Fikrah

Upaya Pengkaburan Makna Kesekian Kalinya Syariat Islam

Selasa, 08 Januari 2013 09:00 wib

Mengingat kembali pidato salah satu Tokoh Pembicara di salah satu Radio Swasta di Kota Situbondo ( pukul 05.00 WIB, 07 januari 2012 ), tentang nikah siri halal tetapi haram, topik ini seperti tiada henti-hentinya untuk dibahas, diperbincangkan pada setiap forum keagamaan ataupun disela rutinitas cangkrukan anak-anak muslim dan tokoh-tokoh muslim yang senantiasa mengamati syariat-syariat islam yang mulai kabur dan menyebar dimasyarakat. Ditambah lagi dengan kabar terkuaknya salah satu pejabat di Indonesia, yaitu Bupati Garut-Aceng yang melakukan nikah siri.

Seakan tiada habis-habisnya menjadi perdebatan sengit diatas pro-kontra pendapat para Muslim yang saling teguh dengan pendapatnya masing-masing karena dengan alasan-alasan. perlu kita ketahui kembali bahwasanya Kata siri berasal dari bahasa Arab yaitu ”sirri” atau ”sir” yang berarti rahasia, rahasia disini bukan berarti tidak diketahui siapapun, karena disitu ada saksi wali, dan modin (istilah madura bagi orang yang mengawinkan seseorang yang menikah), otomatis ada yang mengetahui pernikahan sirri tersebut (ada yang menyaksikan secara langsung).

Keberadaan nikah siri
dikatakan sah secara agama tapi tidak sah menurut negara karena
pernikahan tidak dicatat di KUA. nikah siri dipahami sebagai pernikahan yang dilakukan berdasarkan ketentuan hukum islam. adanya RUU yang mengatur sanksi bagi nikah siri pada awalnya dilakukan
dengan alasan bertujuan untuk melindungi status anak dan istri
yang banyak dirugikan pada kasus nikah siri. Dengan melihat tujuan
dari RUU tersebut. Karena selama ini anak-anak maupun
istri-istri hasil nikah siri tidak memiliki kekuatan hukum.

Namun pengertian nikah siri yang dimaksud halal berarti haram itu tidak dimaksudkan adalah dapat merubah syariat islam, artinya nikah siri ketika dikatakan haram (pembicara diatas) lalu masyarakat muslim yang sudah menjalankan pernikahan siri dan belum dicatat di KUA lalu haram, maka akan dikatakan melakukan perzinaan. karena pada dasarnya hukum yang dijadikan dasar pada RUU di Negara ini hanya haram secara Perdata, namun tetap tidak haram menurut agama ( tidak menimbulkan dosa karena dianggap melakukan perzinaan ketika melakukan aktifitas bersama) dengan dasar nikah sirri yang dilakukan sesuai dengan syarat sahnya rukun Nikah (nikah siri dengan pemahaman ini tetap mempersyaratkan adanya wali yang sah, saksi, ijab-qabul akad Nikah, dst) walau tidak tercatat di KUA maka hukumnya tetap sah menurut Agama, ini sesuai dengan hadits :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa: 59)

Jadi, nikah sirri itu sah daripada pada saat ini berakarnya budaya Kumpul kebo yang jelas-jelas itu sebuah tindakan perzinahan. namun bagaiamanapun seorang muslim yang bagaimanapun bagi muslim-muslim yang melakukan Nikah sirri tidak boleh seenaknya saja melakukan hal-hal yang tidak baik. karena, setelah melakukan nikah sirri masih ada hukum-hukum syariat islam yang mengatur hak-hak serta kewajiban suami-istri dan hukum keluarga didalam islam. jadi mulailah dengan Niat Nikah sirri bahwa semata-mata karena Allah SWT, bukan bersumber kepada hawa nafsu manusia semata karena hal itu akan menjerumuskan pada kehinaan. karena itu kebenaran yang hakiki hanyalah yang bersumber dari Allah, tuhan yang menciptakan manusia dan paling tahu aturan  mana yang paling baik untuk manusia. untuk lebih baiknya daftarkan juga di KUA, agar kelak anak-anak kita mendapatkan hak-hak dari negara. Allahu Akbar . . .

penulis: Moh. Ridwan

salah satu mahasiswa PTN di Surabaya, Jurusan Manajemen Pendidikan