Fikrah

Diplomasi Syair Ala Kiai Zulfa Mustofa

Senin, 25 April 2022 03:30 wib

...
Kiai Haji Zulfa Mustofa

Dahulu syair menjadi salah satu sarana dakwah Islam. Nabi memiliki beberapa penyair papan atas.

Formasi kepengurusan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) perlu kita apresiasi. Meski formasi tersebut tentunya tak bisa memuaskan semua pihak, ada beberapa nama yang masuk dan memang kita menaruh harapan untuk mereka.

Alissa Wahid, perempuan energik masuk dalam jajaran ketua. Sebuah posisi yang strategis untuk kaum perempuan. Afirmasi PBNU kepada peran publik perempuan dalam periode ini adalah sebuah terobosan maju. Meski saya sebenarnya berharap, Mbak Alissa harusnya jadi Sekretaris Jenderal.

Kiai Afifuddin Muhajir, seorang kiai dari ujung timur pulau Jawa yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta, yang oleh Kiai Said Aqil Siradj disebut kealimannya mujma alaih diposisikan sebagai Wakil Rais Aam, sebuah posisi yang cukup prestisius. Belakangan, saya tahu bahwa nama Kiai Afif sebenarnya memang “dincar” sejak lama untuk diposisikan dalam posisi jabatan penting.

Nama lain yang tentu tak bisa untuk tak disebut adalah Kiai Zulfa Mustofa. Kiai Zulfa sebenarnya bukan nama baru dalam percakapan Nahdlatul Ulama. Sebelumnya ia masuk dalam jabatan syuriyah. Periode ini, ia diposisikan sebagai wakil ketua umum PBNU, bidang keagamaan. Lagi-lagi dalam sebuah posisi yang amat strategis.

Kiai Zulfa adalah salah satu cicit seorang ulama nusantara yang berkiprah di Mekkah, Syaikh Nawawi al-Bantani. Dengan demikian, ia juga masih kerabat dekat Kiai Haji Ma’ruf Amin, mantan Rais Aam yang kebetulan sekarang ditakdir menjadi wakil presiden.

Kedatangan Kiai Zulfa dalam percakapan baru cukup menghentak. Ia menggunakan cara yang cukup jarang dimiliki santri/kiai NU. Saya menyebutnya sebagai diplomasi syair.

Diplomasi syair sebenarnya adalah sejarah peradaban Islam zaman dulu. Dahulu syair menjadi salah satu sarana untuk dakwah Islam. Nabi memiliki beberapa penyair papan atas, seperti Hassan bin Tsabit, Kaab bin Malik, dan Abdullah bin Rawahah.

Tiga penyair utama ini bertugas melawan penyair kafir yang menyerang Islam. Para penyair yang sering menjelek-jelekkan Islam seperti al-Zibakra, Abu Sufyan bin al-Haris, Amr bin Ash dan Dhirar bin al-Khattab.

Suatu waktu nabi pernah berkata: “Apa yang menghalangi suatu kaum yang mereka menolong nabi dengan pedang mereka untuk menolong nabi dengan lisan mereka?”

Dari kejauhan, seorang laki-laki berkata:

“Biar aku saja yang melakukan itu (membela nabi dengan lisan),” ujar laki-laki sembari memberi isyarat kepada lisannya. Belakangan laki-laki itu dikenal dengan Hassan bin Tsabit.

Kiai Zulfa memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu arudh dan sastra bahasa Arab, sebuah ilmu yang konon kabarnya belakangan kurang mendapat perhatian. Ia menulis syair bahkan menulis kitab berbahasa arab cukup tebal. Padahal konon ia hanya belajar di pesantren Jawa, tepatnya Maslakul Huda, Kajen, Pati. Ia tak pernah belajar di Timur Tengah; tidak di Mekkah, Mesir, Yaman, tidak pula Suriah.

Ini sebenarnya bukan fakta baru. Terlalu banyak, lulusan pesantren lokal Indonesia tetapi memiliki kaliber dunia. Selain nama Kiai Zulfa ada nama Kiai Afifuddin Muhajir, yang juga memiliki keahlian bersyair dan kemampuan bahasa Arabnya pernah dipuji Syaikh Ibrahim Shalah al-Hud-hud, Guru Besar Ilmu Balaghah Universitas al-Azhar, Mesir.

Menarik, bagaimana Kiai Zulfa dalam hampir setiap momen menjadikan syair sebagai “bahan utama” dalam menyampaikan gagasannya. Dalam acara NU, acara kenegaraan, bertemu seorang kiai dan saat menulis buku.

