi Sufi, Saudi Zaidi, dan lain sebagainya. Nama “Saudi” itu diambil dari nama Muhammad bin Saud (w. 1765), pendiri Kerajaan Saudi pertama dulu. (*)