Namun momen diplomasi syair Kiai Zulfa yang paling romantis dan menyita emosi saya dan mungkin banyak orang adalah saat penulis buku Tuhfatul Qasi tersebut membacakan syair di hadapan Kiai Syukorn Ma’mun, di Pesantren yang ia dirikan, Pesantren Darul Rahman, Jakarta Selatan.

Kiai Syukron adalah kiai sepuh kharismatik asal Sampang, Madura yang sukses menaklukkan Ibukota. Ia seorang kiai podium yang sangat berpengaruh di masanya. Ia juga politisi papan atas Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Ayah Gus Faiz tersebut termasuk keturunan Bani Ahmad, seorang penyebar Islam dari Jerengoaan, Sampang. Dengan demikian, Kiai Syukron ini juga masih ada ikatan kekeluargaan dengan Kiai Afifuddin Muhajir. Sebab beliau juga berasal dari Bani Ahmad. Nama lain yang berasal dari keluarga ini seperti Nyai Zubaidah Baidhawi, istri Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Cholil Nafis, Kiai Abdurrahman Nafis dan beberapa kiai yang lain.

Kita tahu Kiai Syukron ini dalam beberapa tahun belakangan memang sikapnya sering “ikhtilaf” dengan struktural PBNU. Beliau seorang kiai yang “tegas” dan “jelas” jika memberi sikap, termasuk sikap politik.

Namun sikapnya yang dianggap “keras” dan cukup sering ikhtilaf dengan NU, di hadapan Kiai Zulfa luluh. Kiai Zulfa membacakan syairnya tentang Kiai Syukron di hadapan orangnya langsung. Kiai Syukron fokus menyimak sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya.

Kiai Syukron tampak emosional, saat Kiai Zulfa menyebut keterkaitan beliau dengan NU. Beliau memotong dan menyebut dengan penuh emosional: “Tak pernah saya tak berkhidmah untuk NU”.

Diplomasi model ini penting sekali saat beberapa komunitas NU kultural karena perbedaan politik elektoral cukup menjaga jarak dengan struktural bahkan sesekali berdiri untuk mengkritik. Memang melibatkan NU secara langsung dalam pusaran politik praktis harus dibayar dengan biaya persatuan yang amat mahal.

Acara Nuzulul Quran PBNU, pada Jumat, 22 April 2022, dilaksanakan di Pesantren milik Kiai Syukron Ma’mun. Gus Faiz, putranya juga masuk dalam struktural PBNU. Ini angin segar betapa setajam apapun prefensi politik persatuan atas dasar NU harus dirajut kembali. Persatuan tersebut yang nantinya akan menjadi modal besar untuk mewujudkan program-program NU.

Pada tahap ini, kita bersyukur nama Kiai Zulfa mulai dipercakapkan publik. Keilmuan yang mendalam dan emosi ketokohannya yang sangat matang menjadikannya seorang kiai yang ceramah-ceramahnya bernas, tegas dan mengandung banyak pencerahan.

Yang terbaru, beliau diundang pemerintah untuk memberikan ceramah Nuzulul Quran di hadapan Presiden dan pejabat negara. Isi ceramahnya bagus, khas pesantren dan tak ketinggalan, Presiden dan wapres menjadi “korban” selanjutnya syair dahsyat Kiai Zulfa.

Kiai Zulfa membuatkan syair untuk Presiden Jokowi dan Wapres Kiai Ma’ruf Amin sekaligus membacakannya. Selain nama-nama di atas, beberapa nama lain yang pernah “dirayu” beliau dengan syairnya adalah Kiai Ilyas Ruhiat dan keluarga Cipasung dan Kiai Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU.

Beberapa bulan yang lalu, ada seorang penceramah yang katanya viral diundang sebuah acara Kemenag. Dan setelah acara itu ia “tersandung” sebuah polemik yang hingga kini tak selesai. Kritik berdatangan dari berbagai arah. Namun oleh pembelanya, kritik itu konon muncul karena mereka iri sebab ia diundang pemerintah.

Sebuah asumsi yang sebenarnya kurang berdasar sebab Kiai Zulfa hari-hari ini juga diundang Pemerintah dan tak ada kritik untuknya. Lebih jauh dari itu, Kiai Hasyim Muzadi, Habib Jindan dan beberapa nama lain juga pernah diundang pemerintah tetapi mereka tak mendapat kritik terkait pemikiran keagamaannya. Jikapun ada, kritik lebih kepada sikap politiknya.

Terimakasih Kiai Zulfa dan semoga panjenengan terus berkiprah dengan ilmu khas pesantren untuk ruang-ruang publik, sebagai corong syiar intelektual santri di Indonesia. (*)

Ahmad Husain Fahasbu, Lulusan Ma’had Aly Situbondo. Kini jadi dosen muda di Ma’had Aly Paiton, Probolinggo.